3 views

Soal Kecerdikan

“MBAK, kok bisa ya temen adek yang kemarin nilainya biasa-biasa aja malah diterima di sekolah unggulan dan favorit! Yang pinter, masuk ke sekolah yang nggak ngetop!” tutur Gilang, tadi petang.

“Ya bisa aja, dek! Itu mah bukan hal yang luar biasa! Sepanjang hasil tesnya bagus, ya bisa masuk sekolah unggulan!” sahut Dinda.

“Tapi temen adek yang diterima di sekolah unggulan ini dikenal bener-bener males lho, mbak! Nilai-nilai ulangannya juga bisa dibilang jelek! Bahkan di kelas adek kemarin dia yang paling kecil nilainya!”

“Semua kan berproses sih, dek! Mungkin waktu SD kemarin dia males, hasil ujian juga jelek! Tapi berkat motivasi ortunya, bisa aja dalam waktu singkat dia merubah diri! Belajar serius untuk bisa lolos tes di sekolah unggulan! Mana adek tau?!”

“Iya juga ya, mbak? Tapi memang dia juga bersahabat akrab dengan temen adek yang paling pinter di kelas! Yang malahan cuma diterima di sekolah biasa-biasa aja! Bisa aja mereka belajar bareng!”

“Segala kemungkinan itu bisa aja terjadi, dek! Apalagi temen adek yang selama ini nilainya pas-pasan bersahabat karib dengan yang pinter! Pasti menularlah kepinteran itu! Minimal dia pelajari gimana cara belajar hingga bisa pinter!” ucap Dinda.

“Jadi beruntung dong temen adek yang dikenal pemales itu bersahabat dengan yang pinter?!” sela Gilang.

“Dalam persahabatan itu pastinya saling menguntungkan, dek! Kalo cuma sepihak aja yang ngerasa diuntungkan, nggak bakal lama persahabatan itu!”

“Tapi nyatanya temen yang pinter malah kalah! Dia cuma diterima di sekolah yang biasa-biasa aja!”

“Kalo ukurannya begitu, larinya ke soal kecerdikan, dek! Ukurannya bukan diuntungkan atau tidak! Kalah atau menang!”

“Maksudnya apa, mbak?!” tanya Gilang.

“Maksudnya, persahabatan dua temen adek itu pastinya bagi masing-masing pribadi ya sama-sama membawa keuntungan! Hanya, dalam urusan untuk meneruskan sekolah, temen yang pemales lebih cerdik!”

“Lebih cerdik gimana, mbak?!”

“Dia bisa memetik ilmu dan pengalaman dari temen adek yang selama ini dikenal pinter! Dia terapkan dengan maksimal polanya! Tentunya disesuaikan dengan gaya pribadinya! Sedang yang selama ini dikenal pinter, nyiapin diri ngadepin tes, kali ya biasa-biasa aja! Karena dia merasa mampu dan sudah terbukti selama ini kalo dia emang pinter!” urai Dinda.

“Oh gitu, mbak?! Jadi kita emang harus cerdik juga ya? Nggak cukup pinter aja!”

“Sewajarnya begitu, dek! Kecerdikan itu kemampuan kita mengkancah suasana, situasi, dan keadaan yang ada! mengeksplor sesuatu hingga masuk ke area out of the boks! Kecerdikan itu ekspresi kekuatan nalar kita dalam menyikapi atau memainkan sesuatu yang lahir dari keberanian kita memaksa otak berpikir lebih ekstra!  Jadi, memainkan kecerdikan emang lebih bermakna dibanding cuma andalin kepinteran aja, dek!”

“Berarti untuk bisa melahirkan kecerdikan itu perlu pinter dong, mbak?!”

“Pastinya ya gitulah, dek! Semua kita kan pada hakekatnya emang pinter! Nggak ada yang bodoh! Masalahnya kan ada pada diri kita masing-masing, mau gunain otak untuk belajar apa nggak! Mau pake otak untuk berpikir apa nggak! Kalo ada yang kayaknya nggak pinter, itu lebih karena orang itu malas gunain otaknya untuk berpikir aja!”

“Kalo gitu, kemampuan ngembangin pikiran agar cerdik itu penting ya, mbak?!” kata Gilang.

“Iya, dek! Karena dalam kehidupan ini banyak kemajuan bisa diraih berkat kecerdikan! Banyak yang sebelumnya tak tau sesuatu tapi karena kita bawa dalam aroma sesuatu itu, malahan dia yang eksis dan ngalahin kita! Itu terjadi ya berkat kecerdikan, dek!”

“Jadi banyak ya yang kayak temen adek ini! Dia bersahabat akrab dengan temen yang pinter, malahan dia yang eksis dan lebih baik!?”

“Ya banyaklah, dek! Dalam berbagai sisi kehidupan, banyak contoh betapa kecerdikan mengalahkan kepinteran! Betapa kecerdikan yang mengalahkan kita itu lahir berkat ajaran kita sendiri! Inilah dinamika kehidupan, dek! Bahwa ketika kreativitas kita terbelenggu hingga kecerdikan tak terlahirkan, kepinteran dan pengalaman saja tak mampu mewujudkan mimpi kita! Ironisnya lagi kalo yang sebenernya punya kecerdikan sudah enggan untuk mengasahnya!” kata Dinda.

“Lebih parah lagi kalo dikenal pinter juga nggak, cerdik juga nggak ya, mbak?!” sela Gilang.

“Pastinya itu, dek!” ujar Dinda sambil mengangkat bahunya. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *