4 views

Soal Adaptasi

“ADEK bingung, mbak! Tadi diajak kakak-kakak kelas main futsal! Setelah mikir-mikir, adek nggak mau!” kata Gilang, tadi sore.

“Lho, kenapa nggak mau, dek? Kan adek emang suka futsal? Malahan ikut klub di luar sekolah?!” sahut Dinda terheran.

“Adek kan anak baru, mbak! Adek heran kok kakak-kakak kelas ngajak main futsal? Emang tau dari mana kalo adek bisa futsal ya?!”

“Justru itu kesempatan, dek! Penghargaan itu buat adek! Mungkin diantara kakak kelas itu ada yang pernah liat adek main futsal kali! Harusnya tadi adek ikutin aja ajakan kakak-kakak kelas itu?”

“Ya adek kaget, heran, dan bingung aja sih, mbak? Kok ndadak diajak main futsal sama kakak kelas! Mana adek kan belum kenal semua?! Cuma ada satu dua aja yang tau namanya!” kata Gilang.

“Mestinya adek pede-pede aja! Ikutin aja! Kan nggak ada ruginya?!” sela Dinda.

“Ya nggak bisa gitu juga, mbak! Wong adek aja kaget dan bingung pas diajak main?!”

“Iya juga sih, semua perlu adaptasi, dek! Perlu penyesuaian! Bukan cuma ngenal tapi juga mahami karakter! Adek harus kenal sama kakak-kakak kelas pemain futsal itu dulu! Pelajari karakter dan permainannya! Jadi, begitu adek ngerasa siap untuk main, bisa empan papan!”

“Maksudnya empan papan itu apa, mbak?!” tanya Gilang.

“Empan papan itu artinya dapat menempatkan diri, dek! Prosesnya ya dimulai dari adaptasi! Mengenali, memahami, melenturkan diri, menyatu dengan lingkungan yang akan kita masuki! Kalo adek sudah bisa adaptasi dengan baik, baru bisa pas dalam tempatin diri!” jelas Dinda.

“Oh gitu, terus nempatin diri aja kan nggak jaminan bisa diterima dengan baik, mbak? Wong adek anak bawang?!”

“Nggak salah itu, dek! Emang nggak bisa kita sudah merasa nempatin diri sebaik-baiknya akan disambut dengan baik pula! Tetep ada aja yang nggak suka, yang jelous, yang iri! Itu mah biasa! Namanya juga kehidupan, dek! Apalagi urusannya dalam permainan futsal! Suasana persaingannya kan keliatan bener!”

“Nurut mbak, adek nantinya harus gimana?!” tanya Gilang lagi.

“Sederhana aja kok, dek! Setelah beradaptasi dengan baik dan cermat, lakuin aja lima langkah kesadaran!” ucap Dinda.

“Apa pula itu, mbak?!”

“Yaitu sadar ruang, sadar bentuk, sadar gerak, sadar peran, dan sadar waktu, dek! Adek yang cermat betul dalam jalanin lima kesadaran itu! Mbak yakin, adek bisa cepat masuk dalam tim futsal sekolah kita!”

“Haduuuh, nggak mudeng deh adek, mbak! Nggak mudah lho nempatin diri dan lakuin lima kesadaran itu! Masak urusan mau main futsal aja ngejelimet gini ajarannya?!” sela Gilang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Adek, permainan futsal itu cuma satu sisi dari cerita kehidupan! Filosofinya bisa mengajarkan banyak hal buat kehidupan itu sendiri! Makanya pahami betul ajaran nenek moyang; ora gumunan, ora kagetan, lan ora umuk!” ujar Dinda.

“Maksudnya, mbak?!”

“Jadi orang itu jangan mudah heran, jangan mudah terkejut, dan jangan sombong! Itu maksudnya, dek! Ajaran ini akan nguatin langkah adaptasi! Pengenalan atau penyesuaian-penyesuaian! Karena sesungguhnya, kita semua -sadar atau tidak- suka atau tidak- selalu perlu beradaptasi!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *