21 views

Dialog Machiavelli

“ASYIK amat sih baca bukunya, mbak? Kalo kayak gini cara belajarnya, ya pantes aja mbak pinter!” kata Gilang saat melihat Dinda tengah khusuk membaca sebuah buku.

“Ini bukan buku pelajaran, dek! Tapi buku karangan tokoh yang namanya sampai saat ini kontroversial! Khususnya terkait urusan kekuasaan dan mertahanin kekuasaan! The Prince judulnya! Karya Machiavelli!” sahut Dinda.

“Oh gitu, mbak? Wah, berat amat bacaannya, mbak?”

“Mbak pengen tau aja kenapa begitu tersohornya Machiavelli ini, dek! Sampai-sampai ketika urusan kekuasaan jadi pembicaraan atau waktu-waktunya mau merebut kekuasaan, selalu aja ada pesan agar jangan gunakan teori Machiavelli!”

“Kenapa begitu, mbak? Kok kesannya Machiavelli itu menularkan virus nggak bener gitu?!”

“Karena dia berpendapat; untuk merebut kekuasaan, diperbolehkan menggunakan cara apapun, dek! Termasuk dengan despotik! Menghalalkan segala cara! Nah, setelah mbak baca salah satu karyanya ini, ternyata nggak gitu sebenernya!”

“Yang mbak dapetin dari baca bukunya Machiavelli itu emangnya apa?!” tanya Gilang.

“Jadi begini, dek! Era itu, Italia kan selalu gonjang-ganjing! Pikiran kekuasaan Machiavelli pun dipengaruhi oleh seting kondisi di masa itu! Zaman renaissance kan emang negara diarahkan untuk tifak sampai dikuasai oleh agama! Tapi nggak berarti meruntuhkan otoritas agama!”

“Adek pernah denger dari guru, kalo Machiavelli itu membolehkan penguasa untuk berbohong, menindas rakyatnya buat mertahanin kekuasaannya lho, mbak?!” sela Gilang.

“Iya, itu emang betul ada dalam bagian pemikirannya, dek! Karena saat itu situasi negaranya sedang tidak stabil! Jadi ya wajar jika ia berpendapat begitu!” ucap Dinda.

“Kalo gitu, sebenernya, nggak bisa dong kita apriori gitu aja dengan pemikiran dia ya, mbak?!”

“Emang semestinya kita pahami juga latar belakang atau situasi saat pesohor pemikiran itu mengakumulasi alur olah otaknya, dek! Jadi kita bisa lebih bijak dalam menilai! Dan sebenernya, banyak pikiran Machiavelli yang bagus kalo kita pelajari secara utuh kok!”

“Misalnya kayak apa, mbak?!”

“Machiavelli bilang; seorang penguasa harus mengetahui wilayah dari tindakannya dan apa yang wajar dilakukan! Untuk melakukan sesuatu, seseorang harus mengetahui medan yang dihadapi, dan memiliki tujuan untuk meraih sukses! Emang dia membenarkan untuk mencapai tujuan, kekuasaan dapat dilakukan dengan berbagai cara! Tapi dia juga mengingatkan agar rakyat harus kuat, harus dipersenjatai dengan pengetahuan sehingga mereka tidak diperdayai oleh penguasa!” urai Dinda.

“Jadi sebenernya, Machiavelli pun tetep ngangkat harkat dan martabat rakyat ya, mbak? Kok selama ini yang diagungkan cuma pikirannya yang halalin segala cara buat ngerebut kekuasaan aja ya, mbak?!”

“Itulah perlunya kita memahami secara utuh atas segala sesuatu itu, dek! Jangan separonya aja! Apalagi belum apa-apa sudah apriori! Sejelek apapun seseorang yang dikatakan orang lain, jangan begitu saja kita ikut-ikutan! Orang nggak suka dengan pikiran orang lain, jangan ujug-ujug kita ikut-ikutan nggak suka pula! Orang menilai kepemimpinan seseorang hanya pas-pasan aja, jangan kita ikut-ikutan mendeksipsikannya demikian juga! Karena semua pasti ada sebab musababnya! Ada asbabun nuzulnya!”

“Oh gitu ya, mbak? Gimana kalo orang menilai kekuasaan nggak berpihak sama rakyat, mbak?!”

“Yang menilai itu diajak dialog aja, dek! Karena dia pasti punya argumen! Sebaliknya, sadarkan dia, bahwa pemegang kekuasaan itu juga rakyat, hanya naik pangkatnya akibat memegang kekuasaan! Jadi hal yang mustahil, anak rakyat nggak mikirin rakyatnya! Disinilah kita harus mengedepankan dimensi kemanusiaan kita, dek!” kata Dinda.

“Maksudnya gimana, mbak?!”

“Bahwa sebagai manusia biasa, sebagai rakyat, kita terdiri dari jiwa yang berbadan dan badan yang berjiwa! Artinya, sekurang apapun penguasa melakukan tugasnya, dialoglah dengan badan seutuhnya kita, sehingga kita temukan kesadaran; bila masih ada kekurangan itulah makanya kita -sebagai rakyat- kembali memberi kesempatan kepada penguasa untuk meneruskan kekuasaannya yang jelas alurnya menuju tujuan hidup manusia yakni kebahagiaan! Dan sesungguhnya, itulah pesan utuh dari beragam alur pikir Machiavelli! Itu nurut mbak, dek!” lanjut Dinda sambil meneruskan membaca bukunya. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *