12 views

Soal Kegamangan

LAMA Gilang memandangi judul-judul film yang akan ditayangkan di bioskop. Bolak-balik dia lihat gambar yang melatari film-film itu.

“Cepetan dong, dek! Kita ini mau nonton apa sebenernya?!” kata Dinda yang tak sabaran ingin segera membeli tiket.

“Sabar dikit sih, mbak? Adek kan mau liat-liat gambarnya dulu!” sahut Gilang.

“Liat sih liat, dek! Tapi ya nggak perlu sampe lama gini jugalah?!”

“Kan harus jelas juga, mana yang sreg untuk ditonton, mbak? Nggak asal aja!”

“Ya itu bener, nggak salah, dek! Cuma kalo kelamaan gini, berarti adek itu ragu! Adek penuh kegamangan! Sulit menentukan pilihan!” ucap Dinda.

“Iya kali ya, mbak? Adek emang ragu dan gamang ya?! Semua bagus sih! Jadi bingung mau nonton yang mana!” kata Gilang.

“Baru urusan nentuin film yang mau ditonton aja adek sudah gamang gini! Gimana kalo ngadepin hal-hal lain!”

“Adek perlu mikir keras hingga penuh kegamangan,  karena ini menyangkut sesuatu yang akan buat kita seneng, mbak! Melihat sesuatu yang bisa menurunkan beban pikiran! Mengendurkan urat syaraf! Juga membuat kita ceria dan happy setelahnya! Kan itu alasan kenapa kita mau nonton! Maka adek nggak mau buru-buru mutusinnya!” urai Gilang.

“Adek nggak salah! Nonton emang buat hiburan! Buat merasakan sesuatu yang bisa bawa kita pada suasana enjoy! Tapi ya nggak perlulah mesti selama ini mutusinnya! Karena sutradara ngerancang film itu emang niatnya buat ngehibur! Bukan buat orang jadi stres!” ketus Dinda.

“Iya juga ya, mbak! Sejak awal ngerancang buat film, sutradara dan penulis naskahnya pasti diniatin buat kasih hiburan pada yang nonton! Tapi kenapa kok adek malah gamang gini ya nentuin mau nonton film apa kita sore ini!”

“Itu karena adek terbawa dalam suasana serius! Adek kayak mau milih beli buku bacaan! Padahal urusannya kan beda! Kalo nonton film, itu full buat hiburan, walo tetep ada pengalaman kehidupan yang bisa kita petik! Kalo beli buku, itu buat ngisi otak! Nambah wawasan! Nah, karena kelambanan alur pikir adek menghadapi situasi, jadi kegamangan itulah yang muncul! Ditambah adek nggak bisa cepet beradaptasi!” ucap Dinda.

“Jadi gimana dong biar adek nggak terkungkung dalam kegamangan, mbak?!”

“Sederhana aja kok, dek! Tinggal tanya hati aja, adek sreg nonton yang mana!” kata Dinda.

“Sesederhana itu, mbak?!” tanya Gilang.

“Iya, dek! Sesederhana itu emang! Ngadepin sesuatu, ngelakoni sesuatu, atau nyikapi atas sesuatu itu, cukup tanya pada hati kita sendiri aja! Sreg apa nggak! Kalo hati oke, ya jalani! Kalo nggak sreg, ya hindari! Karena sesungguhnya, kegamangan akan tertutupi oleh sesuatu yang bergerak atas dasar suara hati! Alam pikir dan fisik kita akan berekspresi atas sesuatu juga sesuai suara hati! Manakala kita menutupi suara hati, kegamangan itulah yang akan dirasakan!” jelas Dinda.

“Kegamangan itu kan juga karena suara hati, mbak?!” sela Gilang.

“Itu betul, dek! Karena itu bulatkan suara hati! Lantunkan senandungnya ke alam pikiran dan pergerakan fisik! Emang nggak gampang buat itu, dek! Tapi bagi orang-orang tertentu, segamang apapun dia, takkan pernah terbaca!”

“Kenapa bisa begitu, mbak?!”

“Karena kepiawaiannya menyeimbangkan suara hati dan pergerakan fisiknya! Padahal belum tentu, ia tak menyimpan kegamangan! Maka mbak pesen ke adek, kalo gamang, tanya hati sendiri; sreg apa nggak! Jadi tetep bisa bersikap tanpa tercerabut dari akar kemanusiaan kita! Yaitu suara khalwat batin yang terdalam! Nah, ini yang harus sama-sama kita renungin, dek!” kata Dinda sambil spontan memutuskan nonton film Susah Sinyal. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *