11 views

Soal Pengabdian

SEJAK pulang sekolah sampai menjelang maghrib, Dinda sibuk berteleponan. Sampai membuat Gilang jengah, karena tak bisa ngobrol.

Saat ada jeda, Gilang buru-buru berucap: “Mbak, adek ada yang mau diomongin!”

“Iya, mau ngomong apa, dek?!” sahut Dinda sambil menghentikan jari tangannya yang akan menelepon lagi.

“Itu mbak sejam lebih telepon sana-sini itu ngapain sih? Nggak biasanya! Apalagi teleponannya ke banyak orang lagi!” kata Gilang.

“Jadi itu yang mau diomongin?!” sela Dinda.

“Iya, mbak! Adek mau nyampein itu aja!” ucap Gilang sambil cengengesan.

“Mbak ini sebenernya lagi prihatin, dek! Maka mbak teleponin temen-temen! Biar sama-sama mikir!”

“Emang kenapa, mbak?!”

“Tempat mbak latihan balet dulu mau disita bank, dek! Karena nggak bisa bayar kredit bulanannya! Prihatinlah mbak dengernya!” kata Dinda.

“Terus, kenapa sibuk bener telepon sana-sini, mbak?!”

“Mbak teleponin temen-temen yang dulu belajar balet di tempat itu! Mbak kasih tau kondisi saat ini yang menyedihkan! Gedung tempat kami dulu latihan balet mau disita karena pengelolanya nggak bisa bayar cicilan!”

“Ngapain mbak repot-repot gitu? Kan mbak sudah nggak latihan balet lagi disana?!” sela Gilang.

“Emang bener, mbak nggak latihan balet lagi! Emang bener mbak keliatan repot telepon temen-temen yang bareng mbak latihan balet dulu! Tapi bukan itu ukurannya, dek?!”

“Maksudnya gimana, mbak?!”

“Ini soal pengabdian, dek! Mbak dan temen-temen bisa jadi pebalet, kan karena latihan di tempat itu! Mbak sama temen-temen bisa dapet penghargaan nasional bahkan internasional kan karena dilatih di tempat itu! Jadi, saat tempat yang pernah mewarnai kehidupan mbak dalam posisi membutuhkan bantuan, wajar kalo mbak ajak temen-temen untuk berbuat sesuatu untuk meringankan pengelola membayar cicilan bulanan ke bank!” urai Dinda.

“Tapi kan mbak sama temen-temen juga masih sekolah, masih minta uang sama orang tua? Ya nggak perlu-perlu amatlah sampe mikirin mau bantu bayar cicilan ke bank?!” kata Gilang.

“Ya emang bener, pastinya mbak sama temen-temen minta uang ke orang tua! Namanya juga belum bisa dapet penghasilan sendiri! Tapi hal itu nggak bisa jadi alasan untuk nggak nunjukin pengabdian kami, dek! Jadi orang itu mesti tau berbalas budi! Mesti paham kapan membalas kebaikan orang! Harus cermat kapan lakuin hal-hal yang bisa meringankan saat lembaga atau orang yang pernah bantu kita membutuhkannya!”

“Jadi soal pengabdian itu erat kaitannya dengan ilmu tau diri ya, mbak?!”

“Iya, bener itu, dek! Kita harus tau siapa yang bantu dan buat kita jadi seperti ini! Kita mesti ngerti kapan berbalas budi pada orang yang karena kemampuan atau kekuasaannya, menempatkan kita di posisi sekarang ini! Kita harus ikhlas lakuin apapun bagi orang yang kita hormati, kita sayangi dan banggakan! Tanpa kita nunggu orang itu minta bantuan kita!” ujar Dinda.

“Itu idealnya! Tapi faktanya kan nggak begitu, mbak! Terlalu banyak orang yang lupa akan bantuan, dukungan bahkan power orang lain! Bahkan sengaja melupakan siapa yang berjasa pada saat orang tersebut membutuhkan bantuan!”

“Ya itulah kehidupan, dek! Yang penting, kita sebagai orang yang tau diri jangan pernah melupakan jasa orang lain! Jangan pernah berdiam diri saat orang itu pada posisi perlu dukungan kita! Mbak ingat pesen Sidi Hamidi: Ingat selalu kebaikan orang lain pada kita! Lupakan kebaikan kita pada orang lain! Ingat selalu kesalahan kita pada orang lain! Lupakan kesalahan orang lain pada kita!” kata Dinda.

“Pesen Sidi itu nuntun kita untuk tidak melupakan nafas pengabdian ya, mbak?!”

“Iya, bener dek! Yang juga perlu diinget, pengabdian itu tak perlu dipertontonkan! Tak perlu diumbar! Tak perlu diumumkan! Penuhi nafas pengabdian dengan keikhlasan dan ketulusan! Jauhkan dari syahwat cari muka apalagi ingin dapat pengaguman! Karena pengabdian yang sesungguhnya berdimensi khablum minan nash wa hablum minallah!” tutur Dinda, yang kemudian melanjutkan aktifitasnya; menelepon teman-temannya saat latihan balet beberapa tahun lalu. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *