Soal Doa

SELEPAS solat ashyar, Dinda tidak beranjak dari sajadahnya. Ia tepekur. Khusu’ berdoa. Gilang yang menunggu di pintu musolla tampak sudah tak sabar. Sampai akhirnya melihat Dinda mengatupkan kedua telapak tangan ke wajahnya.

“Lama bener sih doanya, mbak?!” kata Gilang.

“Lama mana dibandingkan kita ngobrol sana-sini, dek? Kalo kongkow antar sesama aja tahan berlama-lama, masak saat berdialog dengan Tuhan dilakukan sesingkat-singkatnya!” ucap Dinda sambil tersenyum.

“Ya nggak gitu juga kali, mbak?! Doa kan nggak mesti berlama-lama! Adek sampe pegel lho nungguin mbak?!”

“Memang nggak perlu berlama-lama dalam berdoa, dek! Tapi kita kan perlu secara khusu’ dan waktu tersendiri untuk menghiba pada Tuhan! Kita perlu ketenangan batin, penyatuan diri secara total saat menyampaikan permohonan, harapan, dan pengampunan!” ujar Dinda yang merebahkan dirinya di sajadah tetap memakai telekung.

“Jadi untuk berdoa itu selain perlu waktu juga kekhusu’an ya, mbak?!”

“Ya iya dong, dek! Doa itu kan sebuah ekspresi akan kenisbian kita sebagai makhluk! Kesadaran akan keterbatasan, akan ketergantungan, akan ketidaksempurnaan kita! Dan pengakuan itu semua bisa diekspresikan melalui doa! Jadi memang perlu waktu tersendiri, ketenangan dan penyatuan batin!”

“Banyak yang menilai, doa adalah sebuah pengakuan akan kalo kita lemah! Karena itu banyak orang yang jarang mau berdoa dengan sungguh-sungguh akibat khawatir dianggap lemah! Gimana itu, mbak?!” tanya Gilang.

“Ya memang kita semua pada hakekatnya lemah, dek! Walo memang tidak kita tunjukkan dalam pergaulan keseharian! Boleh-boleh saja kita merasa kuat, merasa hebat, tapi pada saat bersamaan kita harus menyadari bahwa tapakan kehidupan kita tergantung sepenuhnya pada Tuhan! Karenanya jangan lepas doa!”

“Kenapa jangan lepas doa, mbak?!”

“Karena melalui doa itulah Tuhan akan terus menerus memayungi kita dengan kasih dan sayangnya! Tentu doa yang benar-benar disampaikan dengan penuh kesungguhan! Dengan penuh kesucian hati! Dengan kesadaran personal makhluk yang menggantungkan hidupnya pada Tuhan setelah melalui beragam proses perjuangan!”

“Begitu dahsyatnya doa ya, mbak! Terus kalo pas ngadepin momen-momen besar, siapa yang mestinya berdoa?!”

“Dalam situasi apapun, masing-masing kita-lah yang mesti tak lepas doa! Orang lain menguatkan doa-doa kita! Dan bagi orang yang suka berdoa, semua yang terjadi, yang dilakoni, yang bergetar di hati, tak lepas dari kehendak Tuhan! Jangan kita ingkari itu semua! Karena kekuatan doa mampu membelah langit! Menurunkan hujan kedamaian atau memberi terang yang menyejukkan!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *