10 views

Pemain Tengah

SESAMPAINYA di rumah selepas latihan sepakbola di Stadion PKOR Way Halim, sore tadi, Gilang tidak langsung melepas atributnya. Dia malah mengambil kertas dan pulpen. Mencorat-coret sambil duduk di gazebo.

“Dek, ganti dululah atribut pemain bola itu! Kaos basah keringet gitu bukannya cepet-cepet dibuka! Pakai sepatu bola juga jangan lama-lama, abis main bagusnya cepet dilepas! Nggak baik buat pertumbuhan kaki!” kata Dinda saat mengantar air mineral buat Gilang yang tampak kehausan.

“Sebentar, mbak! Adek lagi penasaran aja!” ucap Gilang sambil menenggak air yang diberikan Dinda.

“Penasaran apaan sih, dek? Kalo sudah kalah ya kalah aja! Nanti aja evaluasinya itu! Lagian, adek nggak kompeten ngevaluasi! Adek kan cuma pemain cadangan! Beruntung tadi dimainkan!”

“Ya justru itu, mbak! Sadar kalo adek sebagai pemain cadangan, maka waktu diturunin ke lapangan sama pelatih, adek maksimal bener mainnya! Tapi kok nggak bisa-bisa dekati gawang lawan! Boro-boro mau ngegolin!”

“Terus nurut adek apa faktornya?” tanya Dinda.

“Itu yang lagi adek mau cari, mbak! Padahal kan tim adek sudah cukup tampil maksimal! Kerja sama bagus, aliran bola juga lumayan tepat, pengawalan atas serangan-serangan lawan juga bagus! Tapi kok nggak bisa-bisa bawa bola deketin gawang lawan! Sampai akhirnya kami kebobolan karena temen-temen di bagian pertahanan sudah kelelahan!” urai Gilang.

“Gitu aja kok repot sih, dek? Sudah jelas itu mah masalahnya, dek?!”

“Apa nurut mbak?!” tanya Gilang.

“Pemain tengah tim adek, itu kuncinya!” kata Dinda.

“Maksudnya gimana, mbak?!”

“Kunci permainan tim adek kan ada di pemain tengah! Dengan pola 4-5-2, kan jelas bener kalo tim adek memang ngandelin kekuatan pemain di bagian tengah! Mereka pegang kunci permainan! Bukan cuma meredam serangan lawan begitu masuk ke setengah lapangan, tapi yang lebih penting adalah bagaimana bisa mengalirkan bola-bola operan yang akurat untuk pemain depan! Nah, itu yang nggak jalan sebagaimana yang diinginkan pelatih, dek!”

“Mbak tau kan memasuki 25 menit permainan, polanya berganti ke 4-4-3? Maksudnya kan agar serangan bisa lebih tajam!” sela Gilang.

“Ya mbak taulah, dek! Pelatih tim adek sebenernya amat cermat dan cekatan! Melihat pola awal yang dimainkan nggak jalan, karena bola berkutat di tengah aja, dia ubah gaya mainnya! Tapi kan nggak ada perubahan juga! Malah beberapa kali pemain tengah keteteran kalo ada serangan balik yang cepat setelah pemain lawan berhasil mengambil bola dari pemain tengah tim adek!” jelas Dinda.

“Jadi nurut mbak, kelemahan kami tadi di pemain tengah ya?!” ucap Gilang.

“Sudah pasti kalo itu mah, dek! Semua penonton juga tau itu! Pemain tengah tim adek terlalu ingin main cantik! Masing-masing pemain di posisi kunci itu lebih nikmat mempertontonkan kepiawaiannya menggocak-gocek bola di kakinya, ketimbang melihat posisi pemain depan yang kosong! Akibatnya, upaya mengalirkan bola ke depan untuk diteruskan pemain penyerang ke gawang lawan nggak pernah kesampaian!”

“Bener juga ya, mbak? Adek sampai-sampai praktis nggak pernah nendang bola ke gawang lawan! Malahan beberapa kali harus turun ke belakang membantu pertahanan! Bener juga kata mbak, kunci permainan ada di pemain tengah!”

“Ya begitulah, dek! Ironisnya lagi, karena keasyikan mempertontonkan permainan cantik, temen-temen adek yang di posisi pemain tengah jadi tak mengukur kemampuan lawan! Akibatnya, begitu bola di kaki bisa direbut, langsung kocar-kacir! Kordinasi pemain tengah pun nggak berjalan! Masing-masing hanya menjaga daerahnya! Tak ada yang mau saling mengisi! Makanya setiap kali ada serangan balik yang cepat, pemain tengah tim adek keteteran!” urai Dinda.

“Jadi nurut mbak, pemain tengah tim adek kalah kualitas ya dengan pemain lawan?!” tanya Gilang.

“Kalo soal kualitas personal, tim adek lebih hebat dibanding lawan! Tapi, temen-temen adek lebih nonjolin kemampuan personal, bukan tim! Egoisme pribadi yang lebih ditonjolin! Akibatnya, secara tim, kualitasnya kalah jauh dibanding tim lawan yang sebenernya secara personal jauh dibawah tim adek! Disini, faktor mental personal pemain yang jadi sumber masalahnya, dek!”

“Nurut mbak, tau nggak pelatih kalo ada persoalan kayak gini di tim kami!”

“Ya pasti taulah, dek! Pelatih pasti paham semua itu! Dan mbak yakin, dengan caranya sendiri, pelatih pasti akan menurunkan egoisme personal pemain-pemainnya demi kepentingan tim!” kata Dinda.

“Mbak yakin pelatih mau lakukan itu?!”

“Ya pastilah, dek! Sebab, tim ini kan membawa pertaruhan nama besar pelatih! Tentu dia nggak mau prestise dan prestasinya sebagai pelatih ternama jadi menurun gengsinya hanya oleh mental individual yang begitu tinggi dibandingkan kepentingan untuk kepentingan tim besutannya!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *