9 views

Soal Supertim

SELEPAS menonton film Superman, Gilang terkagum-kagum dengan kehebatan sang superhero. “Luar biasa ya, mbak! Semua urusan beres dengan satu orang!” ucap dia.

“Itu kan di film, dek! Dalam kehidupan nyata nggak bisa jadi kenyataan!” sela Dinda.

“Oh gitu, mbak! Tapi kan kehebatan Superman di film tadi kan adanya di dunia nyata! Jadi ya tetep bisalah diwujudin di dunia nyata?!”

“Ya, mungkin, untuk hal-hal tertentu, bisa aja, dek! Tapi kalo mau mencapai hasil maksimal, harus menggunakan supertim! Bukan Superman!”

“Maksudnya apa itu supertim, mbak?!”

“Ya membentuk tim yang super, dek! Namanya tim itu kan harus lebih dari dua tiga orang! Mendayagunakan kemampuan personalnya untuk bermain dalam tim! Istilah kerennya the dream team gitulah, dek!” ucap Dinda.

“Tapi kan nggak mudah mbak ngebentuk tim yang super itu? Apalagi ngumpulin personal yang hebat-hebat kemampuannya! Gimana-gimana juga tetep ada persaingan antar personal di tim itu!” kata Gilang.

“Ya emang nggak mudah, dek! Lagian, yang namanya persaingan antar personal itu tetep ada! Itu sudah hukum alam! Sadar tidak sadar, yang namanya persaingan atau merasa disaingi itu pasti akan Ada! Jadi emang, perlu kepiawaian, sikap bijak, kecermatan, dan objektivitas yang tinggi untuk membangun supertim itu!”

“Siapa yang harus piawai, harus bijak membangun supertim itu, mbak?!”

“Kalo di klub sepakbola, ya pelatihnya, dek! Dia yang harus mampu meramu seluruh kekuatan personal pemainnya dengan baik, sehingga lahir supertim itu!”

“Jadi sepenuhnya ditangan pelatih ya, mbak?!” tanya Gilang.

“Pelatih yang lebih menentukan, dek! Dia punya otoritas untuk itu! Mulai dari menurunkan ego personal pemainnya sampai kecermatannya menurunkan siapa aja dalam setiap pertandingan! Tatkala lapangan becek, pelatih tau mesti menurunkan siapa! Ketika menjelang akhir pertandingan dalam posisi kritis, dia harus tau siapa yang akan dimasukkan ke lapangan dan siapa yang diganti!” urai Dinda.

“Wah, berat juga ya ternyata membentuk tim super itu, mbak?!”

“Ya begitulah, dek! Termasuk ngirim pemain untuk menonton pertandingan klub calon lawan nantinya! Menganalisanya! Menemukan formula untuk mengalahkannya! Juga membangun hubungan yang baik dengan fans sendiri dan merekrut fans-fans klub lain! Itu semua harus dipikirkan oleh pelatih!”

“Kunci utamanya agar terbangun dan terjaga supertim itu gimana, mbak?!”

“Sang pelatih harus memahami karakter masing-masing pemainnya! Menurunkan ego personalnya! Membangun jaringan diluar klub! Karena itu, pelatih harus sering memberi perhatian pada pemain-pemainnya! Sehingga terbangun ikatan batin yang kuat!”

“Jadi, ikatan batin juga harus dibangun ya, mbak! Bukan kedekatan fisik semata!” ujar Gilang.

“Harus itu, dek! Kedekatan batin itulah yang paling penting! Kalo hal itu sudah terbangun, secara fisik jarang bertemu pun, tak akan mengurangi kebersamaan dalam tim! Apapun akan dilakukan sesuai arahan pelatih! Pelatih ngangguk-ngangguk aja, anggota tim sudah paham maksudnya!”

“Nurut mbak, mungkinkah supertim itu bisa dilahirkan nyambut pilgub nanti?!” tanya Gilang.

“Nggak ada yang nggak mungkin, dek! Kuncinya, semua yang ada di klub harus benar-benar punya semangat dan ikatan batin yang kuat: bahwa kepentingan klub yang diemban sang pelatih adalah tanggung jawab kita semua! Hilangkan segala superior personal! Gelorakan kebersamaan yang suci dan tulus! Sebab, yang bisa memenangkan pertandingan bukanlah Superman! Tapi supertim!” lanjut Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *