Obrolan Di Angkasa

MENEMPUH perjalanan cukup panjang dari Bandara Juanda, Sidoarjo, Jatim, ke Bandara Raden Inten II di Branti, Lampung, sore tadi, tak membuat Gilang kelelahan dan tidur. Ia malah terus-menerus mengajak Dinda ngobrol.

“Bosen juga ya pilot sama pramugarinya ini! Hari-harinya bolak-balik Surabaya-Lampung dan sebaliknya!” kata Gilang.

“Adek kira mereka kerjanya kayak orang kantoran ya?! Dari hari ke hari, bolak-balik ke itu-itu aja! Nggak gitulah, dek! Rute perjalanan pilot dan awak kabin itu setiap harinya selalu berubah! Nggak monoton dari satu daerah ke daerah itu-itu saja!” sahut Dinda.

“Oh gitu ya, mbak?! Kirain adek, pilot sama pramugari dan pramugaranya itu hanya terbang dari wilayah A ke B aja! Repot juga ya kalo setiap hari harus ngenali wilayah baru dalam penerbangannya!”

“Memang nggak banyak yang tau kalo setiap harinya pilot dan awak kabin itu pasti beda perjalanan, dek! Orang yang bekerja di dunia penerbangan itu tak cuma dituntut harus cerdas tapi juga punya fleksibilitas tinggi! Sebelum bertugas, mereka wajib tau setiap detail dan keadaan penerbangan agar bisa kendalikan situasi! Istilahnya mereka wajib memahami situational awareness!”

“Gunanya buat apa itu memahami situational awareness, mbak?” Tanya Gilang.

“Ya buat memastikan penerbangannya aman, dek! Karena kan setiap penerbangan itu punya kondisi yang berbeda! Walo itu di rute yang sama dari hari ke hari! Dan memang, kebiasaan yang sama setiap harinya itu nggak dibolehin dalam flight safety!”

“Ribet juga ya ternyata ngurusi dunia penerbangan itu, mbak?!”

“Sebenernya nggak juga, dek! Ngerasa ribet itu kan karena kita selama ini nggak pernah berusaha untuk tau dunia penerbangan! Yang kita tau, naik pesawat Dan sampai di tujuan dengan selamat! Padahal, untuk mencapai tujuan dengan selamat itu, banyak pihak yang terlibat dalam setiap kali penerbangan!”

“Jadi tetap urusan soliditas tim itulah yang harus ada ya, mbak?!” ujar Gilang.

“Iya, dek! Setiap mau terbang, pilot, awak kabin, sampai ke pengontrol lalu lintas, staf lapangan dan semua staf yang terlibat dalam penerbangan harus merhatiin betul situational awareness itu! Kuncinya memahami pengendalian situasi itu amatlah penting!” jelas Dinda.

“Wah, makin nggak paham adek sama urusan dunia penerbangan, mbak?! Kayaknya sederhana, nggak taunya ribet bener!” sela Gilang.

“Memang kita nggak mesti tau semua hal sampai ke detailnya, dek! Apalagi kalo itu memang bukan sesuatu yang terkait langsung dengan urusan keseharian kita! Cukup kita tau aja, sudah lumayan kok! Karena sesungguhnya, dalam kehidupan ini, hal-hal yang sewajarnya untuk kita tau atau dilibatkan aja, malah kita dibuat agar tidak tau dan tak dilibatkan!”

“Nah, gimana kalo ngadepin yang kayak gitu, mbak?!” ucap Gilang.

“Ya dibawa nyantai aja, dek! Kayak kita yang lagi di pesawat ini, toh akan mendarat juga! Kalo sudah di darat, baru kita rasain bedanya melaju di angkasa dengan di jalan raya yang bergelombang!  Itulah seninya kehidupan dan kita nikmati aja! Jangan malah ngebuat bete! Karena pada hakekatnya kita lebih banyak hidup di darat dibandingkan di angkasa alias di awang-awang!” tutur Dinda sambil mengencangkan seat belt-nya karena sebentar lagi pesawat akan mendarat. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *