1 views

Mengukur Daya Tahan

DINDA geregetan betul melihat permainan tim futsal yang dikapteni Gilang tidak pernah menang dalam tiga kali pertandingan.

“Ada apa sih di tim adek, kok mainnya jelek melulu? Masak sama tim yang kualitasnya dibawah aja gak bisa menang! Tiga kali main, dua kali seri dan sekali kalah?!” ketus Dinda selepas menyaksikan Gilang dengan timnya bertanding.

“Ya memang ada beberapa pemain kami yang lagi kurang fit, mbak! Selain itu, semangat tim-tim lain kan menggila kalo bertanding dengan tim adek, mbak!” sahut Gilang.

“Maksudnya semangat menggila kayak mana, dek?!”

“Tim adek kan juara bertahan, mbak! Istilahnya petahana-lah! Jadi tim mana pun yang bertemu kami, pasti semangatnya menggelora dan berlipat-lipat dengan target bisa mengalahkan tim juara! Maka itu, kalo tim-tim lain jadi begitu bagus mainnya saat menghadapi tim adek, ya wajar-wajar aja!”

“Itu sih nggak bisa jadi alasan buat nutupin kalo tim adek emang kurang kompak mainnya! Bahwa tim-tim lain jadi menggila waktu tanding dengan tim adek, ya bisa aja itu bener! Tapi yang lebih penting kan membenahi tim sendiri; kenapa kok mainnya jelek, keliatan nggak kompak dan lebih nonjolin aksi-aksi personal di lapangan!” kata Dinda.

“Yang mbak bilang ada benernya! Memang tim adek mainnya kurang kompak! Justru karena secara tim kurang kompak itu maka aksi-aksi personal ditonjolkan! Ini juga membuat tim lawan jadi terkecoh, lebih perhati pada pergerakan personal ketimbang tim!”

“Kami semua juga tau itu, mbak! Tapi kata pelatih, menghadapi open turnamen semacam ini yang diperlukan itu daya tahan!” ujar Gilang.

“Maksudnya apa, dek?” tanya Dinda.

“Ya daya tahan, mbak! Daya tahan mental menghadapi beban banyaknya pertandingan yang akan dihadapi! Daya tahan fisik untuk mengukur kekuatan yang perlu dikeluarkan di setiap pertandingan! Daya tahan pikiran untuk terus berkonsentrasi menghadapi berbagai laga selanjutnya!” jelas Gilang.

“Tapi dua kali seri dan sekali kalah itu bukan bagian dari strategi kan, dek?!”

“Ya bukanlah, mbak! Mana ada strategi mencari hasil seri apalagi kalah! Cuma, situasi apapun itu, pelatih pasti punya penangkalnya! Karena itu, urusan mengukur daya tahan bagi personal pemain dan tim, sangat ditekankan oleh pelatih! Sebab, menurut pelatih, sehebat apapun pemain kalo daya tahannya nggak terukur dan nggak kuat, akan sulit membawa tim memenangi pertandingan, apalagi meraih juara!”

“Dengan posisi saat ini, yang belum menang sekali pun dari tiga pertandingan, kan pasti memengaruhi daya tahan psikis pemain juga, dek?!”

“Ya pasti adalah satu dua pemain yang mentalnya drop, mbak! Itu sih nggak bisa dipungkiri! Tapi mayoritas kami tetep tegar dan optimis kok! Kami yakin, pelatih punya kemampuan sendiri dalam mengukur daya tahan para pemainnya, utamanya yang akan diturunkan pada pertandingan-pertandingan selanjutnya!”

“Tapi kan nggak semua pemain yang punya daya tahan pasti diturunkan pada pertandingan lanjutan, dek? Gimana ngukurnya?!” ucap Dinda.

“Pelatih yang lebih tau soal itu, mbak! Kapan si A akan diturunkan, dan kapan si B akan dimainkan! Tentu setelah pelatih tau persis seberapa kuat daya tahan yang dimiliki masing-masing pemainnya! Memasuki babak lanjutan open turnamen ini kan akan lebih berat, karena itu pelatih pasti hanya menurunkan pemain-pemain yang memang sudah terukur betul daya tahannya! Walo tetep aja sesekali pelatih akan menurunkan pemain yang tugasnya hanya sebagai penarik perhatian lawan saja! Sehingga concern lawan terfokus ke pemain yang sengaja ‘dilepas’ itu! Siasat pelatih kami kan sering tak terduga, mbak! Itu sebabnya, hanya pemain yang terukur daya tahannya saja yang bisa istiqomah di tim kami!” tutur Gilang. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *