17 views

Soal Kegigihan

“ADEK, jangan males-malesan gitu dong! Ini kan masanya ulangan! Bersemangatlah!” kata Dinda pada Gilang, tadi sore.

“Adek kan sudah belajar, mbak! Sudah baca pelajaran yang besok mau ulangan! Nyantai sedikit kan nggak apa-apa sih?!” sahut Gilang.

“Jangan sedikit-sedikit mikirnya nyantai dong, dek! Tutup rapat-rapat istilah nyantai sedikit itu! Bersemangat dan terus belajar! Yang gigih gitu lo, dek!”

“Adek kurang gigih apa sih, mbak?! Adek atur waktu sebaik mungkin, kapan istirahat, kapan belajar, kapan urusan-urusan lain! Yakin ajalah, adek bisa dapet nilai yang bagus!”

“Karena sudah yakin bisa dapet nilai bagus itu maka adek sekarang leyeh-leyeh ya?!” sela Dinda.

“Ya istirahat sebentar kan nggak apa-apa sih, mbak?!” ucap Gilang.

“Ya nggak apa-apa istirahat sebentar! Bagus juga sudah bisa atur waktu dengan baik! Tapi mbak nggak ngeliat kegigihan adek dalam hal ini!”

“Maksudnya gimana, mbak?!”

“Ya mbak belum liat kegigihan adek! Yang ada, adek cuma jalani rutinitas aja! Belajar agak serius waktu mau ulangan aja! Selebihnya, adek nyusun buku pun pas mau berangkat ke sekolah!”

“Emang mestinya gimana, mbak?!” tanya Gilang.

“Semangat dan kegigihan adek itu masih rendah! Cuma pas ngadepin suatu situasi tertentu aja adek baru nyiapin diri! Padahal hidup ini penuh dengan segala kemungkinan yang diluar perkiraan kita! Banyak hal yang dadakan terjadi dan itu seringkali jauh dari yang kita bayangkan sebelumnya!” urai Dinda.

“Terus kaitannya dengan kegigihan itu apa, mbak?!”

“Kegigihan itu kunci ngadepin segala pernak-pernik kehidupan dengan tetep survive, dek! Kegigihan itu adalah semangat dan perilaku yang tak kenal melemah pada situasi apapun! Kegigihan adalah nafas kehidupan sebagai ekspresi kesadaran bila kehidupan ini perjuangan! Orang-orang sukses dan selalu survive karena punya kegigihan!”

“Kalo soal sukses itu kan gimana akhir perjuangan aja, mbak! Semua kembali ke garis tangan! Mau sehebat apapun kita kalo nggak ada takdirnya, ya nggak bisa juga!” ujar Gilang, enteng.

“Itu namanya adek emang nggak punya kegigihan! Adek nerimo aja! Takdir pun bisa berubah kalo kita memperjuangkan perubahannya dengan penuh kegigihan! Punya bakat besar pun kalo nggak punya kegigihan, nggak bakalan survive, dek! Banyak orang pandai tapi nggak punya kegigihan, ya begitu-begitu saja!”

“Emang dimensi pokok kegigihan itu apa sih, mbak?!”

“Pantang menyerah! Pantang berpuas diri! Terus bersemangat dan berbuat walo dalam keprihatinan dan kekurangan! Terus bergerak memperkaya khasanah pemikiran dan pergaulan! Menghitung dengan cermat segala kemungkinan secara detail! Dan yang penting lagi, tidak menganggap orang lain rendah!” kata Dinda.

“Jadi, kegigihan itulah kata kunci untuk tetep survive ya, mbak?!”

“Iya, dek! Kegigihan itulah penentu segalanya! Di saat perjuangan diselimuti keprihatinan dan keterbatasan, kegigihan itulah penyelamatnya! Persoalannya; geliat kegigihan itu tak lahir begitu saja! Ia butuh proses perhatian dan ajakan-ajakan! Manakala hal itu tak dilakukan, harapan lahirnya kegigihan tersebut hanyalah impian! Ini yang sering diremehkan banyak orang!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *