168 views

Soal Naluri

CARA Gilang berjalan sudah gontai. Pertanda kelelahan. “Mbak, apa sih yang dicari? Adek sudah capek nih?!” ujar dia pada Dinda.

“Cari tempat makan yang enak, dek!” sahut Dinda sambil terus berjalan.

“Sepanjang jalan ini kan tempat makan semua, mbak?! Kuliner apa aja ada, kok masih cari juga?! Lagian mana mbak tau mana yang enak kalo kita nggak nyobanya?!”

“Mbak tau tempat makan yang enak sama yang biasa-biasa aja, dek! Sabar ajalah! Nanti juga ketemu kok!” kata Dinda.

“Berapa jauh lagi kita mau jalan, mbak? Sudah 2 Km lebih lho kita nyusuri jalan ini! Puluhan tempat makan sudah kita lewatin! Masak iya, nggak ada yang enak, mbak?!”

“Sabar ya, dek?! Mbak tau mana makanan yang enak! Buat apa kita mampir ke tempat kuliner kalo makanannya nggak enak?!”

“Darimana mbak tau makanannya enak apa nggak kalo nggak mampir-mampir?!” sela Gilang.

“Dari naluri, dek! Feeling! Insting mbak yang bicara!” ucap Dinda.

“Aduh, mbak! Urusan makan mah jangan pake naluri! Tapi dicicip pake lidah!” kata Gilang.

“Adek jangan salah! Dalam urusan mencari makanan, harus mengandalkan naluri! Kalo sudah sreg, baru lidah yang digunakan! Kalo naluri sudah nggak sreg, yakin aja, apa yang dimakan nggak enak dilidah dan nggak sreg waktu mengunyah!”

“Ah, mbak mah kebanyakan andalkan naluri! Padahal nggak selalu naluri kita sesuai dengan kenyataannya!”

“Ya memang sih, nggak semua sesuai naluri kita, dek! Tapi dengan mengandalkan naluri, kita akan bisa lebih mantap dalam nentuin pilihan!”

“Kalo buat urusan cari makan aja susahnya kayak gini karena andelin naluri, gimana dengan urusan-urusan lain ya? Wah, ribet dan bertele-tele kalo sama mbak ini!” kata Gilang.

“Jangan dipadankan urusan naluri dengan ribet dan bertele-tele dong, dek! Naluri itu mengajak kita pada selektifitas! Pada kehati-hatian! Pada kecermatan! Pada pergerakan sesuai dengan sregnya hati! Yang kesemuanya bermuara untuk kenyamanan, kenikmatan, dan merasakan sesuatu yang penuh cita rasa!” jelas Dinda.

“Gimanalah ya kalo mbak ini diajak ngurusi politik, pasti lembon bener ambil langkah-langkahnya!” ketus Gilang.

“Jangan salah! Justru orang yang mengandalkan naluri itu akan mampu memainkan urusan politik dengan piawai! Tak mudah mengambil sikap namun keputusan-keputusan yang diambilnya akan selalu yang terbaik!”

“Jadi karena pake acuan naluri itulah makanya orang-orang politik itu terkesan lembon ya, mbak?!”

“Bukan lembon, dek! Bukan lelet! Tapi naluri yang mengedepan dipadu-padankan dengan beragam pertimbangan lainnya! Disinilah makanya sering kali kita sulit menebak arah keputusan politik! Yang pasti, masing-masing kita punya naluri untuk bisa bersinergi satu sama lain! Persoalannya, tidak semua kita bisa menyatukan kesamaan naluri itu, akibat berbagai situasi, kondisi, dan perbedaan!” kata Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *