2 views

Soal Sukamiskin

“MBAK tahu ya daerah yang namanya Sukamiskin di Bandung?” tanya Gilang pada Dinda, sore tadi.

“Ya tahulah, dek! Temen mbak kan ada yang rumahnya di daerah itu! Emangnya kenapa?!” jawab Dinda.

“Orang yang tinggal di daerah itu emang miskin-miskin tah, mbak?!”

“Nggak jugalah, dek! Banyak rumah gedongnya! Malahan daerah maju dan berkembang kok! Bisa dibilang nggak ada yang miskin! Emang kenapa to?!”

“Oh, pantes aja! Rupanya cuma sekadar nama aja ya, mbak! Tinggal atau kerjanya di daerah yang namanya Sukamiskin tapi sebenernya tetep aja sukakaya! sukamewah!” ucap Gilang.

“Maksudnya apa sih, dek? Mbak nggak nyambung?!” sela Dinda.

“Emang mbak nggak tau ya? Kan sejak kemarin malem nama Sukamiskin lagi jadi trending topic! Gara-gara kasus gratifikasi! Suap-menyuap! Patgulipat antara oknum yang ngurusin lembaga pemasyarakatan dengan warga binaannya? Kan KPK turun langsung dengan pola operasi tangkap tangan!” urai Gilang.

“Oalah, soal itu to, dek?! Ya tahulah mbak! Kalau soal adanya perlakuan beda dalam lapas sih sudah bukan rahasia lagi! Dimanapun lapasnya, selama punya uang, fasilitas lebih ya bisa didapet! OTT itu mah bukan sesuatu yang surprise, dek!” kata Dinda dengan entengnya.

“Oh gitu, mbak? Jadi sebenernya praktik beli kamar khusus, ngisi kamar tahanan jadi kamar hotel itu sudah biasa ya?!”

“Ya iyalah, dek! Semua orang juga tahu kalo soal itu mah! Beberapa tahun lalu bahkan pernah sebuah televisi swasta ikut sidak pak menteri ngecek satu persatu sel tahanan para terpidana yang banyak uangnya! Hasilnya, semua kamar mereka bagus-bagus! Lengkap fasilitasnya! Kayak di kamar pribadinya aja! Bedanya ini dalam kompleks lapas doang! Jadi kalau sekarang ada OTT di Lapas Sukamiskin dan nemuin penyimpangan-penyimpangan, nggak usah heran! Lagian lapas ini kan emang tempatnya para miliyuner istirahat karena tersangkut perkara hukum!”

“Oh gitu ya, mbak! Jadi nggak pas ya sebenernya lapas para miliyuner ditempatin di Sukamiskin? Mana ada pula orang kaya mau miskin, gitukan mbak?!”

“Emang mestinya nama Sukamiskin itu diganti, dek! Karena pada hakekatnya, nggak ada manusia di dunia ini yang suka hidup miskin! Disini kecermatan pimpinan daerah itu diperluin! Contohnya di tempat kita, kan dulu namanya Kelurahan Harapan Jaya! Walikota bilang; kalau cuma berharap untuk jaya aja, nggak nimbulin semangat! Maka digantilah namanya jadi Korpri Raya! Rame kan sekarang wilayah ini! Jadi, nama tempat juga punya pengaruh psikologis!” urai Dinda.

“Iya juga ya, mbak! Balik ke soal OTT KPK di Sukamiskin itu sebenernya bukan surprise ya, mbak! Dan kalau beberapa tahun lalu sudah pernah terungkap, kok masih aja ada penyimpangan, penyebabnya apa sih?” kata Gilang.

“Ini kan terkait dengan hubungan simbiosis-mutualisme, dek! Saling membutuhkan, dek! Warga binaan butuh tempat yang nyaman, oknum pengurus lapasnya juga butuh setoran biar posisinya aman! Sederhananya kan gitu! Lagian, syahwat kehidupan anak manusia itu kan selalu ingin dapet lebih dari apa yang didapatnya! Jadi bisa dipastiin, praktik-praktik bermodus di Lapas Sukamiskin itu akan terus ada, dek! Nggak cuma di lingkungan lapas, tapi juga di semua sisi kehidupan!”

“Jadi gimana biar kasus kayak di Lapas Sukamiskin ini nggak terulang, mbak?!”

“Nggak bisa, dek! Pasti akan berulang! Berulang dan berulang! Sebab, urusan suap-menyuap, gratifikasi, ngegimelin amplop berisi uang biar lancar urusan, itu sudah masuk ke semua sendi kehidupan anak manusia! Apalagi, kita semua kan emang nggak suka miskin! Kita semua suka kaya! Suka berkecukupan! Buat ngeremnya, ya perbaiki aja diri sendiri! Nggak usah ngorek-ngorek perilaku orang lain! Perkuat toleransi tanpa harus dianggap orang sok idealis!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *