13 views

Media Kurang Kritis Beritakan Rekam Jejak Calon

HARIANFOKUS.com – Pers dinilai belum kritis dalam memberitakan rekam jejak calon kepala daerah. Media harus tegas memisahkan antara iklan dan berita sehingga tidak membingungkan pemilih.

Demikian benang merah yang dapat diambil pada diskusi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung bertajuk Media Kritis, Pilkada Demokratis, Sabtu (26/8). Diskusi yang digelar di Sekret AJI Bandar Lampung ini dihadiri jurnalis, aktivis NGO, blogger, seniman, dan mahasiswa.

Anggota KPU Lampung Handi Mulyaningsih mengatakan pemberitaan media hanya sebatas siapa saja calon yang akan maju dalam pemilihan kepala daerah, tapi tidak mencoba menggali lebih kritis tentang rekam jejak masing-masing kandidat.

Ia menilai media tidak menganalisis secara lebih tajam program setiap calon kepala dearah. Akibatnya pemberitaan yang dibuat tidak memberikan informasi yang menyeluruh tentang kelebihan dan kekurang kandidat.  “Yang dikritik hanya sebatas poster yang dipasang di pohon-pohon, tidak pada substansi program lingkungan yang diusung calon,” kata dia.

Sekretaris DPD PD Lampung Fajrun Najah Ahmad saat menyampaikan pemikirannya dalam diskusi AJI Bandarlampung.

Sekretaris DPD Partai Demokrat Lampung Fajrun Najah Ahmad menilai media sebagai institusi idealis dan bisnis. Pers dituntut untuk menjaga idealismenya disamping mengembangkan usahanya agar bisa bertahan hidup.

Pers, kata dia, tidak boleh kehilangan sikap kritisnya meskipun mendapat iklan dari calon kepala daerah. Harus tegas dipisahkan antara berita dan iklan sehingga tidak bias. “Media harus menyampaikan rekam jejak tokoh yang akan maju dalam pilkada. Rekam jejak dalam kapasitas kepemimpinan bukan,” kata Fajar, sapaan akrabnya.

Fajar mengimbau media dan jurnalis harus cerdas dan kritis dalam memberitakan peristiwa agar tidak menjadi alat untuk membunuh karakter calon tertentu. Misalnya ada demo di kejaksaan yang menuntut calon tertentu dihukum.  Kalau memang demo untuk sarat dengan kepentingan politik, tidak perlu diberi ruang.

Pemimpin Redaksi Duajurai. co Juwendra Asdiansyah pers memiliki empat fungsi; sosialisasi, informasi, edukasi, dan kontrol sosial. Namun, faktanya media hanya fokus menyosialisasikan calon, tapi tiga fungsi yang lain tidak dilakukan secara maksimal. Media harus membuka rekam jejak calon karena kandidat cenderung menyampaikan kelebihan. “Calon hanya sampaikan yang bagus-bagus saja, medialah yang bisa membuka rekam jejak mereka,” kata dia.

Menurut dia, media saat ini hanya menjalankan rutinitas saja dan wartawan tidak ada bedanya dengan tukang. Pemberitaan media saat ini tidak didasari pemahaman yang baik tentang fungsi pers. Pers diperbolehkan berpihak pada kolom tajuk rencana atau editorial, bukan di sajian berita. Namun, faktanya keberpihakan itu sangat terlihat jelas dalam berita-berita yang ditulis.

Produk berita yang dihasilkan media, kata dia, cenderung seragam tanpa proses verifikasi yang memadai. Jurnalis hanya sekadar memberitakan siaran pers yang kadar nilai beritanya sangat rendah. Media saat ini gagal mengemban tugas sucinya untuk menyampaikan fakta secara mendalam dan utuh. Wartawan harus berefleksi kenapa menjadi wartawan dan untuk apa pers itu ada.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Lampung Toni Wijaya menerangkan dukungan media terhadap media bukan karena faktor ideologis seperti pers di Amerika. Namun, media mendukung calon karena faktor praktis dari sisi pendapatan. Di Amerika ada media yang sangat kanan dan mendukung Donald Trump. Dukungan ini diberikan karena media ini memiiki kesamaan idelogi.

Menurut dia, orang memilih calon dalam pilkada buka karena referensi media arus utama. Media sosiallah yang saat ini banyak dijadikan referensi dalam menentukan pilihan. Selain medsos, faktor yang menentukan pilihan adalah kedekatan atau  referensi orang dekatnya.(win)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *