1 views

Soal Kebanggaan

“MBAK, ngapain sih sampe maksa-maksain diri nyewa pakaian dari butik cuma buat tampil di acara ulang tahun sekolah? Kan baju mbak banyak?!” kata Gilang saat Dinda usai teleponan dengan temennya, sore tadi.

“Ya biar lebih maksimallah, dek! Lagian mbak sama beberapa temen pengen tampil beda di acara nanti itu?!” sahut Dinda.

“Tampil beda kan nggak harus maksain diri gitu sih, mbak? Banyak lho baju mbak yang bagus-bagus! Yang kalo mbak pake tetep maching dan elegan!”

“Ya emang banyak baju mbak yang masih bagus-bagus, dek! Tapi kalo nyewa dari butik kan beda?!”

“Apa bedanya, mbak?” sela Gilang.

“Ada kebanggaan tersendiri pastinya, dek! Jadi lebih pede! Ngerasa gimana gitu waktu tampil!”

“Aduh, mbak! Soal kebanggaan dan percaya diri¬† mah munculnya dari dalam hati! Bukan dari tampilan baju! Jangan salah kaprah dong, mbak?!”

“Lho, siapa yang salah kaprah, dek! Mbak ini kan cewek, yang harus menjaga penampilan! Tampilan yang elegan itu mesti terjaga, jadi ya nggak ada salahnya nyewa baju di butik!” ujar Dinda.

“Ya emang nggak ada salahnya sih nyewa baju di butik, mbak! Yang salah itu pemahaman mbak kalo kebanggaan itu terbangun dari tampilan lahiriyah!”

“Jadi nurut adek yang namanya kebanggaan itu dibangun lewat apa?!” sela Dinda.

“Lewat sikap percaya diri, mbak! Lewat kemantapan jiwa kita! Bukan dari tampilan lahiriyah! Kalo jiwa kita bersih, jauh dari iri dengki, pakai apapun kita, nggak bakal ngilangin pede kita, mbak! Kalo hati kita nggak disesaki oleh keinginan selalu ingin menjadi trendsetter, ya nyantai aja walo pakai baju sederhana sekalipun! Karena kebanggaan itu terbangun dari jiwa kita yang bersih!” jelas Gilang.

“Tapi kan mbak harus ngebangun kebanggaan tim, dek! Bukan cuma buat pribadi aja! Makanya cari kreasi buat itu!” kata Dinda.

“Adek paham itu, mbak! Tapi jangan mbak mulai kebanggaan tim dari sisi lahiriyah! Bangunlah kebanggaan tim itu dari sentuhan hatinya, dari kesederhanaan dan kebersamaan! Karena hanya dengan itu kebanggaan akan terus bergelora! Kebanggaan akan menjadi pakaian sehari-hari seluruh anggota tim dimanapun dan kapan pun!”

“Ya nggak sesederhana itulah, dek! Tim mbak ini kan anak-anak zaman now, yang penampilan adalah hal nomor wahid!”

“Itu nggak salah, mbak! Hanya mbak perlu kasih contoh bahwa tampilan lahiriyah hanya sekadar penyenang mata! Bukan tolok ukur buat ngebangun kebanggaan! Yang namanya menggelorakan kebanggaan itu mesti dilakuin dengan kesetaraan peran, kebersamaan dan kesederhanaan dalam bersikap! Tampilan lahiriyah bukan salah satu point buat ngebangun kebanggaan, mbak! Ini yang perlu mbak sadari!” urai Gilang.

“Jadi nurut adek, nggak perlu ya mbak nyewa pakaian di butik buat tampilan tim mbak nanti?!” tanya Dinda.

“Ya nggak perlulah, mbak! Buang-buang uang aja! Yang penting itu ngebangun semangat kebersamaan bahwa penampilan tim dalam mengisi pentas seni nanti bisa jadi kebanggaan! Yang penting itu kan kesempurnaan dalam pentasnya, bukan keseragaman atau kemewahan pakaiannya! Karena kalo ukurannya tampilan lahiriyah, orang yang nonton nggak akan meresapi cerita yang dipentaskan! Kamuflase kebanggaan nggak boleh ditumbuhkembangkan!”

“Gimana kalo anggota tim jadi nggak pede karena pakai baju biasa-biasa aja!” kata Dinda.

“Ya itu tugas mbak buat ngatasinnya! Makanya mbak juga jangan selalu mengukur kebanggaan dari tampilan lahiriyah! Karena kebanggaan yang sesungguhnya itu terbangun dari jiwa yang bersih, yang optimistis, dan terjauhkan dari sifat iri dengki! Dan kecerdikan kita dalam mencuatkan kebanggaan pada situasi dan kondisi apapun! Walo, seringkali kita sendiri bingung; apa yang layak buat kita banggakan!” ucap Gilang sambil tersenyum. (¬§)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *