2 views

Soal Berunding

“TADI kenapa kelas Adek begitu ramai sih? Ada yang teriak-teriak segala?!” tanya Dinda pada Gilang, sepulang sekolah, petang tadi.

“Mau pemilihan ketua kelas, mbak?! Ya biasalah, namanya juga belajar berdemokrasi dalam memilih pengurus kelas buat 6 bulan ke depan!” jelas Gilang.

“Oh gitu…! Tapi ya nggak perlu sampai riuh kayak gitulah, dek! Suaranya sampai kemana-mana! Ngeganggu kelas lain yang lagi belajar!”

“Justru itu yang seru, mbak! Kami kan anak baru semua! Baru kenal seminggu ini, jadi ya nggak gampang milih ketua dan pengurus kelas! Kan belum tau kemampuan masing-masing!”

“Emang prosesnya kayak mana kok bisa jadi gumek nggak karuan gitu?!” ucap Dinda.

“Yang mau jadi ketua kelas acungin tangan! Ada tiga yang nyalon! Terus masing-masing ngenalin diri ke depan! Juga program apa aja yang mau dilakuinnya kalo kepilih!” jelas Gilang.

“Terus, kenapa jadi kayak nggak nyatu gitu? Pada teriak-teriak, bahkan ada yang mukulin meja?!”

“Nah, ini masalahnya, mbak! Dari tiga temen yang nyalonin diri itu, mayoritas temen sekelas nggak sreg! Jadi ditolaklah pencalonan mereka!”

“Lho, kok bisa…? Terus maunya mayoritas temen sekelas adek apa dong?! Kan sudah bener prosesnya, yang nyalon ngajuin diri!” sela Dinda.

“Prosesnya emang sudah bener, mbak! Tapi mayoritas temen-temen nggak mau milih mereka! Yang milih ya cuma yang nyalon aja! Lainnya abstain!”

“Jadi maunya temen-temen adek itu apa?!”

“Mereka nyuruh adek jadi ketua kelas! Tapi kan adek nggak nyalonin diri! Wali kelas punya hak veto, jadi dia bilang adek nggak bisa jadi ketua kelas karena nggak nyalon! Disitulah mayoritas temen-temen pada protes tadi itu, mbak! Yang suaranya rame bener!” kata Gilang.

“Sudah tau gitu, kenapa adek nggak nyalonin diri?!” tanya Dinda.

“Adek nggak minat jadi ketua kelas makanya nggak nyalon, mbak? Lagian ini kan sekolah baru, jadi adek mau adaptasi dulu dengan lingkungan sekolah!” ucap Gilang.

“Tapi kan adek diminta jadi ketua kelas, itu amanah lho! Nggak boleh adek sepelein gitu aja! Jadi akhirnya tadi gimana?!”

“Wali kelas ngajak kami berunding, mbak? Tiga temen yang nyalon, ditambah adek, diajak ngomong di ruang kerjanya!”

“Terus hasilnya gimana?!” sela Dinda.

“Ketiga temen yang nyalon ngotot kalo mereka berhak jadi ketua kelas! Masing-masing minta adek ngondisiin temen-temen buat milih salah satu dari mereka!”

“Jadi sudaah selesai dong masalahnya…?!”

“Nggak juga, mbak! Pas adek sampein ke temen-temen di kelas, mereka tetep ngotot nggak mau, kecuali adek yang jadi ketua kelas! Saran wali kelas juga nggak mereka terima!” kata Gilang.

“Terus gimana akhirnya?!”

“Kami berunding lagi! Masalah baru muncul; ketiga temen yang nyalon tadi bersepakat untuk pindah kelas kalo salah satu diantaranya nggak kepilih jadi ketua kelas! Adek sampein ke temen-temen di kelas, tetep mereka keukeuh nggak mau juga! Jadi akhirnya wali kelas ambil keputusan; mereka bertiga pindah ke kelas lain dan adek didaulat jadi ketua kelas!” urai Gilang.

“Kok sampe segitunya sih, dek? Mestinya kan nggak gitu juga keputusannya! Yang namanya berunding itu kan cari langkah yang sama-sama enak! Win-win solution! Saling menghargai dan menghormati! Kalo ginikan ada yang tersakiti; yaitu ketiga temen yang nyalonin diri itu!” tukas Dinda.

“Berunding yang elok dan elegan emang mestinya bisa saling lega hati, sama-sama enak, mbak! Tapi kan nggak semua hasil perundingan mesti muasin semua pihak juga! Masalahnya, adek sendiri kan nggak nyiapin diri jadi ketua kelas, apa saran mbak?!”

“Iya juga sih, dek! Dalam soal berunding, emang sulit muasin semua pihak! Apalagi kalo emosi yang diduluin! Saran mbak buat adek sederhana aja; terapin kepemimpinan yang mulat laku jantraning samudra!”

“Apa pula pola kepemimpinan itu, mbak? Baru denger adek!”

“Itu ilmu kepemimpinan ajaran nenek moyang yang dikenal dengan sebutan Hasta Brata, dek! Artinya mulat laku jantraning samudra itu; seorang pemimpin harus meneladani lautan yang luas, datar di permukaan, serta berwarna biru menyejukkan!” kata Dinda.

“Konkretnya kayak mana, mbak?!” sela Gilang.

“Pemaknaannya, seorang pemimpin harus punya cinta kasih yang tulus pada semua yang dipimpinnya! Dengan gitu, pemimpin itu akan dicintai dengan tulus pula oleh yang dipimpinnya! Dan yang adek perlu tahu; kalo kita jadi pemimpin yang welas asih sama yang kita pimpin, dalam hal berunding pun kita nggak akan dipandang sebelah mata! Karena teman berunding kita pasti sudah ngukur dimensi kepemimpinan kita bagi yang kita pimpin, sebelum perundingan dimulai!” tutur Dinda sambil menepuk-nepuk bahu Gilang. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *