5 views

Lebih Lelah Jadi Penonton

BERULANGKALI kaki Gilang bergerak spontan. Sampai mengenai kursi di depan tempatnya duduk. Badannya pun tak pernah diam. Sesekali dari mulutnya keluar desah kekesalan.

“Yang tenang sih kalo nonton itu, dek! Siwek amat!” ketus Dinda yang duduk di sebelah Gilang.

“Kesel aja adek ini, mbak? Lemah amat gaya main tim yang adek dukung itu!  Kayak baru pertama main aja! Padahal lawannya masih di bawah kelasnya!” ujar Gilang.

“Kali pemain-pemain di tim yang adek dukung lagi kurang fit aja! Tapi karena stok pemain kurang, sama pelatih tetep dimainin, dek! Jadinya ya kayak gini! Kacau mainnya, acak-acakan dan kayak nggak punya strategi!”

“Setau adek sih, tim futsal yang adek dukung ini punya pemain banyak lo, mbak! Hebat-hebat lagi! Mereka juga rata-rata kompak bener dengan pelatih! Ada waktu senggang dikit aja, mereka lebih banyak keliatan runtang-runtung sama pelatih kok!”

“Tapi nyatanya di lapangan kayak gini, dek! Sekali ini kalo kalah, tim dukungan adek bisa tersingkir lo!” kata Dinda.

“Ya itulah mbak, sudah dalam kondisi kritis gini kok malah pemainnya nggak berjuang habis-habisan! Jauh-jauh hari semua pemain inti optimis bisa kalahin tim A, tim B, tim C, dan sebagainya! Kenyataannya malah di pertandingan menentukan dan ngelawan tim yang kelasnya di bawah aja, keteteran nggak karuan gini! Makanya adek jadi kesel sendiri, mbak!” ucap Gilang yang tanpa sadar masih saja kakinya bergerak-gerak seakan ingin menendang.

“Kesel ya kesel, dek! Tapi diem dulu kaki itu! Jangan gerak-gerak terus gitu! Ngeganggu penonton lain!” Dinda mengingatkan.

“Refleks aja, mbak! Abis kesel bener adek ngeliat permainan mereka!” sahut Gilang.

“Ya beginilah rasanya kalo biasa jadi pemain terus jadi penonton itu, dek! Bukan cuma kesel tapi juga lelah!”

“Iya, bener itu, mbak! Kenapa ya, mbak?!”

“Ya karena seluruh struktur tubuh dan alam pikiran kita sudah terbiasa dengan gerakan-gerakan di permainan ini, dek! Tanpa kita sadari, semuanya bergerak dengan spontan! Seakan terbawa dalam alur permainan yang ada di lapangan! Saat melihat aksi pemain jauh dibawah yang kita bayangkan, kita jadi kesel sendiri! Saat tim yang kita dukung tidak sesuai dengan espektasi yang kita bayangkan, apalagi kalah, kesel itu menjadi lelah! Jadi memang, bagi seorang pemain sejati, lebih lelah menjadi seorang penonton ketimbang dia sendiri bermain!” urai Dinda.

“Iya juga ya, mbak! Adek juga rasain itu! Ngeliat permainan tim yang adek dukung jelek kayak gini, jadi capek sendiri akhirnya!” aku Gilang.

“Apa yang adek rasain ini, sebenernya, juga banyak dialami orang lain, dek! Denger aja itu di sebelah kiri adek, banyak penonton yang tanpa sadar teriak-teriak seperti kasih komando ke pemain di lapangan! Itu ekspresi dari menyatunya jiwa dan raga dia dalam permainan ini, dek! Hal semacam ini ya alamiah dan lumrah-lumrah aja kok, dek!”

“Tapi banyak juga orang menilai, penonton sok lebih pinter dari pemain, makanya mereka teriak-teriak atau bahkan ngehujat kalo ada pemain yang nggak bagus di lapangan!” sela Gilang.

“Penilaian kayak gitu mah biarin aja, dek! Intinya kan nggak mungkin orang mau komentari sesuatu kalo dia sendiri nggak paham dengan apa yang ditontonnya! Hilanginlah cara pandang nggak produktif kayak gitu! Biar hati dan pikiran selalu jernih dan positif! Adek ngerasa lebih lelah jadi penonton ketimbang bermain, itu karena adek adalah pemain! Bukan sekadar pemain, tapi emang ngerti dan paham betul dengan permainan, kan gitu! Makanya, sebagai pemain nggak boleh apriori dengan teriakan penonton dan sesekali harus duduk di bangku penonton, biar bisa menilai bagaimana kalo pas bermain nggak bagus! Itu akan memotivasi diri sendiri untuk selalu menyuguhkan permainan yang apik dan tentu saja jelas akhirnya; menang!” kata Dinda.

“Gimana kalo baru sedikit permainan sudah disuruh turun ke lapangan, mbak! Atau pemain itu pasnya hanya bermain di belakang, malah bermain di depan?!” ujar Gilang.

“Kalo hal kayak gitu kejadian, berarti pelatihnya nggak cermat, dek! Seorang pelatih harus tau persis kelebihan dan kekurangan pemainnya, sehingga bisa dibangun tim yang tangguh! Dia juga harus tegas dan bijak dalam penempatan pemain! Sekali salah menurunkan pemain, apalagi dalam pertandingan-pertandingan menentukan, kekalahan yang akan dialami! Kalo mbak jadi pelatih, mumpung pertandingan masih berjalan, mbak rombak total tim ini; geser pemain yang di lapangan cuma mau mentas aja, ganti pemain yang cuma ngengesan, tarik keluar pemain depan yang kerjanya cuma kotak-katik bola tapi nggak nendang-nendang bola ke gawang lawan! Toh stok pemain banyak! Dan yang perlu adek tau; kalah itu sakit! Kalah itu memalukan! Kalah itu menghilangkan segala kehormatan!” kata Dinda lagi. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *