25 views

Pergeseran Tanpa Suara

CUKUP lama  Gilang menghentikan langkahnya secara mendadak. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan. Tergurat di dahinya ada sesuatu yang dalam pertanyaan pikirannya.

“Ada apa, dek?” tanya Dinda.

“Kok jadi sepi gini ya Paris Van Java!” ucap Gilang, mengungkap hal yang jadi penyebab diamnya dan celingak-celinguknya.

“Oh, ini mah sudah sejak sebulan terakhir, dek! Paris Van Java sekarang bukan tujuan utama orang belanja, refreshing atau sekadar kongkow! Jadi ya memang sepi sekarang disini!”

“Emang kenapa, mbak?!”

“Kan sudah ada tempat baru, dek! Pascal 23 namanya! Di daerah Pasir Kaliki sana! Lurus aja dari Paris Van Java ini!”

“Jadi tempat baru itu yang jadi idola orang sekarang ini ya, mbak?!” kata Gilang.

“Iya, dek..! Sekarang orang lebih suka kesana dan meninggalkan PVJ ini!”

“Emang lebihnya apa, mbak?!”

“Selain masih baru, variasi sarananya juga lebih banyak! Dan memang lebih asyik kalo main disana!”

“Oh gitu ya, mbak? Makanya adek kaget tadi pas masuk PVJ ini, kok jadi sepi gini! Padahal biasanya kan ruame bener!”

“Ya begitulah dinamika kehidupan, dek! Disadari atau tidak, banyak terjadi pergeseran tanpa suara! Sesuatu yang alamiah saja, manakala ada tempat baru, sesuatu yang lebih menjanjikan dan terkesan menawarkan hal-hal yang lebih bagus, pasti akan terjadi pergeseran! Yang lama, yang tampaknya tiada variasi, apalagi menjanjikan keenakan lebih, bisa dipastikan akan mulai ditinggalkan!” urai Dinda.

“Gitu ya, mbak? Kok pake bahasa pergeseran tanpa suara sih, maksudnya apa, mbak?” tanya Gilang.

“Maksudnya, terjadi pergeseran yang bergerak begitu saja tanpa ada komando atau arahan, dek! Masing-masing individu akan bergerak atas naluri kemanusiaannya sendiri! Gaya semacam ini bisa masuk di semua sisi kehidupan, dek! Jadi tidak perlu heran, manakala melihat seseorang mulai ditinggalkan karena dinilai posisinya sedang susah, kehidupannya tengah kritis, langkah-langkah ke depannya masih dalam bayangan!” kata Dinda.

“Pergeseran tanpa suara ini juga bisa terjadi di dunia politik ya, mbak?!”

“Ya bisalah, dek! Bahkan, banyak terjadinya pada hal-hal yang berkaitan erat dengan dunia politik! Ketika secara politik kasat mata seseorang dalam  posisi yang belum menentu, bisa dipastikan ia akan mengalami apa yang disebut pergeseran tanpa suara itu!”

“Kongkretnya kayak mana, mbak?!” ucap Gilang.

“Perlahan tapi pasti, orang-orang yang selama ini runtang-runtung, akan mulai menjaga jarak! Yang kemarin mencari berbagai cara untuk mendekat, dengan sendirinya akan menjauh! Ini proses alamiah saja, dek! Sebaliknya, yang secara politik tengah naik, akan didatangi orang-orang yang sebelumnya berposisi jauh atau bahkan tak dikenal!”

“Negatif sekali ya yang namanya pergeseran tanpa suara itu, mbak?!”

“Negatif atau positif kan tinggal kita aja yang ngemasnya, dek! Bagi orang-orang yang telah terlatih, senegatif apapun sesuatu, ia akan tetap bisa mengemasnya menjadi nilai positif baginya! Nah, dalam suasana saat ini yang tengah terjadi pergeseran tanpa suara, justru akan terseleksi siapa yang terlatih dan siapa yang sekadar mencari peruntungan semata! Para tokoh yang tengah jadi objek dan subjek dalam posisi ini saatnya lebih mencermati situasi di sekelilingnya sendiri!” tutur Dinda lagi. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *