20 views

Siwek Berqurban

 PAS azan maghrib tadi Gilang baru sampai di rumah. “Ngapain aja kok sampe seharian gini di sekolahan, dek?!” sapa Dinda yang tadi pagi baru sampai di rumah dari Bandung.
“Nyiapin acara qurban besok, mbak?!” ujar Gilang.
“Kok sampe sore gini, emang apa aja yang disiapin?!”
“Ya banyaklah yang disiapin, mbak! Mulai dari cetak kupon penerima daging qurban, ngecek hewan-hewan yang mau dipotong besok sampe ke urusan penjagalnya!”
“Ya itu kan emang sudah rutin tiap idhul adha, dek! Tinggal mantepin aja!”
“Justru mantepinnya itu yang banyak nimbulin masalah, mbak?!”
“Apa masalahnya?!” tanya Dinda.
“Temen-temen sekelas adek pada minta kupon daging masing-masing lima kupon! Kebayang nggak sama mbak, sekelas itu kan ada 20 siswa, jadi ada 100 kupon yang buat mereka aja! Padahal, hewan yang mau dipotong cuma seekor sapi sama dua ekor kambing! Sapinya pun kecil, kambingnya juga kurus-kurus! Kalo 100 kupon sudah buat temen sekelas, terus yang dibagikan untuk kaum dhuafa yang ada di sekitar sekolahan, berapa lagi?!” kata Gilang.
“Kok banyak amat temen-temen adek minta kuponnya? Mestinya ya satu aja setiap siswa!”
“Ya itulah masalahnya, mbak! Akhirnya kupon yang tersisa cuma 35 lagi! Bingungkan?! Ini kan niatnya qurban, ya harus ikhlas memberikan daging qurbannya untuk kaum yang membutuhkan! Kenyataannya nggak gitu, mbak! Repotnya, temen-temen juga nggak mau ngertiin!”
“Sebenernya, apa yang adek alami ini sudah lazim dirasain sama orang-orang yang ngurus qurban, dek! Jadi bukan cuma adek yang siwek nggak karuan ngurusin pemotongan hewan qurban itu! Bisa dibilang hampir merata dimana aja pasti terjadi yang beginian! Yang sebenernya nggak lazim dapet daging qurban malah lebih ngotot mintanya ketimbang yang membutuhkan! Dan nggak tanggung-tanggung minta jumlah kuponnya!” tutur Dinda.
“Kok bisa gitu kenapa ya, mbak?!”
“Nggak tau juga mbak pastinya kenapa, dek?! Tapi ya kayak itulah yang terjadi selama ini! Sering kali kita lupa akan hakekat siapa yang paling pantas mendapatkan daging qurban hanya karena kita merasa senang kalo kebagian juga dagingnya! Kesenangan atau kepuasan batin aja sebenernya yang buat banyak orang jadi lupa akan makna sebenarnya qurban itu diberikan untuk siapa! Padahal kita berkemampuan untuk membeli daging sendiri!”
“Aneh juga ya perilaku semacam itu, mbak? Kok demi kepuasan batin aja sampai tega merebut sesuatu yang lebih bermakna buat orang lain!” kata Gilang.
“Ya itulah kehidupan, dek! Acapkali kita menyaksikan hal-hal yang sesungguhnya tidak sewajarnya! Ketidaksewajaran itu justru tanpa kita sadari telah menjadi sesuatu yang kita anggap biasa-biasa aja atau wajar-wajar aja!” ujar Dinda.
“Misalnya kayak mana mbak hal-hal yang sebenernya penuh ketidakwajaran tapi sudah dianggep wajar-wajar aja itu?!”
“Salah satu misal aja ya, dek?! Menjelang idhul adha ini kan ada yang secara khusus menyiapkan sapi untuk dipotong! Disebarkan ke seluruh pelosok daerah kita! Katanya, itu qurban dari pihak yang membagikan hewannya! Tentu, dalam kajian agama, perilaku semacam itu nggak lazim! Bahkan nggak bener! Tapi oleh sebagian besar masyarakat kita, dianggep wajar-wajar aja!”
“Kenapa bisa dianggep wajar-wajar aja, mbak? Kan untuk urusan qurban itu sudah jelas tuntunannya?!”
“Ya karena masyarakat sudah tau maksudnya berbagi hewan untuk dipotong pada idhul adha ini, dek! Bukan sebagai qurban tapi sebagai bentuk mencari simpati masyarakat menyambut pilkada! Jadi, yang jadi patokan bukan tatanan aturan keagamaan, dek! Melainkan sekadar berbagi daging pas di hari raya idhul adha aja! Sekadar ambil momentnya aja, gitu lo dek!” kata Dinda.
“Kalo gitu, gimana dong nilainya dimata Tuhan?!”
“Tuhan punya hak sendiri untuk memberi nilai, bukan kapasitas kita mengukurnya, dek! Yang pasti, dengan adanya pembagian ratusan sapi di masyarakat ini, setidaknya banyak warga selama beberapa hari ke depan bisa menikmati makan daging! Terlepas apakah itu qurban atau sedekah! Emang siwek kalo ngurusin qurban itu, jadi adek nyantai aja, yang penting acara potong qurban besok berjalan baik dan terbagi habis!” sambung Dinda. (¤)
Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *