6 views

Soal Relawan

“MBAK, adek disuruh guru untuk jadi relawan! Maksudnya apa sih?!” tanya Gilang, sore tadi.

“Relawan itu seseorang atau sekelompok orang yang melakukan sesuatu tanpa pamrih, dek!” ujar Dinda.

“Maksudnya tanpa pamrih itu gimana, mbak?!”

“Ya melaksanakan tugas dengan keikhlasan, dek! Disini bukan cuma soal jalanin tugas aja, tapi juga kesesuaian dengan kemauan hati!”

“Jadi maksudnya ngelakuin hal-hal lebih kepada emang kita suka ya, mbak? Nggak ngarepin dapet apa-apa, gitu ya?!”

“Ya semacam itulah, dek! Makanya hanya orang-orang tertentu aja yang bener-bener bisa membaiatkan dirinya sebagai relawan, dek! Sebab, yang namanya relawan itu bekerja dengan hati! Bergerak dengan keikhlasan! Berjuang dengan keyakinan bahwa semua yang dilakukan adalah bagian dari ibadah!” kata Dinda.

“Berat juga ya ternyata jadi relawan itu, mbak?” sela Gilang.

“Ya memang berat, dek! Rasa itu lebih kepada ketulusan kita! Lebih kepada penekanan kepentingan-kepentingan personal kita dalam melakukan tugas!”

“Tapi kenapa kok banyak aja orang yang mau jadi relawan ya, mbak?!”

“Bagus itu, dek! Banyaknya orang yang mau jadi relawan itu justru nunjukin kalo di zaman yang serba perhitungan sekarang ini, masih banyak orang yang lebih mendahulukan keyakinannya, suara hatinya, dan komitmennya bagi kepentingan sesama! Sewajarnya kita taruh penghormatan untuk mereka-mereka yang telah meneguhkan dirinya sebagai relawan, dek! Karena dalam kehidupan ini, baik pada saat damai atau pun perang, keberadaan para relawan sangat dibutuhkan!”

“Nurut mbak, seberapa besar peran relawan dalam perjuangan?!” tanya Gilang.

“Besar sekali, dek! Dengan kekuatan keyakinan batinnya, dengan pergerakan lahiriyah dan alam pikirnya, akan membuat banyak orang menaruh simpati atas apa yang mereka perjuangkan! Rakyat tahu mana yang benar-benar tulus dan tanpa pamrih dalam memperjuangkan sesuatu yang diyakininya, dan mana yang berjuang karena berharap imbalan! Itu sebabnya, dalam kontestasi apapun, ketulusan dan keikhlasan itu amat dominan perannya! Bahwa itu semua selayaknya dilengkapi dengan fasilitas, ya itu penguatan semata! Bukan penentu!” urai Dinda.

“Tapi kan relawan nggak dapet apa-apa, mbak? Sedang yang bukan relawan bisa dapet sesuatu? Gimana dong!”

“Dalam perjuangan itu, ada nilai-nilai yang tak terukur, dek! Yaitu kepuasan! Kenikmatan dalam memperjuangkan sesuatu yang kita yakini benar! Memenangkan sesuatu yang kita yakini akan membawa kebaikan bagi mayoritas sesama! Nilai itu nggak bisa dipadupadankan dengan kita mendapatkan sesuatu saat berjuang!”

“Jadi kalo mau memenangi sebuah pertarungan, semangat relawan yang mestinya kita gelorakan ya, mbak?!”

“Iya, bener itu, dek! Dalam memasuki gelanggang pertarungan, siapapun kita, berjabatan apapun kita, semangat ke-relawan-an itulah yang harus digelorakan! Manakala semangat dan komitmen berjuang setulus hati dan penuh keikhlasan itu sudah terbangun, kita akan diberi kekuatan tersendiri oleh Tuhan! Selain setiap hembusan nafas kita, alur pikir diskusi kita, pertemuan-pertemuan kita, dan pergerakan kita ke masyarakat akan tercatatkan sebagai nilai ibadah! dan kita tau, Tuhan akan mencatatkan ibadah sebagai amal kebaikan buat kita!”

“Kalo gitu, seharusnya kita semua bersemangat sebagai relawan ya, mbak? Nilai kemanusiaan berjalan, nilai keibadahan juga didapatkan?!” ucap Gilang.

“Semestinya begitu, dek! Mbak yakini, orang-orang bersemangat relawan itulah yang akan banyak mengukir karya nyata dalam meraih kemenangan! Bukan yang berpikir: apa yang aku dapatkan dalam perjuangan! Persoalannya, tak mudah meratakan semangat ke-relawan-an itu! Karena semua kembali pada seberapa bersih hati kita dalam memperjuangkan sesuatu yang kita yakini!” tutur Dinda lagi. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *