3 views

Soal Penghargaan

SORE tadi Gilang pulang ke rumah dengan wajah cerah ceria. Meski gayanya tetap cool, tapi tak bisa ditutupi bila hatinya tengah berbunga-bunga.

“Wah, lagi happy bener kayaknya, dek? Boleh mbak tau ada apa?!” sapa Dinda.

“Ini mbak! Adek dapet penghargaan sebagai pemain terbaik open turnamen futsal!” sahut Gilang sambil menyerahkan selembar kertas tebal nan bagus ke tangan Dinda.

“Alhamdulilah! Mbak selalu bangga dengan adek!” ucap Dinda seraya memeluk dan mencium Gilang.

“Iya, Alhamdulilah ya, mbak! Nggak nyangka adek mau dapet penghargaan ini! Memang ternyata kadangkala kita ada hal-hal tak terduga itu ya, mbak!”

“Betul, dek! Sepanjang kita lakuin sesuatu dengan maksimal, ada aja hal-hal tak terduga itu! Itulah seninya kehidupan, dek! Karena itu jangan selalu terpaku mengukur sesuatu dengan puncak-puncak pencapaian! Sebab, pada hakekatnya, naik sama sahnya dengan turun! Berhasil sama sahnya dengan belum berhasil! Jalani aja yang ada dengan pensyukuran yang tiada habisnya!” ujar Dinda.

“Iya sih, mbak! Adek juga heran kok bisa dapet penghargaan sebagai pemain terbaik ini! Tim adek cuma juara III! Adek ngegolin juga cuma 4 kali sepanjang open turnamen! Temen-temen adek, bahkan pelatih, aja heran dengan apa yang adek terima ini!” kata Gilang.

“Ya itulah secuil rahasia kehidupan, dek! Seringkali kita merasa banyak berbuat! Banyak lakuin hal-hal yang amat layak kalo kita dihargai! Malah kenyataannya nggak ada perhatian sama sekali! Nggak ada apresiasi sedikitpun! Bahkan dianggap layaknya ada dan tiada semata!”

“Bener juga ya, mbak?! Terus gimana kalo kayak gitu yang dialami?!”

“Nyantai-nyantai aja, dek! Kan emang nggak semua yang kita lakuin berharap ada penghargaan! Kan nggak semua yang kita perbuat mesti dapat applaus! Karena itu, lakuinlah sesuatu atas keinginan hati! Atas dorongan tanggungjawab! Atas nama loyalitas dan dedikasi! Bahwa ada penghargaan atau dihargai dan tidaknya apa yang kita lakuin, itu soal lain!” kata Dinda.

“Tapi kan kesel juga mbak kalo kita ngerasa sudah berbuat maksimal namun nggak dihargai!” sela Gilang.

“Makanya lakuin sesuatu itu atas keinginan hati! Atas nama loyalitas dan dedikasi pada sesuatu yang menjadi kepribadian kita, dek! Jadi rasa kesel yang ada, nggak bakal lama-lama mengendap di hati! Lagian, kalo kesel, keki, sakit hati dipendem di hati, malah nyakitin diri sendiri! Ngapain kita sakiti diri sendiri!”

“Jadi dibawa enjoy-enjoy aja ya, mbak?!”

“Ya iyalah, dek! Nggak usah memusingkan hal-hal yang tak selaras dengan impian apa yang kita angkankan! Karena banyak hal di bumi dan di langit yang jauh dari apa yang kita bayangkan dan inginkan!”

“Kalo gitu, sebenernya penghargaan kayak gini itu nggak berarti ya, mbak?!” ucap Gilang.

“Ya nggak gitu jugalah, dek! Tetep berarti dalam konteks untuk terus menyemangati adek agar bisa kembangkan potensi diri! Tapi, penghargaan yang sesungguhnya itu bukan diatas kertas! Bukan diomongan! Melainkan dalam perilaku! Dalam penempatan seseorang pada diri kita! Penghargaan yang alami itu ada pada batin kita, dek! Dengan begitu, seluruh perilaku dan tutur kata pun akan tergambarkan dengan apiknya!” kata Dinda.

“Gimana kalo kita ngerasa sudah berbuat yang terbaik sesuai kemampuan kita tapi tetep dicuekin aja, mbak?!”

“Berarti siapapun atau apapun yang tetep cuek itu tak bisa menghargai dirinya sendiri, dek! Karena pada hakekatnya, takkan ada penghargaan bagi yang tak menghargai! Dan, sekarang-sekarang ini, banyak diantara kita yang sudah lupa akan makna harga-menghargai itu! Ironisnya, kondisi itu tak disadari akibat tertutup kabut kekuasaan!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *