Soal Iklan

“MBAK, adek diminta pasang produk milik followers diinstagram! Katanya nanti dibayar bulanan! Maksudnya apaan sih?!” kata Gilang, sore tadi, saat “nyore” di teras rumah bersama Dinda.

“Wah, bagus itu, dek! Berarti instagram adek dinilai bisa promosiin produk followers itu! Sepakatin aja, dek! Emang berapa banyak followers instagram adek?! Terus mau dibayar berapa bulanannya?!” sahut Dinda.

“Lagi adek timbang-timbang, mbak! Kan nggak bisa oke-oke-in aja! Mesti tau dulu yang mau diiklanin itu apaan?! Followers adek ada 13.000-an, mbak! Katanya sih mau dikasih bayaran jutaan, tapi adek minta pulsa aja!”

“Jangan cuma minta pulsa dong, dek! Kecil dan sederhana amat! Dananya aja! Sebab dengan bayarannya berupa uang, adek bisa beliin apa aja! Beli pulsa dan apa yang adek mauin! Kalo dikasih barang, mau nggak mau ya adek harus terima!”

“Emang sekarang ini lagi trendnya orang beriklan ya, mbak? Karena banyak yang minta adek pasang produk mereka diinstagram adek?!” ucap Gilang.

“Kalo soal sosialisasiin produk, ngenalin apa buatan kita, bahkan siapa kita, dan sebagainya, emang selalu trend, dek! Urusan apa aja sekarang ini perlu diiklanin, dimasyarakatin! Sarananya ya beragam, sesuai dengan perkembangan zaman! Bahkan, disadari atau tidak, arah dunia iklan tengah menuju bak era penguasa totaliter!” kata Dinda.

“Maksudnya gimana, mbak?!”

“Saking semaraknya urusan promosi sekarang ini, alurnya sudah mengarah ke terbangunnya kekuasaan totaliter! Istilahnya gitu kalo pakai bahasa politik! Apalagi emang, saat-saat ini, ngiklanin hal-hal terkait urusan kekuasaan itulah yang lagi mendominasi!” jelas Dinda.

“Emang urusan kekuasaan juga bisa dikemas dalam iklan ya, mbak?!” tanya Gilang.

“Ya bisa bahkan amat bisa, dek! Justru iklan yang nguasai pasar saat ini ya urusan ngerebut kekuasaan itulah! Melalui iklan yang dibuat dalam beragam pola itu, terbaca benar bila gerakan periklanan mengarah ke bangunan penguasa totaliter!”

“Maksudnya penguasa totaliter itu gimana sih, mbak?!”

“Nurut roman karya George Orweel berjudul Animal Farm, penguasa totaliter itu tidak hanya mau memimpin tanpa gangguan dari bawah! Tidak hanya mau memiliki monopoli kekuasaan! Tapi juga ingin tentukan bagaimana masyarakat hidup dan mati! Bagaimana masyarakat bangun dan tidur! Makan, belajar dan bekerja! Bahkan sampai mengontrol apa yang masyarakat pikirkan! Jadi, begitu dahsyatnya permainan dan pengaruh iklan yang saat ini lagi seru-serunya itu, dek!” urai Dinda.

“Kalo gitu, nggak salah dong adek lagi nimbang-nimbang tawaran followers untuk pasang iklan diinstagram adek ya, mbak?!” sela Gilang.

“Nggak salah itu, dek! Selektivitas emang wajib kita lakuin! Apalagi sekarang ini, untuk ngiklanin suatu produk, produsennya malah mau kasih beragam barang dengan berbagai jenis dan merek kepada masyarakat! Karena itu, kejelian, kecermatan, dan tetap kendaliin syahwat belanja harus terus dimantapkan! Masyarakat jangan mau terus-terusan jadi korban iklan! Apalagi dengan kompensasi yang nggak ada kaitannya dengan produk yang diiklanin!”

“Misalnya kayak mana itu iming-iming kompensasi yang nggak berkaitan dengan produknya, mbak?!” kata Gilang.

“Misalnya, iklan jual sabun dengan iming-iming kompensasi mobil mewah, kan nggak masuk akal, dek? Dan justru, pola kayak gini juga lagi ngewarnai dunia iklan kita saat ini!”

“Jadi mesti gimana nyikapi soal iklan itu, mbak? Kok kayaknya makin riweh aja ya?!” sela Gilang.

“Fatsunnya gini, dek! Beli barang bermerek jika merek itu berhubungan dengan produk! Perhiasan adalah contoh barang bermerek berkualitas! Tapi, aspirin ya tetep aspirin! Shampo adalah shampo! Sereal ya sereal! Jadi, jangan buang uang karena kemasan atau iklan!” kata Dinda.

“Gimana kalo yang produsen yang ngiklanin produknya itu malahan ngasih produk-produk lain yang nggak ada hubungannya dengan yang diiklanin, mbak!?”

“Itu sudah jelas bukan produk bermerek dan berkualitas, dek! Ya ambil dan terima-terima aja apa yang dikasih produsennya, tapi nggak usah dibeli produknya! Karena kalo produk yang berkualitas, cukup buat iklan sewajarnya aja, masyarakat sudah tau dan pasti akan memilihnya! Nggak perlu umbar-umbaran, apalagi sampai ngiklaninnya nabrak-nabrak aturan!” tutur Dinda seraya menyeruput Bear Brand yang memang susu steril. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *