31 views

Soal Ingatan

“ADEK ini kelewatan lho! Masak nggak inget sih kalo kita pernah rekreasi ke tempat ini!” kata Dinda saat rekreasi ke sebuah pantai di Pesawaran, siang tadi.

“Ya kalo adek nggak inget gimana dong, mbak? Namanya orang kan emang sering lupa! Jangan langsung nyalahin gitulah!” tukas Gilang.

“Mbak bukan nyalahin, dek! Cuma heran aja, adek ini kok suka bener lupa! Daya inget adek yang kayaknya bermasalah!”

“Nah, kan malah sudah ngarah kemana-mana itu omongan mbak! Pikiran adek ini masih fresh lho! Ingetan adek juga bagus! Cuma kali adek selektif dalam soal ingatan, mbak! Nggak semua peristiwa atau apapun terekam di memori otak sebagai hal yang harus diingat!”

“Wah, ternyata hebat juga ya adek! Buat hal-hal yang perlu diingat aja perlu seleksi untuk dimasukin ke otak!” sela Dinda.

“Ya iya dong, mbak! Emang harus selektif dalam menyimpan hal-hal yang perlu diingat itu! Nggak semua kejadian terus masuk kategori perlu diingat! Bisa-bisa penuh sesak isi otak cuma dengan hal-hal yang nggak produktif!” ucap Gilang.

“Gimana emang cara nyeleksi hal-hal yang perlu jadi ingatan, dek?!”

“Sederhana aja kok, mbak! Yaitu apapun itu yang buat kita seneng, nyaman, enjoy dan terinspirasi! Itu wajib diingat, mbak! Kalo yang biasa-biasa aja, apalagi nyedihin, ngeselin, dan bikin nggak enjoy, ya ngapain mesti diingat! Itu ngerusak perasaan dan pikiran kita sendiri namanya!”

“Jadi intinya yang ngebuat seneng, gitu ya dek? Gimana kalo sesuatu yang adek catat sebagai hal patut diingat itu ternyata nggak masuk hitungan ingatan orang yang berbuat sesuatu itu, dek?!”

“Ya pastinya yang nyenenginlah, mbak! Kalo soal itu, adek ngeyakinin, manakala ingatan kita terpaku pada sesuatu, maka orang itu pun akan ingat! Fatsunnya begitu, mbak!” kata Gilang.

“Ngeyakinin ingatan itu sama dengan yang dirasa orang lain itu gimana emangnya?” sela Dinda.

“Ya kita yakini aja, mbak! Sebab, kekuatan kesepahaman perasaan biasanya nggak salah!”

“Jangan sok pede, dek! Dalam kenyataannya, perasaan pun kadang salah paham lho! Bahwa sesuatu yang masuk ingatan itu adalah hal-hal yang buat kita seneng, optimistis dan menambah energi buat lebih survive, mbak setuju! Tapi jangan mengklaim kalo sesuatu itu diingat, otomatis orang yang menorehkan sesuatu itu pun akan ingat juga!” kata Dinda.

“Maksudnya, mbak?!”

“Bahwa kita punya ingatan tersendiri atas sesuatu atau pada perilaku seseorang, itu hak personal kita, dek! Tapi jangan sekali-kali kita merasa kalo ingatan kita sama dengan yang diingat orang lain! Karena dalam hal ingatan, kita semua sebagai makhluk sosial punya karakteristik tersendiri dalam menempatkan hal tersebut! Walo pada intinya sama, yaitu mencapai kebahagiaan!”

“Jadi, kalo pun ingatan kita baik pada seseorang namun seseorang itu seakan tak menganggap kita, nggak mesti kita hapus dia dari ingatan baik ya, mbak?!”

“Soal itu terserah pribadi masing-masing, dek! Karena ingatan baik kita pada seseorang belum tentu sama dengan yang diingat orang! Yang harus kita pelihara adalah selalu menjaga ingatan akan sesuatu yang bernilai, terlepas apakah seseorang yang melakukannya secara sadar atau tidak! Agar kita tidak menjadi orang yang hilang ingatan! Sebab, sekarang ini, sudah terlalu banyak orang yang dengan sadar menghilangkan ingatannya demi ingin selalu dianggap yang terbaik! Padahal, ke-terbaik-an kita yang sesungguhnya ada pada ke-ingatan kita itu sendiri! Ingat akan dimensi kemanusiaan kita dan ingat akan posisi kemakhlukan kita!” tutur Dinda. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *