0 views

Soal Naturalisasi

“HEBAT ya pimpinan PSSI sekarang, dek! Gencar menggelorakan kemajuan sepakbola! Sistem pembinaan juga diprogramkan dengan baik! Suatu saat, tim kita bisa juara dunia kalo semua rencana itu berjalan bagus,” kata Dinda sore tadi setelah nonton TV yang mengulas program sepakbola Indonesia ke depan.

“Ya memang harus diakui, sekarang ini roda organisasi sepakbola kita berjalan bagus, mbak! Kompetisi-kompetisi juga berjalan baik! Cuma kadangkala nggak konsisten dalam melanjutkan proses pembinaan aja!” sahut Gilang.

“Proses pembinaan yang gimana maksudnya, dek?!”

“Iya sih sekarang ini klub-klub bola tumbuh subur dimana-mana! Sampai di kampung-kampung! kompetisi dan liga-liga juga berjalan bagus! Itu semua kan bagian dari proses pembinaan dan pengembangan bakat anak-anak bangsa di dunia sepakbola, mbak! Yang targetnya akan menguatkan tim nasional kita!”

“Iya, terus kenapa?!” tanya Dinda.

“Ketika sudah menyangkut kepentingan timnas, mulailah terpotong itu proses pembinaannya, mbak! Pola rekrutmennya menjadi bias! Lahirlah pola rekrutmen bertajuk naturalisasi! Dan ini mendominasi!” kata Gilang.

“Emang apa salahnya naturalisasi, dek? Kan legal itu! Yang di-naturalisasi-kan karena ada ikatan darah sebagai anak bangsa?! Lagian, yang di-Indonesia-kan itu pastinya punya kemampuan diatas rata-rata pemain yang lahir, latihan bola, jadi pemain bola, dan berkarier di dunia bola disini! Justru dengan naturalisasi itu akan nambah kekuatan timnas!” sela Dinda.

“Sebetulnya nggak juga sih, mbak! Banyak pemain yang sejak ngek lahir sampai berkarier bola disini yang kualitasnya nggak kalah! Karena itu, setiap kali ada proses rekrutmen bertajuk naturalisasi, pasti akan dapet tanggepan beragam dari masyarakat! Kayak sudah nggak ada lagi aja yang bisa main bagus sampe harus me-naturalisasi-kan pemain!”

“Soal ada tanggepan beragam itu wajar-wajar aja sebenernya, dek! Nggak semua tanggepan kan mesti kita sikapi! Sebaliknya, nggak semua keputusan mesti kita tanggepi! Yang penting kan manfaatnya bagi timnas bagaimana, kan itu?!”

“Ya nggak salah sih itu, mbak? Cuma kan kalo menghadirkan pemain naturalisasi itu butuh proses yang nggak sederhana! Perlu pengenalan, mulai dari karakter, kebiasaan, sampai ke hal-hal yang disukai dan nggak disukai! Belum lagi bagaimana kemampuan maksimalnya dalam bermain bisa diwujudkan, kan perlu kesepahaman-kesepahaman! Wong yang sudah saling kenal dan tau gaya main juga kesukaannya aja sering nggak paham dengan kode-kode yang disampaikan kok!”

“Disinilah seninya kita dalam menempatkan rekrutmen berpola naturalisasi itu, dek!” ucap Dinda.

“Seni gimana maksudnya, mbak?!” sela Gilang buru-buru.

“Seninya itu ya jangan dikembangkan soal rekrutmen naturalisasinya! Tapi ambil hikmahnya! Teteplah positif dalam berpikir dan menerimanya! Karena sebenernya, dengan pola itu, banyak hal baik yang tak terbayangkan oleh banyak orang!”

“Maksudnya gimana sih, mbak! Adek nggak nyambung lho!”

“Dengan pola rekrutmen naturalisasi itu, yang pasti pemainnya sudah punya skill yang bagus! Mental juga pasti sudah teruji! Sudah pasti dia punya fans di berbagai wilayah! Apalagi dia kan pasti punya keluarga karena ikatan darahnya, keluarganya pasti akan penuh kebanggaan mempromosikan saudaranya itu! Dan, begitu dia diturunkan ke lapangan bisa nunjukin kualitas mainnya yang memang hebat, semua penggemar bola pasti akan mensupport dia pada permainan selanjutnya!” urai Dinda.

“Tapi ada negatifnya juga, mbak? Karena merasa jadi pemain baru berkat proses rekrutmen berpola naturalisasi, beban moralnya terhadap kemenangan timnas banyak diragukan?! Dianggep belum teruji semangat juang dan gengsinya sebagai anak bangsa!” kata Gilang.

“Yah, orang bisa ngomong dan nilai apa aja, dek! Justru itulah, semua sebenernya ya kembali kepada yang di-naturalisasi! Sehebat apapun pelatih dan pemain lain, termasuk support dari fans, nggak akan berguna kalo yang di-naturalisasi tak bisa membaurkan hati, pikiran, dan seluruh kemampuannya untuk tim yang dibanggakan! Intinya memang, semua terpulang kepada pemain yang di-naturalisasi itu sendiri, dek! Bukan pada proses rekrutmennya!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *