7 views

Soal Kacung

SEPULANG sekolah, Gilang bergegas mencari Dinda. “Mbak, mbak dimana?!” teriaknya.

“Mbak di kamar, dek! Kenapa..?!” sahut Dinda dari kamarnya.

“Kesini dong, adek mau cerita!”

“Adek aja yang ke kamar mbak?!”

Gilang pun ke kamar Dinda. Setelah duduk di kursi belajar, Gilang berujar: “Mbak, emang kacung itu konotasinya selalu jelek ya?!”

“Maksudnya kacung dalam artian pesuruh, pembantu atau kasarnya suruh-suruhan gitu ya, dek?!” kata Dinda.

“Ya semacam itulah, mbak! Bahkan lebih ekstremnya ya kayak sudah terbeli hidupnya oleh dan karena sesuatu gitulah!”

“Kalo arahnya kayak gitu, ya negatif dek pemaknaan kacung itu! Tapi kalo diarahkan sebagai sosok yang loyal, berdedikasi, ya positif! Tinggal dari sudut mana kita menilainya aja! Emang kenapa tanyain soal kacung, dek?!”

“Tadi di sekolah, pas mata pelajaran sosial, berkali-kali pak guru bilang kalo mental kacung harus dihilangkan dari psikologis anak-anak bangsa! Karena nggak prospektif bagi masa depan! Sebab, dengan terus memelihara mental kacung, anak-anak bangsa saat ini akan sulit untuk survive secara maksimal dalam kehidupannya!” urai Gilang.

“Bagus itu, dek! Bener apa yang dipesenin pak guru itu! Mbak sepaham dengan itu! Mental kacung emang harus berani kita buang dari alam pikir, mental dan sepak terjang kita! Tapi sebenernya yang lebih penting lagi adalah kesadaran kita untuk keukeuh dengan integritas diri untuk lepas dari posisi mental kacung itu, dek!” ucap Dinda.

“Maksudnya, mbak…?!”

“Ya kita harus memulai untuk terus menjaga integritas pribadi kita sendiri dalam keseharian! Jangan pernah merasa tergantung pada siapapun! Bukan berarti kita menutup diri dari pergaulan! Sebagai makhluk sosial, ya kita mesti terus berteman, bersosialisasi, bergaul dengan beragam orang dan lingkungan! Memahami dan mengikuti semua perkembangan sisi-sisi kehidupan! Tapi jangan menggantungkan diri pada orang lain! Jangan terjajah oleh orang lain maupun lingkungan!”

“Emang sampe sekarang masih banyak ya yang bermental kacung yang kata pak guru, itu diciptakan oleh kaum penjajah Belanda buat bangsa kita?!” kata Gilang.

“Mental kacung dalam pengertian negatif ya masih adalah, dek! Mewujudkan revolusi mental kan perlu waktu! Perlu kesungguhan dari pribadi masing-masing! Nggak cukup didengang-dengungkan dalam pidato aja! Sebab kalo nggak ada kesadaran dari masing-masing kita, sulit menghapus mental kacung itu, dek!”

“Kalo ada kacung, kata pak guru, biasanya ada cukong ya, mbak? Cukong itulah yang melanggengkan praktik per-kacung-an! Emang gitu, mbak?!” sela Gilang.

“Lahiriyahnya emang gitu, dek! Kalo ada cukong, ya ada yang jadi kacung! Biasanya hal ini lebih kepada kepentingan materi, dek! Karena ada kepentingan-kepentingan sang cukong! Tapi kalo mental yang dijadiin kacung itu kuat, dia nggak akan mau jadi kacung, dek! Persoalannya, dalam berbagai sisi kehidupan ini, sering kali, sadar nggak sadar, kita malah memposisikan diri layaknya kacung tanpa diminta sekalipun!” kata Dinda.

“Misalnya kayak mana, mbak…?!”

“Banyaklah contohnya, dek! Nggak usah mbak sebutin! Adek bisa liat sendiri! Yang lebih penting adalah membenahi mental kita agar nggak terus-terusan kayak kacung!”

“Nah, gimana caranya, mbak?!”

“Ya apapun yang kita lakuin karena sesuai kemauan kita sendiri! Sesuai dengan apa yang kita inginkan! Jadi, kalo pun kita harus mendapat perintah, bahkan disuruh-suruh sekalipun, karena itu memang bagian dari apa yang bener-bener keinginan pribadi kita! Bukan karena dijajah oleh orang lain!”

“Konkretnya tetep jadi diri sendiri gitu ya, mbak?!”

“Iya, mesti gitu, dek! Maka, menjaga integritas diri itu amat sangat penting! Apapun yang kita lakuin ya semata-mata sesuai suara hati! Bukan karena hal-hal lain! Ada adagium begini; I want to be your friend! I want to be your partner! But I can’t not be your peon! Pahami dan wujudin aja itu!’ tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *