Soal Menyepi

SEHARIAN Dinda tidak keluar dari kamarnya. Mengurung diri. Pintu kamar pun terkunci. Kalo pun dipanggil, hanya mendehem. Sampai akhirnya waktu makan malam tiba, baru dia keluar kamarnya.

“Ngapain sih seharian di kamar aja, mbak?!” tanya Gilang saat bertemu Dinda di meja makan.

“Nggak apa-apa! Lagi pengen aja!” sahut Dinda dengan cueknya.

“Punya pengen kok ngurung diri di kamar sih, mbak?! Yang namanya pengen itu ingin ngelakuin sesuatu yang buat hati seneng!”

“Lho, hati mbak seneng kok, dek! Dengan diem di kamar, mbak happy-happy aja! Bahkan lebih happy dibanding keluyuran!”

“Ah, nggak mungkinlah, mbak! Kalo dengan ngurung diri di kamar seharian malahan happy, pasti banyak orang yang milih menyepi kayak mbak hari ini dibanding aktivitas diluar kamar!” kata Gilang.

“Adek perlu tau ya! Ada kalanya kita ingin menyepi! Mencari suasana yang beda dari biasanya! Merasakan dan menikmati sesuatu yang juga lain dari yang biasa kita rasain! Dengan menyepi, ada sesuatu yang tak biasa! Ada sesuatu yang bergelora! Dan itu penuh keteduhan!” sahut Dinda.

“Menyepi itu biasanya dilakuin oleh orang yang mencoba lari dari sesuatu, mbak?”

“Nggak juga, dek! Menyepi itu suatu refleksi dari keindahan tersendiri yang kita inginkan! Jangan adek kira orang-orang diluaran itu semuanya merasakan kebahagiaan! Menikmati sesuatu yang sakral dan penuh keceriaan yang sesungguhnya!”

“Maksudnya apa, mbak?!” Tanya Gilang.

“Banyak orang yang ada di tengah keramaian dan tampil penuh keceriaan, sesungguhnya ia merasa sendiri! Merasa sepi! Hatinya kering! Terbelenggu oleh sesuatu yang hanya ia sendiri yang tahu!” kata Dinda.

“Ah, masak sih, mbak? Nggak mungkinlah orang yang merasakan sepi bisa berbaur dalam kerumunan banyak orang?!”

“Adek, memahami kehidupan ini nggak mudah! Nggak bisa hitam putih! Apalagi memahami karakter orang! Menerobos khalwat batin seseorang! Itu sebabnya, pada waktu-waktu tertentu, orang yang bener-bener memahami hakekat kehidupan, akan menyepi! Mendialogkan dirinya sendiri! Mendiskusikan antara alam batin dan pikirannya! Mencoba mencari dan menemukan dirinya yang sesungguhnya! Kesempurnaan dimensi kemanusiaannya yang tengah dibedah dalam penyepian itu!” tutur Dinda.

“Emang dengan menyepi kayak mbak hari ini akan ditemukan apa sih?!” sela Gilang.

“Kita akan dapetin sesuatu yang beda! Menikmati sesuatu yang tak biasa! Menggelorakan semangat tersendiri! Sejenak terlepas dari belenggu kehidupan selaku makhluk sosial! Hal-hal kayak gini emang sepertinya sederhana, bahkan banyak yang menilai nggak masuk akal! Tapi itulah yang mbak rasain!”

“Emang baiknya kapan kita lakuin menyepi kayak mbak ini?!”

“Tergantung pada pribadi masing-masing, dek! Nggak harus seminggu atau dua minggu sekali! Tapi lebih kepada kesempatan dan sregnya hati aja! Karena soal menyepi ini adalah ekspresi privacy seseorang, yang tentu tak akan pernah sama dengan orang lain!”

“Oh gitu, mbak! Jadi sebaiknya kita lakuin perenungan dengan menyepi ini ketika kejenuhan tak tertahankan ya?!”

“Bukan itu masalahnya, dek! Tapi lebih kepada kemauan kita sendiri! Dan bagi yang tau nikmatnya menyepi, sesibuk apapun dia, pasti akan meluangkan waktunya! Persoalannya; jarang di antara kita yang menyadari bahwa ada kerinduan tersendiri dengan menyepi! Ada perdialogan yang membelah sampai ke langit! Karena dengan menyepi, kita akan kian tau betapa nisbinya kita di alam ini! Menyepi adalah menyatukan sesuatu yang sudah digariskan Tuhan! Dan tentu saja itu penuh keindahan, yang akan kita tebar dalam keramaian kehidupan diluar penyepian!” ucap Dinda sambil meneruskan makan malamnya. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *