110 views

Kisah Dramatis Kepala & Ekor Ikan

TIDAK biasanya sepulang dari latihan futsal wajah Gilang ‘mecucu’ alias kesal. “Ada apa to, dek? Kok wajahnya ditekuk gitu?” tanya Dinda.

“Ternyata gak mudah ya mbak ngebangun kesepahaman itu? Sudah latihan bareng berbulan-bulan, diarahin dengan telaten oleh pelatih, masih aja sulit membuat tim yang solid! Saling mengerti dan memahami satu sama lain!” jawab Gilang.

“Ya biasa aja kalo itu mah, dek! Namanya banyak orang, dengan pikiran masing-masing! Dengan daya tangkap yang berbeda-beda! Disitulah maka terus diperluin yang namanya latihan bareng! Diskusi bareng itu!”

“Tapi capek juga lo, mbak! Masak sudah saling kenal sejak kelas 1 sampai sekarang sama-sama kelas VI, pas main di lapangan, tetep aja susah saling memahami!” keluh Gilang.

“Ukuran untuk saling bisa memahami itu nggak bisa dihitung dari lamanya kebersamaan, dek! Nggak bisa diliat dari runtang-runtung bareng aja! Disini yang lebih berperan adalah faktor kepercayaan! Saling menghargai! Saling menghormati! Saling meredam ego pribadi untuk kepentingan lebih besar!”

“Kalo soal teori ngebangun kesepahaman sih sudah nggak kurang-kurang mbak diajarin sama pelatih! Tapi kenyataannya kan nggak semudah itu!”

“Ya itulah namanya dinamika kehidupan, dek! Nggak semua kejadian seperti yang kita bayangkan dan inginkan! Serapih apapun kita siapkan segala sesuatunya, belum tentu hasilnya sempurna! Apalagi kalo menyangkut orang, menyangkut manusia!” ujar Dinda.

“Ya bener sih itu, mbak? Cuma kalo ngebangun saling memahami aja sulitnya nggak karuan gini, apa iya bisa tim adek survive dalam ngadepin pertandingan sebenernya nanti!” kata Gilang.

“Jadi gini, dek! Dalam urusan saling memahami, mbak ada sebuah cerita dramatis!”

“Gimana ceritanya, mbak?”

“Di suatu hari, ada perayaan 50 tahun pernikahan pasangan suami-istri! Acaranya mewah! Tamunya banyak! Saat tiba waktu makan bersama, sang suami mengambilkan makanan untuk istrinya! Sepiring nasi dengan lauk kepala dan ekor ikan! Diberikannya makanan itu dengan penuh cinta kepada sang istri! Para tamu begitu terharu melihat ketulusan cinta si suami pada istrinya! Tapi apa yang terjadi?!” urai Dinda.

“Emang apa yang terjadi, mbak?!” tanya Gilang.

“Sang istri menangis kencang saat menerima piring berisi nasi dengan lauk kepala dan ekor ikan tersebut!”

“Lho, kenapa mbak..?!”

“Tangisan melengking sang istri mengejutkan semua tamu! Sambil berdiri, si istri berujar bagaimana selama 50 tahun hidup bersama sang suami, ia selalu saja harus memakan bagian ikan yang sangat tidak disukainya! Yaitu kepala dan ekor ikan! Tapi karena yang menyuguhkan sang suami, ia makan dan telan-telan saja semuanya! Demi menghargai suaminya!” lanjut Dinda.

“Terus, mbak…?!”

“Ucapan si istri mengejutkan sang suami dan para tamu! Sang suami pun meminta maaf! Dia baru tersadar, betapa selama 50 tahun berumahtangga, apa yang menurutnya terbaik untuk si istri, dengan selalu menyuguhkan kepala dan ekor ikan, nyatanya justru amat sangat tidak disukai oleh istrinya! Cerita dramatis ini membawa pesan bahwa membangun saling memahami itu tidak mudah, dek! Apa yang nurut kita sudah melakukan yang terbaik, belum tentu demikian diterima orang!”

“Oh gitu ya, mbak? Terus gimana biar bisa ngebangun kesepahaman itu, mbak?!”

“Kuncinya di komunikasi, dek! Komunikasi yang setara! Yang saling menghargai! Jangan yang satu merasa lebih dibanding yang lain! Jangan yang lain merasa dibawah dari yang satu! Artinya, masing-masing menempatkan diri sebaik mungkin! Saling mengalah untuk meraih kemenangan tim! Dan optimis bisa menang dengan saling melengkapi!”

“Tapi kan nggak mudah ngewujudinnya, mbak!” ucap Gilang.

“Memang tidak mudah, dek! Tapi tiada yang tak mungkin! Bahkan sepasang suami istri pun baru bisa memahami satu sama lain setelah 50 tahun pernikahan! Semua kembali ke kita saja, dek! Seberapa besar kita mau benar-benar melahirkan tim yang solid! Ataukah tim yang ada sekadar buat pijakan kita untuk ngangkat prestise pribadi semata! Nah, pertanyaan itu, biarkan hati kita yang menjawabnya! Jangan pake kata Ebiet G Ade; bertanyalah pada rumput yang bergoyang!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *