17 views

Lomba Orasi

SEJAK ba’da maghrib, Dinda mengurung diri di kamar. Setelah menulis beberapa kata, dia berdiri di depan kaca. Berpidato. Tak lama dia berhenti. Wajahnya tampak kecewa.

“Jangan gampang patah semangat, mbak! Terus aja pidatonya!” kata Gilang, menyemangati.

“Tapi yang mbak sampein kan keluar dari konsep, dek! Jadi ngelantur dong!” sela Dinda.

“Sesekali keluar konsep nggak apa-apa, mbak! Yang penting nggak keluar dari tema!”

“Tadi itu sudah keluar konteks, dek! Masak temanya soal menempatkan keluarga di kekuasaan yang ada digenggaman, kok malah kemana-mana!”

“Ya nggak apa-apa, mbak! Apalagi intinya kan mbak nyoroti bagaimana perilaku banyak pemimpin yang tak segan mengkudeta anak buahnya demi keluarganya! Ya nggak apa-apa mbak kasih contoh!” ujar Gilang.

“Baiknya nggak pake contoh, dek! Biar nggak kena pasal ujaran kebencian!”

“Alah, mbak! Wong cuma lomba orasi di kelas aja kok mikirnya sampai ke ujaran kebencian sih! Ya nggaklah, mbak!”

“Eh, adek jangan salah lo! Siapa yang ngejamin pas mbak pidato alias orasi, nggak ada yang ngerekam! Kalo sampai diterbangin ke dunia medsos kan bisa aja mbak yang diaduin dengan ujaran kebencian! Zaman sekarang ini rentan tau, dek! Salah ngomong dikit aja bisa dijadiin bahan buat nyari-nyari kesalahan!”

“Emang yang mbak sorotin sisi seriusnya gimana sih?” tanya Gilang.

“Intinya mbak mau orasi gimana cara penguasa ngelanggengin kekuasaannya dengan nempatin sanak keluarganya di pentas kekuasaan juga, dek!” jelas Dinda.

“Misalnya yang mbak contohin dalam orasi kayak mana?!”

“Ada seorang penguasa, dengan cerdiknya dia angkat orang lain untuk memegang tampuk kepemimpinan di organisasi yang dipimpinnya! Karena orang itu punya kuasa penuh, tanpa melalui proses, disahkanlah yang dipilihnya itu jadi penguasa juga!”

“Terus, mbak…?!”

“Pada suatu situasi yang nurut sang penguasa itu kalo orang yang diangkatnya sulit dikendalikan, dengan serta merta digantinya! Didudukkanlah anggota keluarganya sebagai pengganti! Ini salah satu trik penguasa dalam membangun kekuatan kekuasaannya agar langgeng!” kata Dinda.

“Jadi sebenernya, ngangkat orang lain lebih dulu baru kemudian mendudukkan anggota keluarganya itu adalah taktik aja ya, mbak?!” ucap Gilang.

“Iya, sebenernya ya cuma siasat aja, dek! Tapi agar keliatan cantik mainnya, agar nggak mudah terbaca, dipakai pola berputar-putar!”

“Oh gitu ya, mbak! Emang ada gaya kepemimpinan kayak gitu, mbak?!”

“Ya adalah, dek! Semua orang juga tau kok!”

“Terus, apakah dengan gaya itu akan menguatkan gezah kepemimpinan sang penguasa ya, mbak?!” kata Gilang.

“Sebenernya malah menurunkan gezah sang penguasa itu sendiri, dek! Banyak orang yang dulu kagum dengan kepiawaian sang pemimpin itu, kini berbalik mencibir! Banyak orang menilai, ketulusan dan kehebatan sang pemimpin tersebut ternyata hanya untuk kepentingan dirinya dan keluarganya semata! Tanpa disadari, sang pemimpin telah mengerdilkan dirinya sendiri! Kebesaran dan kehebatan yang selama ini diakui banyak orang, kini tinggal kenangan! Bahkan dipastikan banyak orang di organisasinya pun kini kehilangan simpati!” tutur Dinda.

“Oh gitu ya, mbak? Wah, bisa-bisa makin menurun dong nanti nama besar organisasinya karena gaya kepemimpinan yang tidak pas itu?!”

“Bisa dipastikan begitu, dek! Sang pemimpin lupa kalo tidak semua orang di organisasi yang dipimpinnya punya mimpi ingin punya jabatan! Sang pemimpin lupa kalo dengan caranya itu telah memupus mimpi sebagian orang yang ingin punya jabatan tapi bukan sanak keluarganya!”

“Nah, penutup dari orasi mbak apa dong?!” ujar Gilang.

“Mbak sampaikan pidato pertama Abu Bakar saat dilantik menjadi Khalifah, dek! Saat itu Abu Bakar berkata: Wahai manusia, sekarang aku menjadi pemimpin kalian, sekalipun aku bukan yang terbaik dari kalian! Maka, jika tindakanku baik, dukunglah aku oleh kalian! Dan bila tindakanku buruk, luruskanlah aku oleh kalian! Taatlah kalian kepadaku selama aku taat pada Allah dan Rasul-Nya! Bila aku berbuat durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tiada keharusan kalian taat kepadaku! Itu pidatonya, dek!” urai Dinda.

“Sip itu, mbak! Kepemimpinan memang harus berdimensi ke-ilahian! Bukan ke sanak keluarga! Kalo ini orasinya, adek yakin mbak bakal jadi juara!” kata Gilang sambil mengacungkan dua jempolnya kepada Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *