17 views

Soal Status

“KOK adek nggak ikut main lagi di tim futsal sekolah? Kan adek masih masuk tim inti bahkan kapten Tim?!” tanya Dinda sore tadi.

“Nggak ada instruksi dari pelatih, mbak! Jadi ya ngapain capek-capek nyiapin diri buat pertandingan besok?” sahut Gilang, cuek.

“Tapi kan status adek jelas! Kapten tim futsal sekolah! Belum digantikan?!”

“Iya sih, sampai saat ini emang adek masih berstatus sebagai kapten tim futsal sekolah, mbak! Cuma latihan sore ini kan adek nggak dikasih tau! Ya ngapain adek dateng?!”

“Mestinya adek ya dateng dong ke tempat latihan! Kan status adek kapten dan juga tim inti, masak nggak dateng cuma karena nggak dikasih tau?!” sela Dinda.

“Mbak perlu tau ya! Temen-temen yang hari ini latihan itu satu persatu dikontak sama pelatih! Berarti yang nggak dikontak ya dianggep nggak diperluin lagi! Karena adek nggak dihubungi, nggak ada instruksi, gitu juga beberapa temen lain, ya ngapain dateng?!” ucap Gilang.

“Aneh juga ya, dek! Sampe saat ini adek masih jadi kapten tim! Status adek jelas, kok nggak diajak latihan! Emang kenapa, dek?!”

“Nggak usah dipikirin, mbak! Status itu kan sekadar atribut aja! Nggak ngaruh juga kok buat adek! Status itu kebanyakan diberikan karena yang memberi lagi punya kepentingan aja, mbak! Begitu kepentingannya selesai, ya nggak dipeduliin lagi!”

“Maksudnya gimana, dek?!”

“Adek sebagai kapten tim kan sudah meraih tiga tropy juara pertama di lima event open turnamen, mbak! Nama adek jadi dikenal! Nah, mungkin pelatih ngerasa kalo adek tetep jadi kapten, yang lain nggak bisa berkembang! Lagian dunia ini emang aneh, mbak! Orang lebih bangga kalo berstatus! Padahal selama ini, tanpa status pun mereka sudah jalankan tugasnya!” kata Gilang.

“Konkretnya kayak mana sih, dek?!” tanya Dinda.

“Terlepas dari soal adek yang berstatus kapten tapi nggak jelas ini ya, mbak! Beberapa hari lalu, ribuan tenaga kerja sukarela (TKS) dikasih surat keputusan! Yang ironisnya, katanya lho, sudah puluhan tahun mereka nggak pernah dapet SK!”

“Terus gimana, dek?!”

“Lha, kalo sampe puluhan tahun nggak dapet SK, mereka sebagai TKS itu dasarnya apa ya?! Ini kan aneh bin ajaib, mbak! Ada ribuan TKS yang ngurusi masalah kesehatan tapi nggak ber-SK! Masak iya di jaman now gini ada ribuan orang mau kerja puluhan tahun tanpa status? Nggak masuk akalkan?!” urai Gilang.

“Emang ada yang kayak gitu, dek?!” sela Dinda.

“Ada mbak! Buktinya di media-media ada beritanya! Ini sebenernya aksi permainan status yang kayak mana ya? Kok bisanya, ribuan orang jadi TKS sampe belasan bahkan puluhan tahun nggak ber-SK!”

“Tapi sekarang sudah ber-SK ya, dek?! Statusnya jelas ya sekarang, kok bisa ya?!”

“Beberapa hari lalu, dalam sebuah prosesi besar-besaran, SK buat para TKS itu diserahkan! Sekarang ribuan orang itu berstatus jelas, mbak! Masalahnya, kok baru sekarang status itu diperjelas?!”

“Kali karena mau pilkada, dek! Itu bagian dari upaya dapetin simpati! Ya sah-sah ajalah, dek?!”

“Iya sih, semua juga tau kalo pemberian status itu karena kepentingan sesaat aja, mbak! Cuma kok ya dengan santainya mensosialisasikan kalo ribuan TKS itu puluhan tahun kerja nggak ada dasarnya, nah sekarang baru jelas statusnya! Orang kan jadi ketawa, mbak! Lha selama ini ngapain aja kok nggak dikasih kejelasan status?!”

“Emang seberapa besar sih status itu memengaruhi kinerja, dek?!”

“Ya nggak ngaruh-ngaruh amat sih, mbak? Buktinya, sudah belasan bahkan katanya puluhan tahun nggak ber-SK aja tetep kerja! Jadi paling-paling SK-nya bakal dipasang di pigura dan ditaruh di dinding rumah, buat liatan tamu kalo si empunya rumah jelas statusnya!” ujar Gilang.

“Kalo emang status yang diperjelas dengan pemberian SK nggak ngaruh-ngaruh amat kenapa repot-repot buatin SK ya, dek?!” kata Dinda.

“Karena sebenernya bukan soal kejelasan status itu yang utama, mbak! Tapi permainan kalo sekaranglah perhatian nyata itu diberikan yang paling utama! Ujung-ujungnya ya minta dukungan dalam pilkada!”

“Jadi, pemberian status itu demi pilkada ya? Kalo nggak karena itu, ya nggak bakalan dikasih SK dong?!”

“Ya gitulah, mbak! Seringkali kita terjebak dalam sebuah pemberian status! Padahal sebenernya, itu semua nggak bawa pengaruh apa-apa buat diri kita! Kayak adek, dikasih status sebagai kapten tim futsal, gitu nggak dipanggil latihan, ya dibawa enjoy-enjoy aja! Toh tanpa status pun adek tetep hobi main futsal dan bisa main di gelanggang mana aja!”

“Jadi intinya kita jangan terkungkung oleh status ya, dek? Apalagi kalo itu diatributin ke kita karena orang lain berkepentingan?!” kata Dinda.

“Iya, bener itu, mbak! Karena nggak ada jaminan ketika kepentingan orang yang kasih status itu terwujud, kita akan dihargai! Kebanyakan, justru dengan status yang ada, langkah kita malahan terbatas! Ini yang harus dihindari! Jadi diri sendiri tanpa status apapun pemberian orang lain, rasanya akan lebih nikmat dan enjoy! Itu yang adek rasain!” tutur Gilang. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *