2 views

Soal Kursi

PAGI-pagi Dinda sudah merapih-rapih  kamarnya. Merubah tatanan furniturnya. Sesuatu yang amat jarang dilakukannya selama ini.

“Mau diapain kamarnya, mbak?!” tanya Gilang.

“Mbak mau taruh kursi panjang disudut, dek! Jadi ada tempat buat leyeh-leyeh!” sahut Dinda.

“Lha, kan sudah ada kursi itu, mbak! Lagian kalo mau leyeh-leyeh, kurang apa tempat tidur ini!?”

“Itu kan kursi buat belajar, dek! Nggak bisa buat selonjoran! kalo leyeh-leyeh di tempat tidur, ya pasti langsung liyer nanti!”

“Jadi yang mbak mauin dengan tambahan kursi panjang itu buat apa sebenernya?!” Gilang bertanya lagi.

“Ya buat leyeh-leyeh aja! Buat berleha-leha! Buat nambah nyaman aja kalo mbak aktivitas yang nyantai!” ucap Dinda.

“Kan bisa aja kursinya tetep di ruang nonton tivi! Selama ini juga mbak kan nggak ada yang ganggu kalo lagi selonjoran disitu! Lagian, jadi sumpek kamar mbak kalo kursinya dimasukin!”

“Adek, dalam kehidupan ini, Ada kalanya kita memerlukan suasana yang beda! Merasakan hal yang sebenarnya biasa namun punya makna yang lain! Punya cita rasa yang tak terduga! Dan hal-hal semacam itulah yang bisa membuat kita selalu bersemangat untuk menikmati kehidupan hingga ke dasarnya!” kata Dinda.

“Wah, filosofis sekali omongan mbak pagi ini! Jangan kebanyakan berfalsafah, mbak! Karena orang bisa menilainya macem-macem! Bisa nerjemahinnya kemana-mana!” sahut Gilang.

“Memang kita nggak bisa memaksakan orang lain untuk memahami omongan bersuasana filosofis seperti yang kita maksud, dek! Biarkan masing-masing menilai dengan kesepahamannya! Itulah seninya kehidupan! Dan dalam kehidupan itu mesti banyak seninya, banyak pernak-pernik kisah yang kita torehkan berbeda dengan kebiasaan!”

“Terus, urusannya dengan kursi panjang yang lagi mbak mauiin ngisi kamar juga apa?!”

“Jadi begini lho, dek?! Kalo kita memiliki pola pikir yang berbeda, maka hasil yang kita raih pun akan berbeda!”

“Maksudnya, mbak?!” tanya Gilang lagi.

“Ketika banyak orang terfokus memperebutkan kursi untuk tujuan diduduki, mbak mikirnya beda! Kursi yang mbak mauiin, buat leyeh-leyeh, buat berkegiatan dalam suasana nyantai! Buat merancang sesuatu dan merasakan sesuatu yang beda!”

“Tapi kan nggak lazim itu, mbak? Namanya kursi kan fungsi utamanya untuk diduduki, buat leyeh-leyeh?!” sela Gilang.

“Ya kan kursi itu banyak ragamnya, dek! Kalo yang panjang, nggak salah buat leyeh-leyeh! Disinilah kita selayaknya berterimakasih dengan para pembuat kursi! Karena improvisasinya, fungsi pun bisa jadi beragam! Dan hanya orang-orang tertentu saja yang mampu memahami betapa sebenernya memperebutkan kursi itu bukan tujuan! Sebab, hakekat keberadaan kursi adalah untuk melakukan dan menikmati sesuatu yang beda! Cita rasa yang lain dari kebiasaan kita bergaul dengan kursi!” tutur Dinda. (¬§)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *