7 views

Belajar Dari Garuda Nusantara

WAJAH Gilang sempat tampak kecewa ketika pertandingan sepakbola Indonesia vs Myanmar babak pertama usai. “Ah, kalah ini mah!” keluhnya dengan nada kecewa.

“Kan baru babak pertama, dek! Masih ada lanjutannya! Segala kemungkinan bisa saja terjadi! Termasuk tim Garuda Nusantara kita ngalahin Myanmar!” sahut Dinda.

“Ya bener sih, mbak! Masih ada babak kedua! Masih ada kemungkinan tim kita buat masukin gol juga! Tapi liat dong permainan tim kita, kan kocar-kacir gitu! Kordinasi nggak jalan dengan baik di lapangan!”

“Kan pas istirahat begini biasanya pelatih akan mengevaluasi, dek! Sekalian kasih taktik jitu untuk dimainkan di babak selanjutnya! Sabar ajalah, mbak yakin nanti tim kita bisa main lebih baik lagi!” tutur Dinda.

Dan benar saja. Pada babak kedua, tim Garuda Nusantara bermain sangat baik. Masing-masing pemain dengan posisinya terkordinasi apik. Beberapa kali peluang bagus diciptakan. Klimaksnya; dua gol dilesakkan Eggy ke gawan Myanmar. Garuda Nusantara pun menang.

“Tu kan dek! Apa mbak bilang? Waktu istirahat tadi bener-bener dimanfaatin pelatih untuk evaluasi dan kasih taktik jitu! Para pemain juga nyambung! Saling menyadari kalo ini permainan tim! Jadi harus saling back up! Saling menunjang! Mantepin kesepahaman personal untuk kepentingan tim! Akhirnya kan bisa main bagus dan menang!” kata Dinda begitu pluit panjang ditiupkan wasit.

“Iya, alhamdulilah ya mbak?! Akhirnya tim Garuda Nusantara menang! Nggak nyangka adek kalo akhirnya bisa berbalik gini! Bener kata orang, bola itu bundar karenanya nggak bisa diprediksi akhir dari sebuah pertandingan!” ujar Gilang.

“Emang bener, bola itu bundar, dek! Tapi jangan karena alasan klise itu terus kita menafikan taktik pelatih ataupun soliditas tim! Juga yang harus tidak diremehkan adalah semangat juang tinggi para punggawa tim kita! Luar biasa itu!”

“Bener juga ya, mbak! Pelatihnya cermat dan cerdik ya? Dan bisa membangun kebersamaan yang kukuh antar-pemain! Ditambah kehebatannya memompa semangat juang dari anak asuhnya!”

“Emang yang namanya pelatih harusnya begitu, dek! Bisa meracik taktik dengan rancak! Bisa menjaga soliditas tim dan juga terus mengobarkan semangat bagi semua pemainnya!” kata Dinda.

“Jadi pelatihnya harus nongkrong terus dong, mbak?!” sela Gilang.

“Ya nggak gitu juga kali, dek! Pelatih kan punya asisten! Punya perangkat-perangkat lain yang juga bisa didelegasikan untuk meramu taktik yang dia mauin untuk diturunkan ke bawah! Nggak mungkinlah semua harus pelatih yang mikirin sampai yang nentuin! Itu gunanya pelatih punya asisten dan sebagainya itu! Cuma memang, semua harus satu pintu, satu mulut; yaitu maunya pelatih!” sahut Dinda.

“Oh gitu ya, mbak? Nurut mbak, dalam pertandingan selanjutnya, tim Garuda Nusantara bakal menang lagi nggak?!”

“Kalo ngeliat pertandingan tadi, peluang menang itu ada, dek! Cuma memang harus terus diotak-atik taktik yang pas dalam laga selanjutnya! Selain ya semangat pemain tetep harus dipompa! Jangan buru-buru merasa besar kepala atau membusungkan dada! Karena ini pertarungan panjang, bukan sekali dua pertandingan aja!”

“Jadi harus dijaga bener semuanya ya, mbak? Kesiapan strategi, fisik dan mental pemain?!”

“Harus itu, dek! Disinilah peran pelatih bukan saja bagaimana dia memikirkan taktik apa yang akan dipakai pada pertandingan selanjutnya tapi juga pendelegasian sebagian tugas kepada para asisten dan perangkat lainnya agar soliditas dan semangat juang tim asuhannya tetep terjaga! Pelajaran ini yang bisa kita petik dari nonton pertandingan tadi, dek! Bahwa pelatih, asisten, perangkat lain sampai ke pemain itu adalah satu kesatuan! Yang kesemuanya akan bergerak maksimal manakala pelatih selalu cermat melihat perkembangan dan cerdik dalam pembagian penugasan!” ucap Dinda. ( ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *