9 views

‘Asal Beda’

GILANG menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tampilan Dinda. Di siang panas terik, dia sibuk membawa sweater.

“Mbak, yang namanya bawa sweater atau jaket itu kalo cuaca redup atau ujan! Nggak pas kalo di cuaca terik gini!” ujar Gilang.

“Nyantai aja sih, dek! Sekarang ini sudah nggak zamannya lagi apa-apa itu sesuai dengan alurnya! Apalagi di urusan fashion! Tampilan yang nabrak-nabrak juga nggak masalah! Yang penting tetep maching! Dan bisa nambah pede penampilan!” sahut Dinda.

“Ya nggak gitu juga kali, mbak! Kalo di cuaca yang terik kayak gini mbak pake sweater, dianggep orang mbak lagi sakit demam!”

“Emang siapa yang mau pake sweater, dek?!”

“Lha, itu mbak sibuk bawa sweater buat apa?!” sela Gilang.

“Buat mbak iketin di baju bagian bawah! Ngelingker di pinggang mbak! Kan fashionnya pas! Makanya jangan norak adek itu! Sekarang ini kan emang eranya asal beda, dek!” kata Dinda.

“Asal beda gimana maksudnya, mbak?”

“Ikuti dong perkembangan, dek! Sekarang ini, hampir di semua sisi kehidupan, lelaku asal beda itulah yang dimainkan! Sesuatu yang lazim-lazim saja, atau yang biasa-biasa saja dan sewajar-wajarnya saja, sudah nggak dilakoni lagi sama banyak orang! Hingga seakan, kalo tetep dalam kebiasaan yang lumrah-lumrah saja, dianggep kurang kreativitas atau bahkan nggak punya kemauan!”

“Bisa kasih contoh kayak mana lelaku asal beda itu, mbak?!”

“Misalnya aja, soal taksi on-line! Kan pemerintah sudah buat aturan, bahkan sudah direvisi disana-sini buat nyesuaiin dengan aspirasi taksi tradisional, nyatanya kan tetep aja ada aksi-aksi penolakan! Lalu soal upah minimum! Sudah ditetepin sama pemerintah, tetep aja ada kaum pekerja yang menolak dengan menggelar aksi-aksi demo! Banyak lagi lelaku lain yang sesungguhnya hanya ekspresi dari semangat asal beda aja!” tutur Dinda.

“Jadi nggak bagus ya semangat asal beda itu, mbak?!” ucap Gilang.

“Sepanjang dalam ekspresiinnya nggak mengganggu kehidupan sekeliling dan membawa kebaikan bagi sesama, ya bagus dong, dek! Cuma masalahnya kan lebih banyak ekspresi asal beda itu hanya untuk nunjukin egoisme atau untuk diakui kalo dirinya ada semata!”

“Jadi lebih banyak yang sekadar nunjukin atau butuh pengakuan akan jati dirinya aja ya, mbak?!”

“Ya, bisa dibilang begitu, dek! Tapi itu juga nggak salah kok! Karena memang kita harus terus membangun posisi dan nunjukin jati diri kita dalam berbagai lini kehidupan! Itu sah-sah saja, bahkan memang harus dilakukan! Yang perlu dijaga adalah bagaimana agar semangat asal beda itu tidak mengganggu keharmonisan di suatu komunitas yang kita geluti! Semangat asal beda itu mestinya bisa dikemas untuk menguatkan, mengokohkan, dan memantapkan apa-apa yang sudah ada di sekeliling kita, bukan malah melemahkan! Pemahaman dan kesadaran kalo asal beda bisa memberi makna positif bagi komunitas itulah yang harusnya digelorakan! Dan tidak menjadikan bahasan tersendiri alias rumpi-rumpi bila kita menemukan seseorang yang tengah bersemangat dalam ekspresiin asal beda-nya!” ucap Dinda sambil mengikatkan sweater di pinggangnya. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *