8 views

Soal Kebersamaan

“MBAK, kenapa sih kalo mau nonton selalu nunggu temen-temen? Gimana kalo mbak pas pengen nonton, temen-temen mbak lagi nggak kepengen nonton?!” kata Gilang, sore tadi.

“Untuk kebersamaan aja sih, dek?!” sahut Dinda sambil bersiap-siap pergi untuk nonton film di XXI.

“Jadi, kalo nggak sama temen-temen, baikan nggak nonton ya, mbak?!”

“Sebenernya ya nggak gitu juga, dek! Kalo nonton sama temen-temen kan lebih seru, dek! Kita bisa sekalian ngobrol-ngobrol, kongkow-kongkow! Namanya juga remaja zaman now!” kata Dinda sambil tertawa.

“Tapi selama ini kayaknya mbak nggak pernah deh nonton yang nggak sama temen-temen?!”

“Iya sih! Paling juga sama adek atau mama! Intinya kalo nonton sama temen-temen itu asyik, dek! Terus terjaga kebersamaannya!”

“Namanya kebersamaan itu kan nggak harus selalu runtang-runtung, mbak?! Nggak harus selalu jalan bareng! Nggak mesti harus¬† nempel kayak perangko ke amplop!” sela Gilang.

“Ya emang nggak harus gitu juga kali, dek! Tapi, pada waktu-waktu tertentu, pada kesempatan-kesempatan tertentu, yang namanya kebersamaan itu mesti ditunjukin! Nggak cukup cuma dirasa-rasa aja!” ucap Dinda.

“Ya tapi kan nggak bagus juga mbak kalo atas nama kebersamaan selalu perlu ada temen walo hanya sekadar untuk nonton film? Kebersamaan itu nggak diukur dalam suasana kegembiraan aja, mbak! Yang lebih bermakna adalah ketika kita dalam posisi sulit! Itu pun jangan dinilai dari adanya temen disamping kita saat itu!”

“Jadi maksudnya kayak mana, dek?!”

“Kebersamaan yang sesungguhnya, yang hakiki, itu bukan diliat dari kedekatan fisik semata, mbak! Menyatunya pikiran dan hati itulah kebersamaan yang suci! Kedekatan atau pertemuan fisik itu sekadar pelengkapnya saja!” tutur Gilang.

“Ya susahlah ngukur kebersamaan dari pikiran dan hati orang, dek! Mana bisa kita ngukurnya? Wong rambut sama hitam tapi pikiran kita beda-beda?!” sela Dinda.

“Semua bisa diukur dan dinilai, mbak! Nggak ada di dunia ini yang nggak bisa dinilai! Termasuk dalam menilai kebersamaan yang sesungguhnya itu!”

“Kayak mana misalnya, dek?!”

“Misalnya ini ya, mbak? Ketika mbak dukung salah satu tim di pertandingan sepakbola! Temen-temen mbak tau kalo akhirnya tim favorit mbak itu kalah! Mereka nunjukin ekspresinya dengan mengungkap kekecewaan, kekeselan bahkan kemarahan, itulah sesungguhnya temen yang punya kebersamaan dengan mbak! Walo mungkin selama ini mbak nggak pernah sama sekali say hallo atau peduli dengan mereka!” kata Gilang.

“Jadi, ngukur kebersamaan itu ketika kita dalam posisi sulit atau kecewa dan muncul beragam respon, baik positif atau negatif ya, dek?!” ucap Dinda.

“Iya, itu cara ngukurnya, mbak! Kalo mbak alami suatu suasana sulit terus yang katanya temen cuma diem aja, maka sesungguhnya dalam pikiran dan hati mereka nggak ada yang namanya kebersamaan dengan mbak itu! Jadi, ngukurnya bukan dengan kuantitas bersama kesana-sini, mbak! Kualitas kebersamaan itulah yang sebenarnya lebih bernilai dalam kehidupan ini!”

“Tapi kan nggak mudah buat tau kualitas kebersamaan itu, dek?!”

“Ya memang nggak mudah, mbak! Itu sebabnya, kita harus pake pikiran dan hati dalam membangun pertemanan, sehingga kita punya kekuatan batin untuk mengukurnya! Karena dalam kebersamaan batin itulah sesungguhnya kita bisa saling asah, asih, dan asuh!” tutur Gilang sambil menyilahkan Dinda naik ke Mobil untuk berangkat, nonton film. (¬§)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *