Soal Pengganti

“KOK banyak ngerenung gitu sejak pulang sekolah tadi, dek? Kenapa ya?!” sapa Dinda pada Gilang, petang tadi.

“Lagi ada yang jadi beban pikiran aja sih, mbak? Sebenernya ya nggak berat-berat amat sih masalahnya, cuma tetep aja jadi kepikiran!” sahut Gilang.

“Emangnya ada apa, dek? Coba cerita sama mbak!”

“Adek kan sudah kelas VI, mbak! Sebentar lagi mau ujian! Jadi harus ninggalin semua kegiatan ekstra kurikuler, termasuk jadi pemain futsal tim sekolah! Nah, guru olahraga nyuruh nyariin pengganti adek di tim futsal, kan repot mbak?!” ujar Gilang.

“Repotnya kenapa? Adek kan pasti sudah tau siapa-siapa aja teman kelas V yang bisa jadi pengganti adek, ya tentuin aja! Kasih beberapa nama ke guru olahraga, jelasin kelebihan dan kekurangan masing-masing, biar guru yang memutuskan!” kata Dinda.

“Justru itu repotnya, mbak? Adek bingung nentuin pengganti ini! Karena ukurannya masih belum bisa adek mantepin!”

“Maksudnya gimana, dek?!” tanya Dinda.

“Kalo soal permainan di lapangan, adek nggak ragu, mbak! Yang masuk nominasi calon pengganti, semua punya kemampuan nguasai lapangan! Tapi kan nggak itu aja! Adek secara subjektif kan cari yang gaya mainnya selama ini bisa ngimbangin, bisa ngejaga ritme permainan saat pertandingan berjalan alot! Dinginin suasana waktu kondisi panas! Buat semangat saat mental lagi drop! Nggak meledak-ledak saat lawan memancing emosi! Nyari yang kayak gitu kan nggak mudah, mbak!” urai Gilang.

“Ya jangan banyak-banyak kriterianya dong, dek! Putusin satu aja, misalnya, yang bisa buat tim selalu terkendali! Artinya, cari pengganti yang bisa beri kenyamanan dalam kondisi apapun! Kalo banyak kriterianya, ya wajar kalo adek mumet sendiri!”

“Oh gitu ya, mbak? Saran mbak gimana dong?!”

“Kalo saran mbak sih, adek usulin calon pengganti yang punya kemampuan kendalikan diri dengan baik! Punya kematangan jiwa! Jadi akan siap hadapi kondisi apapun! Dengan ketenangannya, akan bisa kendalikan permainan secara baik dan solid! Dengan pengendalian dirinya yang matang, akan tau persis beban tugas yang diembannya! Emang nggak mudah dapetin sosok semacam ini, dek! Tapi itulah kriteria yang terbaik nurut mbak!” kata Dinda.

“Paham adek, mbak! Kali karena banyaknya kriteria atau belum nemuin sosok yang punya kematangan jiwa dalam jalankan tugasnya itu maka 400 jabatan kepala SD di Lamsel sampai di-Plt-kan ya, mbak?!” sela Gilang.

“Maksudnya apa, dek?!” ucap Dinda keheranan.

“Iya, kali karena bupatinya belum nemuin sosok yang pas, maka minggu kemarin ada 400 jabatan kepala SD di Lamsel yang diserahkan ke pelaksana tugas alias Plt, mbak!”

“Emang kayak gitu, dek? Nge-Plt-in kepala SD sampe ratusan gitu?!”

“Iya, mbak! Beneran ini mah, mbak! Adek baca di Koran kok! Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Lamsel yang ngomong! Ini kali bukti juga ya kalo Cari pengganti itu nggak mudah, mbak? Bahkan belum tentu yang jadi Plt bakal jadi kepala SD definitif!” urai Gilang.

“Wah, luar biasa sekali ya, dek! 400 jabatan kepala SD di-Plt-kan! Ini bisa masuk rekor Muri lo! Sebab, urusan pendidikan diambangkan dengan ngasih jabatan sekadar pelaksana tugas! Wong yang sudah jelas pejabat definitif aja belum tentu maksimal dalam tugasnya, malah dimainkan pola penunjukan Plt!” kata Dinda sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Nurut mbak, kejadian ini apa karena kesulitan cari pengganti juga ya, kayak yang adek alami!?”

“Mbak nggak ngerti definisiinnya, dek! Karena kalo ukurannya kemampuan jalanin tugas, nggak mungkin sampe 400 orang dianggep nggak mampu semua! Kalo ukurannya buat penyegaran, nggak mungkin pula sampe 400 orang yang perlu di-segar-kan! Nggak ketemu teorinya dalam kamus urusan pengganti kalo soal ini mah, dek!”

“Artinya, nggak semua soal pengganti itu bisa dirunut alurnya ya, mbak! Bisa sekehendak hati! Bisa juga kehendak situasi dipaksakan diterima oleh hati ya?!” kata Gilang.

“Yah, bisa karena apa aja, dek! Bisa banyak parameter yang dikemas dalam soal pengganti ini! Terlepas apapun alasannya, kita selayaknya ingat pesan mama; menghindarkan kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil manfaat!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *