0 views

Soal Pengalaman

WAJAH Dinda tampak selalu murung pertanda prihatin setiap kali melihat Gilang terpincang-pincang selepas mengikuti pertandingan futsal.

“Nyantai aja sih, mbak? Nggak usah keliatan sedih gitu!” kata Gilang yang bisa membaca wajah Dinda sebagai ekspresi sedihnya.

“Ya gimana nggak sedih sih, dek! Setiap kali adek tanding, pasti udahnya terpincang-pincang kayak gini! Kasian mbak itu liat adek!” sahut Dinda sambil menyambut Gilang keluar lapangan permainan, petang tadi.

“Namanya juga permainan kaki, ya terpincanglah, mbak! Kalo main basket, ya tangan yang keseleo! Biasa aja itu mah, mbak! Nyantai aja!”

“Ya nggak gitu juga kali, dek! Nggak mesti setiap main terus cedera! Orang lain bisa gagah-gagah aja kok, kenapa adek selalu kayak gini! Berarti ada yang salah!”

“Salah apa maksudnya, mbak?!” tanya Gilang.

“Salah di cara mainlah pastinya, dek! Kenapa temen nggak selalu cedera, kok adek pasti aja kayak gini! Melas mbak ngeliatnya!” ucap Dinda.

“Adek kan nggak apa-apa sih, mbak! Jangan diberatin gitu dong!”

“Nggak apa-apa gimana? Wong selalu cedera gini kok! Nurut mbak, ini nyangkut soal pengalaman, dek! Yang salah nurut mbak, adek kelewat pede!”

“Jadi maksudnya, adek kurang pengalaman makanya tiap tanding selalu cedera, gitu ya mbak?!” sela Gilang.

“Iya, nurut mbak ya itu, dek! Karena kurang pengalaman, jadi adek nggak piawai menjaga diri dari segala kemungkinan mendapat cedera!” kata Dinda.

“Adek ini sudah belasan kali ikut pertandingan besar, mbak! Lawan tanding pun beragam kemampuan! Bahkan kapten tim futsal sekolah! Masak dibilang kurang pengalaman? Ngecilin amat sih, mbak?!” ketus Gilang.

“Mbak tau, adek itu pemain favorit di sekolah! Nama adek selalu disebut-sebut penonton pas bawa bola, apalagi kalo ngegolin! Tapi nggak cukup itu aja, dek! Perlu juga jaga badan agar nggak keseringan dapet cedera kayak gini! Nah, adek perlu mencuri pengalaman temen-temen, yang mainnya biasa-biasa aja tapi nggak selalu terpincang-pincang setiap abis pertandingan! Seninya jaga badan itu lho yang perlu dipelajari, dek!” Dinda menjelaskan.

“Jadi adek harus gimana, mbak?!”

“Coba belajar membuka diri, dek! Mau dialog sama temen-temen! Sharing, tukar informasi soal pengalaman masing-masing! Jangan mersigeng sama pikiran sendiri! Yang luwes, dengerin masukan orang walo mungkin adek lebih tau!”

“Kata banyak orang, yang namanya pengalaman itu nggak bisa dipercepat, mbak! Jadi ya jalani dulu baru dapet pengalaman?!”

“Nggak gitu juga kali, dek! Pengalaman bisa dipercepat melalui sikap terbuka kita mendengarkan masukan orang lain! Sikap merendah kita walo tak sampe merendahkan diri! Sikap santun kita walo sebenernya kita keras kepala! Intinya, sehebat apapun kita, secerdas apapun kita, kalo nggak mau denger masukan, saran dan kritikan orang lain, ya nggak bakal dapetin pengalaman sebagai bekal yang memadai buat ngelangkah ke depannya!” urai Dinda.

“Jadi, faktor pengalaman itu amat menentukan ya, mbak?!” kata Gilang.

“Oh iya dong, dek! Belajar dari pengalaman orang lain itu yang lebih bagus, dek! Jadi kita bisa meramu sesuai dengan karakter kita! Di era sekarang ini, dimana pola expert power lagi trend, pengalaman itu bisa dibilang yang utama!” tutur Dinda.

“Maksudnya pola expert power lagi trend itu apaan sih, mbak?!” sela Gilang.

“Kan ada beberapa pola dalam meraih kekuasaan atau kemenangan itu, dek! Salah satunya disebut expert power! Maksudnya, meraih kekuasaan atau kemenangan melalui keahlian seseorang dalam memangku jabatan atau posisi tertentu! Disini keahliannya yang jadi tolok ukurnya!”

“Misalnya, mbak?!”

“Adek kan kapten tim futsal, nah dengan keahlian adek main, memenej tim, mengantisipasi permainan lawan dan kemampuan jalanin instruksi pelatih, itu amat nentuin! Kalo adek dipertahanin terus jadi kapten, berarti adek memainkan pola expert power! Untuk itu, pengalaman amat diperluin! Tapi faktanya kan nggak gitu? Setiap main, adek pasti cedera!” kata Dinda.

“Jadi konkretnya adek mesti kayak mana nih, mbak?”

“Banyak ngebuka diri aja! Terima masukan, saran dan kritikan dari banyak orang! Jangan ngerasa paling tau! Jangan sombong! Jangan ngecilin orang karena kita ngerasa besar! Biasa-biasa ajalah, karena kenikmatan hidup yang sesungguhnya itu ada dalam kesepahaman perasaan! Bukan pada pangkat dan kehebatan! Dan, pengalaman adalah guru kehidupan yang tak perlu kita kenal dan bayar sebelumnya untuk dapetin manfaatnya! Ini yang sering kita lupakan, dek!” ujar Dinda sambil menggandeng Gilang untuk pulang. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *