0 views

Nakhoda Muda

SAAT perahu yang ditumpangi bergerak kencang menuju kawasan Pasir Timbul dilanjutkan mengitari beberapa pulau kecil di kawasan objek wisata yang ada di Pesawaran, sore tadi, wajah Gilang tampak tegang.

“Nyantai aja geh, dek? Nikmati perjalanan wisata ini!” kata Dinda mencoba menghilangkan ketegangan Gilang.

“Perahunya ini kenceng bener jalannya, mbak! Mana pake belok sana, belok sini! Muter sana, muter sini! Bikin mual aja!” sahut Gilang.

“Ini mah nggak kenceng, dek! Cuma karena perahu kecil, jadi kayaknya cepet jalannya! Soal belok sana, muter sini, itu kan justru buat kita bisa menikmati perjalanan ini!”

“Ya nggak gitu juga kali, mbak! Nggak perlulah jalannya perahu dibuat kayak gini! Banyak atraksi kayak gini kan malah ngebuat penumpang nggak nyaman! Apalagi nakhodanya kan masih muda gitu, nggak mikirin keselamatan dan kenyamanan penumpang!” ketus Gilang.

“Nakhodanya ya pasti mikirin soal keselamatan dan kenyamanan penumpanglah, dek! Cuma gaya masing-masing nakhoda kan beda! Lagian ngukurnya jangan dari usia, dek! Tapi pengalamannya!” ucap Dinda.

“Kayaknya nakhoda muda ini emang belum berpengalaman, mbak! Liat aja, perahu sering dadakan dimatikan mesinnya! Dibiarkan terombang-ambing terpapar ombak! Coba mbak tengok wajah para penumpang di perahu ini, kan banyak yang keliatan nggak nyaman!”

“Yang adek bilang nggak salah! Emang nakhodanya masih muda usia! Tapi seperti mbak bilang, dalam urusan menyopiri perahu, usia bukan ukuran! Tapi pengalaman! Bisa aja emang nakhoda muda perahu kita ini belum terbiasa membawa wisatawan, dek! Mungkin biasanya bawa penumpang yang mau mancing, maka dia sering dadakan matikan mesin!” kata Dinda.

“Jadi ngukur kepiawaian nakhoda itu nggak bisa dari umur aja ya, mbak?!”

“Nggak bisa, dek! Banyak nakhoda muda yang berpengalaman melayani penumpang berwisata, dipastikan akan mengutamakan kenyamanan penumpangnya! Sebaliknya, banyak nakhoda yang usianya sudah cukup matang tapi karena nggak biasa meladeni wisatawan, tetep nggak bisa menakhodai perahunya dengan tenang dan nyaman! Seperti mbak bilang, faktor pengalaman yang menentukan!”

“Berarti yang muda bisa dipastikan kurang pengalaman dong, mbak?” tanya Gilang.

“Nggak juga, dek! Nggak bisa dipastikan begitu! Karena pengalaman kan bisa didapat dari mana saja! Dari obrolan dengan teman, dari baca buku, dari menyusuri fenomena alam, dan banyak lagi lainnya! Termasuk dari peristiwa demi peristiwa yang terjadi di sekelilingnya!” ujar Dinda.

“Kalo nakhoda perahu kita ini kayaknya emang nggak berpengalaman lo, mbak? Masak semaunya aja jalanin perahu dan matikan mesin kapan aja dia mau?!”

“Mungkin dia cuma belum berpengalaman membawa wisatawan aja, dek! Tapi keliatannya dia paham betul bila membawa penumpang yang akan mancing atau snorkling! Memang tak mudah menjadi nakhoda yang sempurna, dek! Yang memahami karakteristik penumpangnya! Disinilah sebenernya kejelian pengatur perahu dalam menugaskan nakhoda-nakhodanya!”

“Jadi yang harus cermat itu pengatur nakhoda yang akan ditugaskan ya, mbak?!”

“Iya, dek! Sebab sekali dia salah tunjuk nakhoda, bisa berakibat penumpang di perahu itu tidak nyaman dan akhirnya kapok untuk naik perahunya lagi! Bagi para wisatawan itu kan yang penting kenyamanan! Dari situ akan tumbuh rasa senang! Nah, kalo sudah nyaman dan senang, tak segan-segan penumpang ngeluarin uang tambahan buat bonus bagi sang nakhoda! Tapi persoalannya ya itu tadi, dek! Tak mudah melahirkan nakhoda muda yang berpengalaman! Apalagi kalo yang bersangkutan selalu merasa bisa menaklukkan garangnya ombak tanpa memikirkan kenyamanan penumpangnya!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *