Modal Keyakinan

SAAT menonton pertandingan final cabang olahraga tinju di ajang Porprov Lampung di Hall A PKOR Way Halim, kemarin malam, Gilang bertaruh dengan Dinda.

“Nurut mbak, yang bakal menang yang mana? Yang pake kaos merah apa biru?!” ucapnya.

“Mbak milih yang biru, dek?!” sahut Dinda.

“Oke, adek pegang yang merah ya, mbak? Pasti kalah yang biru itu! Liat dong, bisanya nyeruduk aja, nggak pakai taktik yang taktis!” kata Gilang.

“Jangan buru-buru menilai, dek! Ini ronde pertama baru mulai! Si biru lagi liat celah buat mainkan taktiknya!”

“Taktik apaan, mbak? Wong mainnya nyeruduk-nyeruduk gitu kok! Itu kan nunjukin kalo secara teknik, jagoan mbak kalah sama yang adek dukung!”

“Kelihatannya emang nyeruduk-nyeruduk, dek! Tapi liat aja, kena pukulan beberapa kali tetep tenangkan? Itu nunjukin kalo si biru punya keyakinan yang kukuh atas kemampuan dan pilihannya dalam bersiasat di atas panggung!” ujar Dinda.

Dan benar, akhir ronde ketiga dimenangi oleh petinju berkaos biru.

“Kok bisa menang ya, mbak? Padahal kan bisa dibilang cuma sekali dua aja jab-jabnya kena ke petinju kaos merah?” tutur Gilang setengah tidak percaya dengan kekalahan petinju yang dijagokannya.

“Emang cuma sekali dua aja pukulan si biru yang kena, dek! Tapi terukur dan bernilai tinggi! Petinju adek emang banyak mukul, tapi kan kena tangkis melulu dan nggak pernah tepat sasaran! Ini bukti kalo modal keyakinan, sikap pede dengan tetep cermat ngatur siasat bisa ngalahin yang secara teknis permainan punya kelebihan, dek!” sahut Dinda.

“Jadi modal yakin itu penting ya, mbak?!”

“Ya pentinglah, dek! Bahkan amat penting lo! Yakin sama diri sendiri, sama kemampuan diri sendiri, sama kecermatan diri sendiri itu amat penting, dek! Dan banyak yang telah ngebuktiinnya! Bahkan, pernah terjadi, seseorang masuk tentara tapi sejak awal nggak mau latihan pegang senjata! Tapi karena keyakinannya, dia malah menyelamatkan banyak tentara lain!”

“Kok bisa gitu, mbak? Emang apa ceritanya?” tanya Gilang.

“Ada seorang pemuda, anaknya veteran perang, ingin jadi tentara! Keyakinannya hanya satu; dia nantinya ikut perang buat nyelametin tentara yang terluka! Bukan perang untuk ngebunuh lawan!” urai Dinda.

“Terus mbak…?!”

“Karena keyakinannya itu, sejak awal latihan jadi tentara, dia nggak pernah mau pegang senjata! Dia pengennya jadi tim medis aja! Bahkan saat disidang karena dianggep nggak disiplin ikut aturan latihan pun, dia kukuh dengan keyakinannya, bahwa dia ikut perang buat nyelametin bukan buat ngebunuh!”

“Dengan keyakinannya itu akhirnya dia bisa berbuat banyak buat temen-temennya ya, mbak?!” kata Gilang.

“Bener, dek! Saat perang terjadi, antara tentara Amerika dengan Jepang, dia menyelamatkan banyak temennya yang terluka! Bukan itu saja! Musuhnya pun dia urus dan dengan segala kekuatannya dia selamatkan!”

“Emang dia nggak kena tembak juga tah di tengah peperangan itu, mbak?!”

“Ya kena juga sih, dek! Tapi nggak fatal, jadi dia tetep bisa lari sana-sini buat nyelametin tentara yang terluka! Menyeretnya ke bibir jurang dan menurunkannya lewat tali tempat pasukannya naik ke medan perang! Perannya amat besar bagi kemenangan pasukannya! Temen-temennya yang sebelumnya nggak nganggep dia, akhirnya membanggakan dia, dek!”

“Ternyata hebat ya pengaruh keyakinan itu, mbak?!” sela Gilang.

“Bener, dek! Keyakinan diri sendiri yang kuat itu akan membawa pengaruh besar bagi lingkungannya! Memang, orang yang modal yakin alias pede aja nggak bakal dilirik sebelumnya oleh banyak orang! Bahkan acapkali diremehkan keberadaannya! Tapi yakinlah, apapun itu awalnya dari keyakinan diri kita sendiri! Kalo kita sudah mantep, taktik dan sebagainya itu akan mengalir dengan bagusnya!”

“Ngomong-ngomong, mbak bisa cerita soal keyakinan itu dapetnya darimana ya?!” ucap Gilang.

“Dari nonton film, dek! Hacksaw Ridge kalo nggak salah judulnya! Setiap tontonan itu, kan pasti membawa pesan, dek! Tinggal kita aja; mampu nggak mengambil hikmahnya!” kata Dinda.

“Jadi termasuk nonton wayangan atau ngedengerin artis nyanyi abis jalan sehat itu juga berhikmah dong, mbak?!”

“Ya pastilah, dek! Hikmahnya ya nyenengin hati sesaat aja! Jauh dari keyakinan untuk munculnya geliat berbalas budi dengan nyenengin orang yang digadang-gadang jadi pimpinan! Karena tidak semua tontonan berhikmah melahirkan keyakinan pada diri kita! Walo banyak hikmah-hikmah lain tapi kalo nggak nimbulin keyakinan bagi yang nonton, ya nggak ada gunanya!”

“Jadi tontonan semacam itu cuma sekadar nyeneng-nyenengin hati aja ya, mbak?!”

“Ya iyalah, dek! Nggak bakal bisa numbuhin keyakinan bagi yang datang untuk saatnya nanti berbalas budi! Orang yang kukuh keyakinannya pada sesuatu itu, diminta tidak diminta, dicawe-cawe atau tidak, dianggep atau dilewat-lewatin aja, nggak bakal jadi penghianat dan pecundang! Karena dia akan pertaruhkan segalanya demi keyakinannya! Dan orang-orang bermodal keyakinan itu tidak banyak! Mereka adalah orang yang tangguh berkat seleksi alam, bukan yang memoles diri demi tampilan menyenangkan!” tutur Dinda lagi. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *