Soal Resolusi

“DEK, di tahun 2018 ini resolusi apa yang adek pancangin!” kata Dinda pada Gilang di sela-sela acara nyeruit bersama, siang tadi.

“Resolusi itu apaan sih, mbak?!” sahut Gilang.

“Masak nggak pernah denger apa nggak pernah baca soal resolusi sih, dek? Resolusi itu kata pengganti dari permintaan! Bisa juga dimaknai sebagai tuntutan! Tekad gitulah sederhananya, dek!”

“Sering sih adek denger dan baca, mbak! Cuma nggak paham apa maksudnya! Ketimbang sok tau, kan lebih baik tanya!”

“Iya, itu lebih baik, dek! Sebab diluaran sana sudah terlalu banyak orang yang sok tau! Yang kayaknya lebih tau dari pada orang yang punya badan!” sela Dinda.

“Yang mbak maksud itu apa ya?”

“Sudah bener adek tanya kalo nggak tau! Sebab banyak orang yang sok tau! Bahkan saking ngerasa sok taunya, kalo cerita tentang seseorang kayak lebih tau ketimbang orang yang di-kopo-in!”

“Kok mbak malah ngomongnya kemana-mana sih? Tadi tanyain soal resolusi adek! Malahan ngebahas sikap sok taunya orang! Jadi mana yang mau diobrolin ini, mbak?!” ucap Gilang.

“Ya sudah, ke soal resolusi aja ya, dek?! Apa resolusi di 2018 ini!” kata Dinda.

“Yang jelas, ya selalu berusaha berbuat baik dan benar, mbak!”

“Itu klise, dek! Yang konkret gitu lho, dek!”

“Lho, itu kan konkret, mbak! Kalo sudah berniat dan bertekad semacam itu, dari semua sisi kehidupan, relnya sudah jelas! Konkret kayak mana yang mbak maksud?!”

“Misalnya ini ya?! Adek pengen menjuarai 10 open turnamen futsal! Karena itu adek akan lebih rajin latihan!”

“Yah, itu kan bagian kecil dari berusaha berbuat baik dan benar itu, mbak! Sudah pastilah adek akan berjuang maksimal agar hari esok lebih baik dari hari ini! Semua kita -siapapun orangnya- pasti inginnya begitu, mbak! Nggak ada yang kepengen tahun ini lebih mundur dari tahun kemarin!” kata Gilang.

“Kalo itu mah sudah pasti jadi resolusi semua orang, dek! Maksud mbak itu yang detail gitu lho!”

“Mbak perlu tau ya, nggak semua hal mesti didetailkan! Mesti dirinci serinci-rincinya! Ketika kesepahaman sudah terbangun, tanpa kata pun, orang akan paham apa yang kita mauin! Dengan komitmen yang teruji! Dengan optimisme yang membalutnya! Geliat hati akan selalu tersambungkan! Resolusi dalam memahami kehidupan yang penuh warna inilah yang penting, mbak! Karena hal itu akan membawa kita pada peradaban yang lebih luas! Pada realita bila kita harus terus berusaha berbuat baik dan benar! Walo dimensi kemanusiaan kita nggak akan pernah mencapai kesempurnaan!” urai Gilang.

“Wah, filosofis sekali omongannya, dek! Resolusi itu lebih kepada personal kita, bukan ke orang lain! Jadi gregetnya ya buat pribadi kita!” kata Dinda.

“Mbak nggak salah! Bahwa resolusi itu jadi hal mendasar buat pribadi kita, bener itu! Tapi jangan lupa, kita kan makhluk sosial, yang akan selalu bersinggungan dengan orang lain! Karena itu, apa yang jadi resolusi kita ya harus bisa membawa nilai lebih bagi orang lain juga!”

“Kalo resolusi mbak pengen jadi Ketua kelas lagi, kan kebanggaannya ada pada mbak, dek?!” sela Dinda.

“Eh jangan lupa, mbak! Mbak jadi Ketua kelas itu karena ada teman sekelas yang milih! Bahwa ada kebanggaan personal mbak, itu bener! Tapi yang lebih bener, kebanggaan itu milik semua yang memilih mbak! Jadi yang namanya resolusi itu, sepersonal apapun, tetep akan membawa pengaruh untuk orang lain! Untuk lingkungan kita! Untuk orang-orang yang dekat dengan kita!”

“Kalo gitu, bagusnya resolusi itu cukup dimantepin di hati aja ya, dek?! Nggak perlu diomongin ke orang lain?!” ujar Dinda.

“Sebaiknya, untuk kita, ya nggak usah diomongin, mbak! Cukup mantepin di hati, wujudin di perbuatan dan dilaksanakan! Yang penting, perubahan positif itu terbangun dan punya makna untuk kehidupan ke depannya!”

“Mbak dengerin di tivi, banyak pejabat yang blak-blakan nyampein resolusi di 2018 ini, gimana nurut adek?!”

“Ya, itu kan pejabat, mbak! Emang punya kewajiban nyampein ke publik! Kalo kita kan bukan siapa-siapa! Jadi ya nggak perlu ngumumin! Yang terpenting adalah kemantapan jiwa! Dan, pada resolusi apapun itu, nggak terbebaskan dari keikutsertaan Tuhan! Itu sebabnya,   kita mesti makin menyadari bila apapun yang ada, apapun yang pernah terjadi, dan yang akan ada nantinya, takkan lepas dari campur tangan Tuhan! Yang pas adalah resolusi berdimensi ketuhanan, mbak! Bukan resolusi sekadar penghias pergantian tahun!” tutur Gilang. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *