2 views

Soal Pergeseran

SEPULANG mengikuti pertandingan sepakbola memeriahkan ulang tahun sekolahnya, Gilang tampak merenung. “Kalah ini mah kalo bawaannya loyo begini,” kata Dinda.

“Iya, kalah emang, mbak! Lawan kami lebih jago mainnya! Lebih kuat fisiknya dan strategi yang diterapin hebat juga! Adek angkat topi sama mereka!” sahut Gilang sambil tersenyum kecut.

“Yang penting adek mau ngakui kalo lawan emang hebat mainnya! Dengan itu, adek bisa introspeksi diri untuk lebih bagus main ke depannya! Namanya permainan, ya ada kalanya menang, ada saatnya kalah! Nyantai aja, dek!”

“Ya belum bisa nyantailah, mbak! Masih ada satu pertandingan lagi! Ngerebutin juara III!”

“Maksud mbak nyantai itu terus leha-leha, dek! Tapi kekalahan tadi jangan terus dijadikan momok! Tetep evaluasi untuk temukan kelemahan! Juga ketahui bener kekuatan! Dengan begitu, rancang strategi buat pertandingan lanjutan nanti!” ucap Dinda.

“Adek emang lagi mikirin buat evaluasi main tadi, mbak! Kok bisa semua lini dikuasai lawan! Mana beberapa pemainnya juga buat berbagai gaya di lapangan, hingga mayoritas mensupport mereka! Padahal pertandingan kan di lapangan sekolah adek!” kata Gilang.

“Berarti jitu strateginya, dek! Pelatih bisa meracik rahannya dengan gamblang! Pemain pun paham betul yang dimauin pelatih! Adanya beberapa pemain yang bergaya di lapangan itu satu pergeseran dari pola bersepakbola tradisional! Harus diakui, dalam berbagai pertarungan, kemampuan melakukan pergeseran dari konvensional ke tataran kreativitas dan improvisasi yang cerdik sangat dibutuhkan! Dan itu sudah adek rasakan!”

“Iya, mbak! Istilahnya kami main lawan 12 orang, karena mayoritas penonton mensupport habis-habisan tim lawan sampai akhir pertandingan! Emang perlu ya mbak pergeseran pola kayak gini?!” sela Gilang.

“Ya perlulah, dek! Pergeseran pola atau strategi itu bahkan wajib untuk dilakukan! Karena itu pahami bener kelebihan dan kekurangan tim kita! Kekuatan dan kekurangan tim lawan! Kalo kita sudah tau semuanya, tentu perlu pergeseran pola main! Jangan buat strategi tanpa ada tolok ukur yang valid!”

“Tapi emang fisik mereka juga besar-besar, mbak! Ditambah kemampuan mereka menarik simpati penonton, dengan beberapa pemainnya selalu tunjukin atraksi-atraksi permainan yang cantik, jadi bertambah semangat mereka!”

“Kalo soal fisik jangan jadi alasan, dek! Yang namanya pemain bola pasti fisiknya prima! Yang mbak nilai, justru adanya aksi-aksi pemain itu kunci kemenangan! Karena dengan berbagai aksinya, mereka dapatkan simpati penonton yang membuat tim adek turun mentalnya!”

“Bener juga sih, mbak! Begitu ngeliat penonton, yang juga banyak temen-temen satu sekolah, malah kasih applaus ke lawan, semangat kami emang langsung drop, mbak! Main pun nggak konsen lagi, karena keganggu dengan suasana lingkungan yang kayak gitu!” ujar Gilang.

“Mbak paham itu, dek! Tim lawan kan sudah evaluasi gimana kekuatan tim adek! Tim adek kan dikenal dengan kualitas personal dan kerja sama antar personal yang bagus! Masing-masing posisi terjalin rapih! Nah, satu-satunya cara ya harus dibuat gangguan pada konsentrasinya! Itu sebabnya pelatih lawan buat pergeseran strategi! Diciptakan akrobat-akrobat di lapangan, dan nyatanya sukses! Konsentrasi tim adek bubar! Pola itu bagian dari permainan cantik, dek!” kata Dinda.

“Bener juga ya, mbak! Kekompakan kami, kemampuan personal kami, nggak bisa ditunjukin sama sekali! Karena sudah nggak konsentrasi lagi akibat aksi-aksi pemain lawan yang dapet support penonton!” aku Gilang.

“Ya itulah kecerdikan dalam memenangi permainan, dek! Hal semacam itu, berani melakukan pergeseran, hanya bisa diambil oleh pelatih yang sudah berpengalaman! Pelatih yang punya konsentrasi dalam menghadapi pertandingan!”

“Tapi kan nggak lazim membiarkan pemain menunjukkan akrobatik dan aksi-aksi mainnya itu, mbak?” sela Gilang.

“Sepanjang nggak nyalahin aturan permainan, ya sah-sah aja dilakuin, dek! Tujuan akhir kan memenangi pertandingan! Soal gaya di lapangan, itu siasatnya! Ngerusak konsentrasi lawan itu yang jadi pintu masuknya!” jelas Dinda.

“Jadi wajar-wajar aja ya saat pertandingan, kita lakukan pergeseran strategi?”

“Ya wajar aja, bahkan harus berani lakuin pergeseran strategi! nggak boleh monoton! Strategi itu menangkal gaya main lawan saat di lapangan, buat kita meraih kemenangan! Jadi kapan aja bisa berubah! Dan strategi tim lawan adek harus diacungi jempol! Improvisasi dan kreativitasnya patut jadi pelajaran!”

“Jadi, hadirnya pemain-pemain yang di lapangan selalu beraksi akrobatik itu emang disengaja ya, mbak?!”

“Iyalah, dek! Ngadepin tim adek yang dikenal solid dan hebat, kan perlu pergeseran pola strategi! Jadi tim lawan memainkan pola yang masuk kategori reverent power!”

“Maksudnya apa itu, mbak?” tanya Gilang.

“Reverent power itu salah satu pola meraih kemenangan, dek! Maksudnya dengan menonjolkan daya tarik seseorang, apakah itu wajahnya, postur tubuhnya, penampilannya atau pun sikap! Dan tim lawan berhasil dengan pola itu!”

“Jadi emang ada teorinya ya, mbak?!”

“Ada teorinya, dek! Cuma kalo berdasarkan teori aja dalam ngadepin pertandingan, ya nggak bisa juga! Diperlukan pergeseran-pergeseran pola sesuai dengan lawan yang kita hadapi! Sesuai dengan kondisi lapangan; becek atau kering! Sesuai dengan kekuatan fisik kita! Persoalannya; nggak semua kita berani ngelakuin pergeseran itu, karena mau improv aja sudah enggan berkreativitas!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *