17 views

Menjelajahi Bekas Tapakan

GILANG terheran-heran saat Dinda memilih tidak segera kembali ke Bandung untuk bersekolah pasca libur Idul Adha.

“Mbak ini aneh lo! Temen-temen mbak aja sejak Minggu siang sudah pada balik ke Bandung biar Senin sudah bisa sekolah, kok malah mbak maunya balik hari Selasa! Jangan kebiasaan izin nggak masuk sekolah, mbak? Nggak bagus itu!” kata Gilang.

“Mbak mau menjelajahi bekas tapakan di sekolahan yang dulu, baru balik ke Bandung, dek!” ucap Dinda.

“Ngapain? Apa yang mau mbak dapetin dari penjelajahan itu? Aneh-aneh aja lo mbak ini!”

“Mau ngenang perjalanan pendidikan sekolah mbak aja, dek!”

“Terus kalo sudah mengenang emang mau apa?” tanya Gilang.

“Ya nggak apa-apa! Mbak cuma pengen dengan menjelajahi bekas tapakan, mbak bisa dapatkan nilai-nilai semangat untuk terus belajar guna meraih sukses nantinya!” ucap Dinda.

“Kenapa nggak kemarin-kemarin kalo mau ngejelajah di sekolah yang dulu, mbak? Kenapa harus nunggu Senin, padahal mbak kan harusnya sudah masuk sekolah?!”

“Kan kemarin-kemarin itu libur sekolahnya, dek? Jadi ya ngapain menjelajahi bekas tapakan di hari libur? Nggak seru dong!”

“Sebenernya ya nggak apa-apa, mbak? Justru bisa lebih enak mbak ngejelajahnya! Kan nggak ada yang ngeliat, paling izin pak satpam penjaga sekolah aja!” tutur Gilang.

“Nggak seru tau, dek! Kalo pas waktunya sekolah gini, kan suasananya juga bisa mbak nikmati! Penjelajahan itu kan nggak cuma soal lokasi, tapi juga suasananya!”

“Ah, sok melankolis itu mah, mbak? Terus yang mau mbak lakuin sebagai penjelajahan itu apa aja?!”

“Mbak mau kitari seluruh sekolahan, dek! Utamanya tempat-tempat yang bagi mbak punya makna! Mulai ruang kelas, ruang guru, kantin, sampai ke toilet!” kata Dinda.

“Aneh, mbak ini bener-bener aneh! Lebih milih duluin urusan penjelajahan bekas tapakan ketimbang masuk sekolah di hari pertama pasca liburan Idul Adha!”

“Ya nggak anehlah, dek! Bagi orang-orang yang memahami betapa kehidupan ini berproses, bagi orang-orang yang dengan kesadarannya menginsyafi bahwa keberadaannya sekarang ini melalui beragam situasi dan kondisi, apa yang mbak lakuin ini sebenernya hal yang biasa-biasa aja, dek!

“Tetep aja dimata adek itu aneh, mbak! Bukan hal yang biasa-biasa aja!” sela Gilang.

“Karena adek belum sepenuhnya memahami kehidupan, maka adek anggep penjelajahan bekas tapakan itu hal yang aneh! Tanyalah pada orang-orang besar yang sukses dalam kariernya, mereka pasti sering merindukan bisa menjelajahi lagi tempat-tempat atau suasana-suasana yang turut memberi pengaruh dalam kehidupannya saat ini!” kata Dinda.

“Ah, masak sih, mbak? Setau adek, kalo orang sudah jadi besar dan sukses kariernya, malah ngelupain lo dengan tapakan-tapakan sebelumnya?!”

“Mungkin bukan ngelupain, dek! Tapi nunggu waktu yang pas dan senggang aja! Karena pada hakekatnya, sebesar apapun seseorang, sehebat apapun seseorang, sekuasa apapun seseorang, hati nuraninya tetep tak bisa ngelupain gitu aja akan hal-hal yang pernah ditapakinya! Apalagi kalo segala kebesarannya itu berkait langsung dengan kehidupan orang banyak!” ujar Dinda sambil mengajak Gilang menemaninya menjelajahi bekas tapakan di sekolahannya yang dulu. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *