4 views

Ridho Ubah Pasir Sakti Jadi Kota Ikan

HARIANFOKUS.com – Sejak belasan tahun silam, masyarakat Lampung mengenal wilayah Pasir Sakti, Lampung Timur, sebagai daerah asal-usul material pasir. Bahkan, banyak pemilik modal dari luar daerah yang meraup keuntungan puluhan miliar dari memanfaatkan sumber daya alam tersebut.

Ironisnya, lingkungan sekitar pun menjadi rusak tidak karuan. Perusahaan-perusahaan besar tak memikirkan upaya menjaga lingkungan. Akibatnya, bekas galian pun bertebaran tak terurus. Kerusakan lingkungan di kawasan Pasir Sakti juga menjadi sorotan secara nasional.

KEDEKATANNYA dengan berbagai elemen rakyat Lampung menjadikan Ridho tahu persis apa yang harus diperbuatnya bagi kepentingan rakyat.

Ridho Ficardo selaku gubernur dan Bachtiar Basri sebagai wagub, bertindak cepat. Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Lampung beserta pihak terkait melakukan penutupan atas praktik pengerukan harta kekayaan alam Lamtim berupa pasir tersebut yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar yang ditengarai bermasalah.

Ridho yang merupakan sarjana perikanan dari Universitas Padjajaran Bandung, tak mau membiarkan kubangan bekas galian pasir didiamkan begitu saja. Pada tanggal 20 Mei 2017 lalu, dia mencanangkan Lampung sebagai sentra perikanan air tawar, dengan menabur 200 ribu benih ikan di kolam bekas tambang pasir yang ada di Desa Rejomulyo, Pasir Sakti, Lamtim. Untuk mendayagunakan wilayah tersebut sebagai kawasan budidaya perikanan, Ridho menugaskan BUMD PT Wahana Raharja.

Langkah Ridho mendapat support Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menetapkan Pasir Sakti sebagai kawasan minapolitan. Meski PT Wahana Raharja telah mengelola lahaan seluas 159 hektare, namun masih ada sekitar 2.000 hektare lahan bekas galian pasir yang belum digarap.

“Jika tidak digarap, akan meninggalkan dampak kerusakan lingkungan,” kata Ridho Ficardo, Kamis (19-4) siang.

MENGGELORAKAN optimisme rakyat adalah gaya kepemimpinan Ridho-Bachtiar dalam memimpin Lampung. Dengan optimisme itulah pasangan idola ini mengembangkan Provinsi Lampung.

Dikatakan, lahan yang tersebar di Desa Rejomulyo dan Mekarsari tersebut dikelola sesuai kondisi dan potensinya.

“Kawasan ini akan menjadi wilayah pengembangan perekonomian dan sebagai cikal bakal pusat pertumbuhan,” ucap Ridho sambi menambahkan, kawasan minapolitan ini bisa menjadi model pengembangan bekas lahan tambang di Indonesia.

Tak alang kepalang, Ridho pun bertekad mengubah Pasir Sakti menjadi kota ikan. Menjadi sentra pengembangan budidaya ikan, seperti ikan patin, lele, dan mas.

Tekad Ridho sangat beralasan. Wilayah Pasir Sakti letaknya sangat strategis dan mudah diakses, baik dari Jakarta maupun Sumatera Selatan. Sehingga memudahkan dalam pemasaran hasil perikanan, baik untuk pasar lokal, domestik maupun ekspor.

Untuk mengubah Pasir Sakti menjadi kota ikan, Ridho memerintahkan untuk dibuat penataan sirkulasi air yang tersambung dengan irigasi Bendungan Jabung.

“Pastinya, kawasan ini juga menjadi agrowisata perikanan yang diharapkan berdampak pada budaya masyarakat mengonsumsi pangan sehat berbahan ikan,” terang Ridho yang kembali berpasangan dengan Bachtiar Basri pada Pilgub 2018 dengan nomor urut 1.

SIKAP santun dan hormat kepada yang tua merupakan kepribadian Ridho Ficardo meski menjabat Gubernur Lampung. Perilaku yang jarang dilakukan orang lain saat memegang jabatan penting.

Guna memantapkan tekadnya mengubah kawasan Pasir Sakti, Ridho mengarahkan agar PT Wahana Raharja menggandeng kalangan pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI). Menurut Aribun Sayunis, Ketua APCI, pihaknya saat iniĀ  mengelola sekitar 250 hektare bekas tambang pasir.

“Potensi perikanan tawar Lampung baru dimanfaatkaan 10% dari luas lahan yang ada. Lampung punya tiga sungai besar, yakni Way Sekampung, Way Mesuji, dan Way Tulangbawang. Perikanan tawar Lampung juga didukung pakan melimpah,” kata Aribun.

Saat ini, Pasir Sakti sebagai kota ikan sesuai tekad Ridho Ficardo memang sudah terwujud. Menurut Aribun, hasil budidaya ikan yang dikembangkan pihaknya di kawasan bekas pertambangan pasir itu yakni fllet ikan patin yang dikenal di pasar mancanegara sebagai ikan dori. Namun, untuk sementara, para anggota APCI masih fokus ke pasar domestik, karena permintaannya tinggi.

“APCI fokus pada pascapanen, menjaga stabilitas harga, pemasaran, dan peningkatan konsumsi ikan di Lampung,” Aribun Sayunis menambahkan.

Sementara beberapa warga Pasir Sakti mengaku sukacita dengan perubahan lingkungan yang dilakukan Ridho Ficardo.

“Kalau dulu lingkungan kami rusak parah, sekarang berubah total. Dengan menjadikan Pasir Sakti sebagai kawasan perikanan air tawar, kami lebih senang. Lingkungan kembali membaik, pendapatan kami juga meningkat. Kami berharap, pengembangan daerah kami dilanjutkan Pak Ridho pada periode keduanya nanti,” kata Ramli, warga Rejomulyo. (win)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *