1 views

Soal Stadion

“MALES bener ya pas nonton bola dalam negeri, mbak! Sudah mainnya nggak bagus, suporternya sering buat kerusuhan!” kata Gilang, petang tadi.

“Ya pasti bedalah dengan tontonan Piala Dunia, dek! Beda kelasnya aja jauh bener! Makanya mbak males kalo nonton bola kita, karena mutunya gitu-gitu aja!” sahut Dinda.

“Udah gitu, ditambah stadion kita juga nggak ada yang bagus ya, mbak?!”

“Yah, baru sebatas itulah kemampuan kita nyiapin fasilitas, dek! Jadi ya dinikmati aja! Tapi kan perbaikan demi perbaikan terus dilakuin!”

“Sudah dibagusin juga masih ada aja yang ngerusak, mbak?! Kalo nurut adek sih mental kota sebagai penikmat bola yang harus diperbaiki! Stadion sebagus apapun kalo penontonnya emosian, ya nggak banyak juga gunanya!” ucap Gilang.

“Bener itu, dek! Kalo kita belajar dari perhelatan Piala Dunia, bukan cuma soal bagus dan lengkapnya fasilitas stadion yang harusnya kita petik! Tapi juga semangat kebersamaan para penonton!” lanjut Dinda.

“Maksudnya gimana, mbak?!” sela Gilang.

“Kita kan tau, yang nonton pertandingan itu pastinya fans berat dari kedua kesebelasan yang bertanding! Penonton yang bener-bener cuma pengen nikmati permainan aja pastinya sangat sedikit presentasinya! Tapi pernah nggak kita nyaksiin, dalam perbedaan pilihan yang begitu penuh emosi, penuh semangat, penuh antusiasme, terus terjadi kerusuhan antar-suporter, nggakkan? Itu hebatnya, dek!”

“Iya juga ya, mbak! Kok bisa begitu ya, mbak?!”

“Itu karena kedewasaan dalam berpikir, dek! Mereka tau kalo menyatu dalam stadion itu untuk mengekspresikan dukungan pada tim kesayangannya! Untuk memberi semangat bagi pemain dari kesebelasan dukungannya! Sekalian menikmati permainan! Karena motivasinya begitu, ditambah dengan sikap yang dewasa, jadi walo dalam satu stadion, semua enjoy-enjoy aja!” tutur Dinda.

“Tapi banyak juga yang kesorot kamera televisi lagi marah-marah kok, mbak?!” ujar Gilang.

“Itu sekadar ekspresi aja, dek! Tanpa diikuti dengan aksi-aksi perusakan atas fasilitas stadion! Ya nggak apa-apa! Banyak juga yang menangis, histeris bahkan bergulingan karena tim kesayangannya kalah! Tapi kan semua selesai di dalam stadion, dek! Nggak terus diekspresiin diluar stadion dengan lakuin perusakan atau buat kerusuhan Dan tawuran dengan suporter lain!”

“Kalo di tempat kita nggak bisa kayak gitu ya, mbak? Pastinya ada rusuh disana-sini, bahkan main pukul antar-suporter!”

“Ya itulah bedanya kita dengan mereka-mereka yang sudah dewasa dalam berpikir dan bertindak pada tontonan sepakbola, dek! Semua urusan, apakah itu kebanggaan atau kekecewaan, selesai di dalam stadion! Diletupin abis-abisan pada tempatnya! Dan pada sisi kehidupan yang lain, orang yang mampu menasbihkan dirinya bak stadion itulah yang kita perlukan, agar suasana ingar-bingar tetap dalam kontroling yang mapan!” kata Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *