0 views

Belajar Dari Bachtiar

GILANG mengangguk-anggukkan kepalanya setelah membaca sebuah berita di media cetak. Perilaku tak biasa itu menarik Dinda untuk bertanya; “Baca berita apa sih, sampai ngehayati gitu, dek?!”

Gilang menyerahkan surat kabar ditangannya, ditunjuknya sebuah judul besar. “Oh, soal politik to, kirain apaan?!” sela Dinda.

“Iya, soal partai, soal politik, dan adek tertarik dengan pernyataan Pak Bachtiar Basri ini, mbak!” ujar Gilang.

“Sejak kapan adek tertarik dengan berita politik? Biasanya berita bola aja yang adek perhatiin!”

“Ya baru inilah, mbak! Karena adek baca judulnya terus berminat baca isinya! Ternyata bagus bener!”

“Bagus gimana, dek?!” tanya Dinda.

“Itu Pak Bachtiar Basri kan dilengserin dari ketua partai! Tapi nggak ada sedikit pun pernyataannya yang menyalahkan orang lain! Bahkan berkali-kali dia bilang kalo dia-lah yang salah! Ini kan luar biasa, mbak?!” tutur Gilang.

“Apanya yang luar biasa, dek?!”

“Ya omongannya itu, mbak! Dia bener-bener berjiwa pemimpin! Tidak akan pernah menyalahkan anak buahnya atau orang lain! Sebagai pemimpin, dia tau persis bahwa harus mengayomi, harus memberi rasa nyaman pada semua yang dipimpinnya! Maka itu berkali-kali dia bilang kalo dirinyalah yang salah! Padahal semua tau, bagaimana dia ditelikung oleh suatu proses di internal partainya untuk melengserkannya! Tapi tetep dia tak mau menyalahkan orang lain! Badan dia itulah yang salah, gitu istilah kasarnya, mbak! Perilaku, mental, dan sikap bijak dalam menyikapi suatu persoalan -apalagi di dunia politik yang selalu gaduh- kayak gini kan jarang kita temui, maka adek bilang luar biasa itu mbak!” urai Gilang.

“Emang nggak salah kalo kita belajar dari Pak Bachtiar itu ya, dek? Mbak beberapa kali ikuti juga sikapnya! Keteguhannya dalam mempertahankan apa yang sudah diyakininya juga patut diacungi jempol! Di kala banyak orang memposisikan bak layang-layang putus, mencari aman, mengintip peluang demi keenakan-keenakan sesaat, kita masih punya sosok yang layak untuk dijadikan tempat belajar dalam bersikap, dalam menjaga harkat martabat dan dalam ilmu kepemimpinan! Selayaknya sebagai penerus perjuangan, kita mau belajar dari Pak Bachtiar!” kata Dinda.

“Oh, rupanya diem-diem selama ini mbak banyak baca juga ya pernyataan-pernyataan Pak Bachtiar Basri ini?! Adek nggak tau!” sela Gilang.

“Ya iyalah, dek! Bukan cuma pernyataan-pernyataan Pak Bachtiar, tapi juga para pejabat lainnya! Om Ridho misalnya! Atau tokoh-tokoh partai, juga pernyataan-pernyataan pengamat! Pakde Wondo misalnya! Pasti mbak baca begitu ada kesempatannya!” aku Dinda.

“Bagus juga ternyata mbak ini ya? Kirain nggak pernah tertarik dengan soal-soal politik?!”

“Semua sisi kehidupan kan harus kita pelajari, dek! Di dunia politik kita pelajari bagaimana trik kepemimpinan! Bagaimana konsistensi dalam perjuangan! Bagaimana perilaku yang selalu hanya menempatkan bahwa politik itu sekadar kepentingan! Tanpa ruh, tanpa jiwa, tanpa perasaan! Banyak pelajaran, baik dan buruk, yang didapat! Yang baiknya kita rekam baik-baik di otak kita, yang buruknya hanya sekadar tau aja dan haram ditiru!”

“Oh gitu ya, mbak! Jadi belajar itu bisa dari apa aja ya, mbak?! Dari pernyataan tokoh, perilaku dan sebagainya juga ya?!” ucap Gilang.

“Iya, dek! Semua cerita yang ada di kehidupan ini adalah pelajaran! Pandai-pandai saja kita memetiknya! Dan dalam hal konsistensi bersikap dengan tetep penuh kesederhanaan; kita sudah punya gurunya! Yaitu Pak Bachtiar Basri!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *