0 views

Soal Sepeda

“NGGAK capek tah mbak, baru pulang sekolah langsung mau main sepeda?!” tanya Gilang, sore tadi, pada Dinda.

“Kalo ngikutin capek mah ya capeklah, dek! Mana tadi di sekolah, mbak diminta tunjukin kemampuan balet!” sahut Dinda.

“Ya kalo capek, ngapain maksa main sepeda lagi, mbak?! Besok-besok kan masih ada waktu!”

“Mbak sudah hampir seminggu nggak main sepeda, dek! Rasanya ada yang kurang bagi mbak! Mumpung masih agak sorean, mbak manfaatin waktu yang ada sampe maghrib!”

“Emang apa sih manfaatnya main sepeda itu, mbak? Kok sampe mbak ngerasa ada yang kurang?!” tanya Gilang.

“Manfaatnya banyak, dek! Badan jadi sehat! Seger buger! Tapi bukan itu aja yang mbak rasain! Ada nilai-nilai spiritualnya juga, jadi main sepeda itu nggak semata bawa manfaat lahiriyah!” ucap Dinda.

“Maksudnya main sepeda bawa nilai spiritual itu apaan sih, mbak?! Setau adek, soal sepeda itu ya yang penting ngegoes aja!”

“Gini lo, dek! Untuk bersepeda itu kan kita harus mampu menjaga keseimbangan badan! Juga terus bergerak! Ngegoesnya mesti teratur! Itu lahiriyahnya, nah spiritualnya, dalam kehidupan ini musti menjaga keseimbangan! Antara lahir dan batin! Kita juga harus terus ngegoes, itu maknanya, kita musti terus bergerak! berekspresi! Mengoptimalisasi potensi diri! Nggak boleh statis! Harus terus berupaya, berjuang dengan kesungguhan!”

“Nggak nyangka kalo mbak bisa dapet makna spiritual semacam itu dari main sepeda lo! Kirain, ya kayak orang-orang kebanyakan aja, yang penting ngegoes, keringet basi bercucuran!” kata Gilang sambil nyengir.

“Kita kan musti cermat dan cerdik dalam mencari nilai intrinsik dari sebuah permainan, dek! Sepeda itu kan juga bagian dari mainan kehidupan, jadi tetep ada nilai-nilai yang bisa kita petik untuk penguatan semangat batiniyah kita!” jelas Dinda.

“Tapi kan nggak mudah mbak nemuin nilai spiritual dari sebuah permainan? Mayoritas orang ya hanya utamain lahiriyahnya aja!”

“Emang nggak semua kita bisa menemukan sesuatu -nilai batiniyah- yang tersembunyi dibalik sebuah permainan, dek! Disinilah kecermatan dan suara hati kemanusiaan kita diperlukan! Manakala dimensi lahiriyah semata yang diunggulkan, maka praktik-praktik pemberangusan atas letupan suara hati akan dimatikan! Perbedaan pilihan akan dikategorikan sebagai ancaman dan oleh karenanya musti buru-buru dipadamkan dengan beragam cara!” urai Dinda.

“Maka itu ngadepin pilgub ini banyak rakyat yang mulai ditakut-takuti, diancam dan sebagainya ya, mbak? Karena pendekatan lahiriyah lebih dominan?!” ujar Gilang.

“Itu salah satu contohnya, dek! Padahal, kalo kita terbiasa jaga keseimbangan dan pergerakan yang teratur dari kebiasaan main sepeda, hal-hal kayak gitu nggak perlu dilakukan! Praktik-praktik pemberangusan luapan aspirasi rakyat itu sudah bukan eranya lagi! Di zaman now ini selayaknya ditumbuhkembangkan pola yang rancak!”

“Pola kayak mana yang pas di zaman now ini nurut, mbak?!”

“Digelorakan pola tawassut alias moderat! Pola tasamuh alias toleran! Pola tawajun alias harmoni dan pola i’tidal alias konsisten! Dengan √©mpat pola ini, akan melahirkan suasana riang gembira setiap kita ngadepin pesta demokrasi, dek! Nggak akan ada lagi ketakutan-ketakutan yang nggak perlu ditakuti! Nggak Ada lagi tekanan-tekanan bagi yang berbeda aspirasi dan pilihan! Karena yang tercuatkan adalah politik kenegaraan, kerakyatan Dldan etika, sebagai implementasi dari empat pola tadi!” kata Dinda.

“Mbak optimis pola itu selaras dengan zaman now?!” sela Gilang.

“Ya optimislah, dek! Orang-orang zaman now yang mahamin nilai intrinsik dari main sepeda juga pasti optimis! Persoalannya; banyak diantara pemain sepeda lebih ngutamain kekuatan fisiknya dibanding memetik manfaat spiritualnya!” sambung Dinda sambil menjalankan sepedanya, meluncur di jalanan. (¬§)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *