Cari Yang Tepat, Bukan Yang Terbaik

SELEPAS bermain di pertandingan final sepakbola dan mengalami kekalahan telak, Gilang termenung di tepi lapangan. Tampak ia tengah menyesali keadaan yang membuat timnya hanya meraih runner up.

“Ya sudah, dek! Nggak usah diberatin! Yang namanya permainan itu kan ada kalanya menang dan kalah!” ucap Dinda sambil memberi sebotol air mineral buat Gilang.

“Nggak ngeberatin sih, mbak! Cuma adek nggak abis pikir aja, kok bisa kalah 4-1 gini! Ini kekalahan paling telak lo dan kejadiannya kok pas di final! Kayak antiklimaks dari permainan kami dalam babak-babak sebelumnya!” kata Gilang.

“Yah, banyak faktor yang bisa memengaruhi permainan di final itu, dek! Secara fisik, pasti adek dan kawan-kawan sudah terkuras dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya! Belum lagi, secara mental, belum tentu semua anggota tim adek siap menghadapi permainan di final! Jadi mainnya nggak maksimal! Akselerasi serangan tadi kan juga nggak keliatan improvisasinya, dek! Monoton aja! Barisan tengah dan belakang juga sering kedodoran menghadapi serangan lawan!”

“Itulah adek bilang, kayak antiklimaks dari permainan sebelum-sebelumnya, mbak! Padahal, yang diturunin tadi itu adalah para pemain terbaik lo!”

“Nggak salah kalo dibilang itu permainan antiklimaks, dek! Karena Sama sekali memang beda gaya mainnya! Nggak terkordinasi bahkan kayak baru belajar main bola aja!” kata Dinda.

“Tapi yang diturunin tadi itu para pemain terbaik di tim kami lo, mbak?!” sela Gilang.

“Era sekarang ini menurunkan pemain itu tolok ukurnya bukan yang terbaik, dek! Tetapi yang tepat!” ujar Dinda.

“Maksudnya, mbak?!”

“Ya iya, bukan zamannya lagi nurunin pemain yang terbaik dalam suatu pertandingan itu! Tapi dipilih yang tepat untuk pertandingan tersebut! Jadi bukan yang terbaik pasti dipake! Yang dicari, ya yang tepat!”

“Contohnya kayak apa, mbak?!”

“Kemarin, waktu Chelsea lawan MU! Kan Alvaro Morata yang ada diujung tombak! Tapi passing-passing yang dia harepin bukan dari tandemnya yang dikenal sebagai pemain terbaik! Malahan si Azpilicueta yang dia minta kasih umpan silang langsung ke arah kotak pinalti! Hasilnya, Morata bisa masukin bola ke gawang De Gea! Dan Chelsea menang!” urai Dinda.

“Wah, mbak merhatiin juga ya? Emang sih, si Azpi bukan pemain terbaik di Chelsea, apalagi posisinya di belakang! Tapi keduanya karena sama-sama main di timnas Spanyol jadi trust-nya beda ya, mbak?!” kata Gilang.

“Ya itulah, dek! Sekarang ini bisa dibilang sudah sangat jarang orang mencari sosok terbaik! Lebih diutamakan sosok yang tepat! Jadi kalo tim adek tadi kalah walo sudah menurunkan para pemain terbaiknya, bukan sesuatu yang harus disesali! Karena yang terbaik sekalipun, belum tentu tepat untuk dimainkan pada sebuah pertandingan!”

“Tapi logikanya, yang terbaik itu pasti bisa menempatkan posisinya dengan tepat, mbak?” sela Gilang.

“Nggak selalu gitu juga kali, dek! Dan teori mencari orang yang tepat, bukan yang terbaik itu sudah dipraktikkan oleh Jack Ma, big bos Alibaba yang kesohor dari Negeri Tiongkok sana! Sejak awal membangun bisnis e-commerce, dia konsisten dengan sikapnya!”

“Apa kata Jack Ma, mbak?!”

“Kamu membutuhkan orang-orang yang tepat bersamamu, bukan orang-orang terbaik! Gitu kata dia, dek! Dan dia bisa buktikan kalo pilihannya itu bener! Nah, kenapa kita nggak mau belajar dari orang sukses kayak Jack Ma itu!” kata Dinda.

“Jadi, posisi yang terbaik itu tersingkir dong, mbak?!”

“Nggak gitu juga, dek! Justru dari mencari orang yang tepat itu, kita akan temukan orang-orang terbaik di bidangnya! Kan nggak mungkin semua bidang mau ditangani satu orang! Sebaliknya, nggak mungkin pula orang yang tepat bisa sukses dalam beragam bidang! Disinilah kita harus mampu tampil dengan pola pikir yang berbeda, dek! Meski mungkin tak mudah orang memahami dan menerimanya!” lanjut Dinda seraya mengajak Gilang meninggalkan lapangan sepakbola. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *