Soal Beras

“ADEK, manfaatin dan nikmati bener nasi yang kita makan sekarang-sekarang ini! Karena bisa aja, bulan depan kita nggak rasain nasi dari beras petani kita sendiri!” kata Dinda saat makan malam tadi.

“Lho, emang kenapa, mbak? Petani kita nggak panen padi ya? Bukannya justru sekarang sampai beberapa bulan ke depan masa panen di beberapa kabupaten kita di Lampung?!” sahut Gilang.

“Kalo panen, ya panenlah, dek! Bahkan surplus kok! Pasokan beras petani kita sih banyak! Nurut itungan, produksi padi kita tahun kemarin mencapai 4,4 juta ton, kebutuhan cuma 3,2 juta ton! Artinya, hasil petani kita di Lampung ada surplus 1,2 juta ton! Tapi sekarang ada ancaman bagi hasil panen petani itu! Bakal masuk beras asal Thailand sebanyak 5.500 ton! Beras impor ini pasti bakal ngalir ke pasaran, dek! Ngegeser hasil padi para petani kita!”

“Kok bisa mbak? Kan mau panen raya, kenapa malah impor beras?!” sela Gilang.

“Itulah uniknya kebijakan pemerintah, dek! Nggak selalu duluin kepentingan rakyatnya! Kepentingan segelintir orang yang nguasai dunia ekonomi selalu diduluin! Lagian, ini keputusan pemerintah pusat! Daerah cuma nrimo aja!”

“Terus gimana dong hasil panen petani nanti? Kan dengan adanya impor beras asal Thailand itu, harga beras hasil petani pasti akan turun?! Sia-sia aja dong upaya pemerintah Provinsi dan kabupaten yang selama ini berjuang ngangkat nasib petani dengan peningkatan hasil panennya?!”

“Sudah pasti petani nggak bakal nikmati hasil usahanya dengan maksimal, dek! Karena harga akan turun! Apalagi nurut data Badan Pangan PBB (FAO), sejak tahun 2000 lalu, rata-rata harga beras di Indonesia 50% sampai 100% lebih mahal dari harga beras di Thailand dan Vietnam! Jadi bisa diprediksi, semua petani di daerah kita nggak bakal nikmati harga tinggi, dek!”

“Padahal, beras itu kan amat dibutuhkan oleh semua kita ya, mbak? Kok petani yang susah payah nanemnya nggak bisa seneng?!”

“Itu bener, dek! Realitanya emang gitu! Untuk adek tau aja, 46,45% pengeluaran rata-rata per kapita orang kita adalah untuk beli makanan! Jadi, perlu penanganan serius untuk menjaga kestabilan harga pangan di pasaran! Kalo beras impor diluncurin waktu panen, itu sama aja dengan matiin kehidupan petani! Yang berdampak pada kita-kita yang sudah terbiasa makan nasi dari beras petani sendiri!” ucap Dinda.

“Jadi gimana supaya petani kita nggak malah jatuh miskin di saat panen raya nanti, mbak? Kan nggak mungkin beras 5.500 ton asal Thailand itu cuma disimpen di gudang Bulog doang?!”

“Ya kita semua -sebagai rakyat Lampung- harus terus beli beras hasil petani daerah sendiri, dek! Jangan beli beras asal daerah lain buat kebutuhan makan sehari-hari! Nggak perlu ada aturan soal ini mah, dek! Karena sudah terlalu banyak aturan tapi nggak jalan! Kesepakatan hati kita aja, buat kebanggaan kita kalo semua yang kita makan sepenuhnya hasil pertanian petani daerah kita sendiri!” kata Dinda.

“Jadi kembali pada diri kita sebagai sesama rakyat Lampung ya, mbak?! Itu kunci untuk terus ngebantu hidup petani-petani kita ya?!” ujar Gilang.

“Iya, harus gitu, dek! Selama ini kan nasi yang kita makan berasnya asal daerah sendiri, dek! Mana mau mama beli beras asal daerah lain! Lagian, emang beras kita bagus-bagus kok, nggak kalah dengan daerah lain! Pulen dan nikmat malahan!”

“Bagus juga itu, mbak! Nanti adek bilang ke temen-temen, untuk minta mama mereka hanya beli beras asal daerah kita sendiri! Kalo semangat kayak gini terus bergulir, perlahan tapi pasti, kehidupan petani kita juga akan terus membaik ya, mbak?!”

“Bener itu, dek! Kita sebagai rakyat Lampung harus pake beras hasil petani sendiri! Jangan beli beras dari daerah lain! Itu baru bener-bener kita rakyat Lampung yang bangga dengan semua yang ada di bumi Lampung! Jangan beli beras impor itu, karena yang untung petani negara lain! Yang untung segelintir orang kita yang dicekoki oleh kepentingan orang lain! Mereka-mereka itu nggak mikirin nasib petani kita! Nggak mikirin susah payahnya pemerintah daerah ngangkat hasil panen sampai surplus! Yang mereka pikirin cuma dapet untung dari ngeluncurin beras impor dan kita semua jadi sapi perahan!” tegas Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *