2 views

Soal Pengertian

“KENAPA wajah keliatan kesel gitu, dek? Hilang lo pesonanya kalo tampilan kayak gitu?!” kata Dinda saat menyambut Gilang pulang sekolah dengan wajah kusut masai.

“Lagi kesel emang adek, mbak! Susah temen-temen mah, nggak pengertian!” ketus Gilang sambil melepas sepatunya.

“Nggak pengertian gimana, dek? Jangan apa-apa disahuti dengan sikap kesel gitu dong?! Kan malah rugi sendiri!”

“Adek kan lagi kuraang fit, mbak! Dipaksa-paksa untuk main futsal! Tanding dengan sekolah lain! Sudah berkali-kali adek nolak, masih aja temen-temen maksa! Eh, sudah paksaannya adek turutin, ujung-ujungnya adek juga yang disalahin!” urai Gilang.

“Maksudnya, karena akhirnya tim sekolah adek kalah, terus adek dijadiin kambing hitamnya, gitu ya?!” sela Dinda.

“Yach, gitulah mbak! Jadi ya wajar aja dong kalo adek kesel! Susah emang nyatanya buat saling pengertian itu ya, mbak?! Kita lebih banyak dituntut untuk ngertiin mau orang lain, pas kita lagi pada kondisi nggak memungkinkan, nggak ada yang mau ngertiin! Malahan dijadiin tumbal!”

“Nyantai aja ngadepin gituan mah, dek! Jangan dibawa kesel! Entengin aja pikiran! Ringanin dalam hati! Kan emang nggak mudah mahami orang lain, dek! Yang keliatannya baik di depan kita, belum tentu sama saat di belakang kita! Yang kata orang ada seseorang itu tidak baik, belum tentu saat bersama kita! Ya itulah dinamika kehidupan! Dan untuk membangun pengertian itu emang butuh proses! Nggak bisa lahir begitu saja, dek!” ujar Dinda.

“Ya tapi kan sesama temen mestinya saling ngerti dong, mbak! Orang sudah susah payah berjuang, nggak dianggep! Bahkan dijadiin kambing hitam saat kalah pertandingan! Kan kelewatan namanya!” kata Gilang dengan nada kesal.

“Apa yang adek bilang nggak salah kok! Setidaknya dari kaca mata adek menilainya! Tapi yakinlah, sebagai makhluk sosial, temen-temen adek sebenernya juga mahami bagaimana kondisi adek! Mungkin, harapan mereka dengan maksa adek harus ikut pertandingan terlalu berlebihan, sehingga begitu nggak terwujud harapannya, mereka merasa kecewa! Adek mesti pahami juga, rasa kecewa itu ada karena sebelumnya ada harapan!” ucap Dinda.

“Adek pahamlah soal begituan mah, mbak! Cuma kelewatan amat perilaku temen-temen itu! Untuk pengertian aja nggak bisa, bagaimana mau ngebangun suatu pertemanan yang kokoh! Katanya kita harus menganut paham homo homini socius! Manusia adalah rekan dalam hidup bersama! Nyatanya baru urusan sepele gini aja sudah nggak ada pengertian!”

“Sudah mbak bilang tadi, ngebangun pengertian itu emang nggak mudah, dek! Perlu proses! Nggak bisa ujug-ujug! Jadi ya yang sabar, yang kuat ngendaliin pikiran dan perasaan! Serta mulailah untuk kita mengerti orang lain terlebih dulu! Dengan begitu proses terbangunnya pengertian itu akan alamiah! Karena pada hakekatnya, seperti kata Aristoteles, manusia itu makhluk sosial sekaligus makhluk politik, yang tidak dapat berbuat banyak tanpa bantuan orang lain!”

“Jadi kalo ngadepin situasi kayak gini, adek harus gimana, mbak?!” tanya Gilang.

“Mulailah dengan membangun pengertian yang sesungguhnya dengan diri sendiri, dek! Itu yang prioritas! Sedangkan keluar, lakukan langkah yang tepat, yaitu untuk hal-hal yang sama, diperlakukan secara sama, yang tidak sama juga perlakukan tidak sama! Artinya, letakkan sesuatu sesuai porsinya! Manakala segala sesuatu ditempatkan proporsional, disitulah pengertian akan hadir! Masalahnya, sering kali kita tidak tahu dimana porsi atau posisi kita yang sesungguhnya!” ucap Dinda sambil mengelus-elus kepala Gilang. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *