Soal Berkehendak

“LHO, katanya mau ke rumah temen yang rayain Imlek? Kok malah mandi aja belum to dek?!” ujar Dinda pada Gilang, sore tadi.

“Nggak tau ini, kok males bener rasanya, mbak!” sahut Gilang sambil terus main gadgetnya.

“Adek itu keasyikan main gadget, makanya males ngapa-ngapain! Kalo diterusin, jadi nggak kepengen apa-apa ntar! Taunya main dan males-malesan aja! Nggak ada kemauan, nggak ada kehendak! Padahal yang namanya manusia itu ya mesti berkehendak, dek!”

“Nyantai aja sih, mbak? Lagian besok libur ini! Maksudnya apa sih berkehendak itu, mbak? Baru ini kayaknya adek tau kalimat itu!”

“Berkehendak itu kata lain untuk punya kemauan, dek! Punya keinginan! Ada sesuatu yang dimauin gitu lho! Pada hakekatnya, manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak!” kata Dinda.

“Tapi bukan berarti yang kayak adek males-malesan gini nggak berkehendak kan, mbak? Nggak keluar dari esensi kemanusiaankan?!” sela Gilang.

“Yang namanya berkehendak itu ada actionnya, dek! Nggak diem aja! Keinginan itu diekspresikan dalam laku atau ucap!”

“Jadi yang kayak adek gini gimana dong, mbak?!”

“Bahasa ilmiahnya, dalam perilaku berkehendaknya, kelakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya, dek! Karena itu, pada dasarnya manusia tidak dapat tidak berkehendak!” ucap Dinda.

“Karena esensi kemanusiaan itu berkehendak makanya nggak boleh diem dan males-malesan aja ya, mbak?” kata Gilang.

“Lha iyalah, dek! Kalo apa-apa nggak mau, taunya cuma main, taunya makan, dan seneng-seneng aja, ya berarti keluar dari dimensi kemanusiaan kita sendiri! Berkehendak itu ada keinginan buat melakukan sesuatu! Buat merengkuh yang jadi impian dan harapan! Dan itu emang harus dilakukan! Bahasa agamanya, berkehendak itu adalah ikhtiar! Usaha, perjuangan dan doa!”

“Tapi kan nggak semua kehendak kita bisa terwujud kan, mbak?!”

“Ya iya dong, dek! Kemanusiaan kita kan penuh kenisbian! Penuh keterbatasan! Penuh ketidaksempurnaan! Semua daya upaya, perjuangan dan doa, hasil akhirnya Tuhan yang menentukan!”

“Dan ketika Tuhan berkehendak, selesailah segala impian itu, gitu ya, mbak?!” sela Gilang.

“Sebagai orang yang beragama, ya harus kita yakini begitu, dek! Ketika Tuhan telah berkehendak, itulah yang harus kita terima! Enak nggak enak, ya wajib kita syukuri! Karena kehendak Tuhan pasti membawa makna positif!”

“Walopun karena kehendak Tuhan itu semua impian dan harapan yang telah diperjuangin dan didoain selama ini seakan habis gitu aja, mbak? Walo yang dialami kayak langit runtuh mendadak?!” tanya Gilang.

“Iya, dek! Ketika Tuhan berkehendak, pasti ada hikmah dibaliknya! Baik buat diri pribadi maupun orang banyak! Jadi, enak nggak enaknya secara lahiriyah atas adanya kehendak Tuhan, selayaknya kita semua untuk selalu menyadari bahwa di atas langit, ada langit! Dan langit yang seutuhnya itu ada dalam bagaimana berkehendaknya Tuhan! Dan ketika kita ikhlas menerima kehendak-Nya, ada kenikmatan tersendiri yang tak pernah dirasakan sebelumnya, yaitu menginsyafi akan tetep ringkihnya kita dibalik kegagahan yang terelu-elukan!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *