Soal Bontot

“ANEH lho adek ini! Nyampe rumah langsung makan! Kan bawa bontot sih ke sekolahnya?” kata Dinda melihat Gilang tergopoh-gopoh ke meja makan sesampai di rumah, petang tadi.

“Ya bawa bontot sih, mbak? Cuma kan nggak kenyang, jadi nyampe rumah sudah laper lagi!” sahut Gilang sambil mengambil piring.

“Kan bawa bekelnya banyak! Nasinya banyak, lauknya banyak, tambah buah jeruk juga! Masak nggak kenyang juga!”

“Tadi sih kenyang, tapi sekarang sudah laper lagi, mbak!” ucap Gilang sambil mulai makan.

“Kok bisa? Berarti nggak abis dong bontotnya?!” sela Dinda.

“Abis, mbak! Bahkan bersih kok tupperware-nya! Nggak ada sisa walo sebutir nasi pun!”

“Terus kenapa adek kayak kelaperan gini?!” tanya Dinda.

“Kan nggak makan sendiri, mbak?! Beberapa temen adek kan nggak bawa bekel dari rumahnya! Jadi adek ajak mereka makan bareng!” kata Gilang.

“Oh gitu, dek! Mestinya ya adek makan duluan, baru adek sisihin buat temen!”

“Nggak enaklah, mbak! Enakan makannya bareng-bareng! Seru tau, mbak! Lagian, dengan gitu, temen-temen jadi deket sama adek!”

“Tapi ya nggak gitu juga kali, dek! Jangan karena pengen temen-temen tetep deket terus ngerugiin diri sendiri?!” kata Dinda.

“Adek nggak ngerasa dirugiin kok, mbak! Malahan seneng! Kita kan nggak bisa hidup sendirian! Sebab, dengan sendirian dan tanpa berinteraksi dengan sesama, kita akan jadi manusia lemah, tak berdaya, dan nggak ada temen yang kasih nasihat!” sahut Gilang.

“Mulai deh, ceramah dan berfalsafah?!” ketus Dinda.

“Bukan gitulah, mbak! Sebagai ketua kelas, adek kan harus menyatu dengan semua temen di kelas! Nggak boleh jaga jarak, apalagi sok-sok-an dan mentang-mentang! Sebab, Allah menyayangi seseorang yang mengenal kemampuannya dan tidaklah kekuasaan atau jabatannya menjadikan dia melampaui batas!” ucap Gilang.

“Wah, makin ngisi aja omongan adek sekarang ya? Urusan bontot aja larinya kemana-mana!”

“Nggak gitulah, mbak! Apapun itu kan harus bisa kita kemas bermanfaat secara lahiriyah dan batiniyah! Ada sentuhan dimensi ke-makhlukan dan ke-Ilahian! Apalagi soal bontot, terang benderang kok pemanfaatan barokahnya!”

“Maksudnya apa, dek?!” tanya Dinda.

“Begini lho, mbak? Hidup di dunia ini kan fana! Yang hakiki itu di alam sana! Nah, buat nyaman dalam kehidupan nantinya, kita perlu nyiapin bekel dari alam sekarang! Kayak kita bawa bontot ke sekolah setiap hari! Jadi, jangan makan sendiri! Tetep harus mau berbagi! Ikhlas aja lakuinnya sebagai bagian dari ibadah kita! Nanti juga apa yang kita bagi akan jadi bontot di alam sana!” jelas Gilang.

“Wah, jauh sekali nariknya, dek! Urusan bontot dan makan bareng temen aja dikalkulasiin sebagai ibadah?”

“Ya harus gitu, mbak! Dan yang penting, dilakuin dengan iklhas! Kalau berbagi bontot karena berharap dapet keuntungan, itu ibadahnya pedagang! Kalau niatnya berbagi karena rasa takut, itu ibadahnya para budak!”

“Kalau berbaginya karena ikhlas dan sebagai rasa syukur, gimana dek?!” sela Dinda.

“Ibadahnya orang yang ikhlas dan sebagai rasa syukur adalah ibadahnya orang merdeka, mbak! Nah, adek ingin selalu jadi orang yang merdeka! Makanya, berbagi bontot nggak ada masalah! Toh, sampe rumah bisa langsung makan lagi!” tutur Gilang sambil terus mengunyah makanannya. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *