29 views

Fenomena Dilan

“ADUH, mbak! Ngapain sih nonton film Dilan lagi? Bukannya minggu kemarin mbak sudah nonton! Bahkan sampe harus ke Bandung nontonnya! Karena lokasi syutingnya disana!” ucap Gilang, petang tadi.

“Bagus tau, dek! Mbak suka dengan alur ceritanya! Dengan ekspresi dan akting pemain-pemainnya! Ayolah kita nonton lagi nanti malem!” kata Dinda.

“Ya tapi nggak lazim lho nonton film sampe dua kali itu, mbak? Lagian kata temen adek di sekolah tadi, semua bioskop sekarang ini masih antri untuk beli tiket buat nonton film Dilan itu!”

“Urusan nonton film itu nggak ada kaitannya dengan lazim nggak lazim, dek! Ini urusan hiburan yang nyenengin diri sendiri plus dapet pelajaran kehidupan! Mau nonton berkali-kali juga nggak ada yang ngelarang! Nggak boleh orang nyebut kita norak! Karena masing-masing kita punya cara sendiri untuk mendapatkan yang namanya hiburan atau tontonan apa yang kita suka!”

“Ya tapi masih antri, mbak? Ntar-ntar aja kalo sudah mulai sepi aja! Adek mau nemeninnya!” kata Gilang.

“Kalo nunggu sepi yang nonton, bisa minggu depan, dek! Ini kan mumpung malem libur! Kalo besok sekolah, mana boleh sama buya dan mama nonton malem-malem!” sela Dinda.

“Emangnya apa sih yang buat mbak sampe pengen nonton film Dilan lagi?!”

“Alur ceritanya, dek! Merangkai tontonan yang tak mengubah karakter kemanusiaan yang dimainkan pemainnya dengan bagus! Akting pemainnya bener-bener natural! Menggambarkan karakter seseorang apa adanya aja! Nggak dibuat-buat!”

“Misalnya kayak apa, mbak?!” tanya Gilang.

“Makanya nonton, dek! Yuk dong kita nonton!” ucap Dinda.

“Ya kasih sepenggal ceritanya aja dulu ke adek! Kalo tertarik, baru adek pertimbangkan soal nonton nggaknya!”

“Jadi, si Dilan itu tampil apa adanya! Walo termasuk anak orang punya dan bermartabat, dia nggak sok-sokan! Sederhana! Nakal tapi nggak kasar! Dia punya cara sendiri dalam menggambarkan penaklukan cintanya buat Milea! Pokoknya, kita yang nonton film itu akan temukan banyak ilmu kehidupan yang sesungguhnya!”

“Maksudnya dapet ilmu kehidupan yang sesungguhnya itu kayak mana, mbak?!”

“Ya nggak pura-pura, dek! Nggak lebay! Ngelakuin hal-hal yang seirama antara suara hati dan pikiran! Terekspresi dengan apa adanya aja! Nggak maksain diri! Nggak bohongin suara hati sendiri! Tulus dalam pertemanan! Nggak ngeharep pamrih dari sesuatu yang dilakuin! Jadi ya enjoy dan happy-happy aja apapun yang dikerjainnya, dek! Inilah kenapa film Dilan itu jadi fenomena tersendiri saat ini!” jelas Dinda.

“Jadi, fenomena Dilan sekarang ini karena mampu berikan pelajaran kehidupan yang natural, alamiah tanpa polesan kepentingan, gitu ya mbak?!” kata Gilang.

“Ya itu sebagiannya, dek! Banyak pelajaran lain yang bisa kita petik! Intinya, Dilan mengajak yang nonton untuk menjadi diri sendiri dalam situasi dan kondisi apapun! Ngelakuin hal-hal yang emang sreg di hati, walo mungkin bagi orang kebanyakan hal itu bukan sesuatu yang biasa! Dia juga menaruhkan geliat cinta sebagai rahmat dan anugerah! Yang hukum-hukum alami pun tak akan mampu mengubah alurnya!”

“Wah, begitu mendalami bener ya mbak dengan nilai yang ada dibalik tayangan film Dilan itu?!” sela Gilang sambil tersenyum.

“Kita kan harus bisa dapetin nilai positif dari apapun yang kita lihat, dengar, baca dan tonton, dek?! Karena sesungguhnya, tak ada pergeseran waktu sedetik pun yang tak membawa makna! Tinggal kita mampu nggak mengemas pergeseran yang terjadi menjadi sebuah pembelajaran!”

“Kayaknya perlu juga ya nonton film Dilan ini, mbak?!”

“Soal perlu nggaknya, tergantung pribadi masing-masing, dek! Kalo adek ngerasa perlu hiburan sekaligus dapetin ilmu kehidupan, ya ayok kita nonton! Karena akan nggak ada manfaatnya manakala kita tak tergerak hati untuk nonton! Apalagi bagi mbak, adek mau nemenin apa nggak, ya nggak ada masalah! Sebab mbak berani nonton sendiri!” kata Dinda.

“Kalo gitu adek nonton, mbak! Selain nemenin mbak, adek juga pengen cari hiburan sekalian dapetin ilmu kehidupan!” ujar Gilang.

“Tapi adek nggak terpaksakan? Karena kalo terpaksa atau memaksakan diri, sekadar nyesuaiin diri dengan fenomena yang ada sekarang ini, nggak akan adek dapetin sesuatu yang bermakna! Jadilah diri sendiri, itu kata kuncinya!” kata Dinda sambil tersenyum saat melihat Gilang buru-buru ganti pakaian untuk berangkat ke gedung bioskop. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *